Kyai Sadrach dan Fondasi Gereja Kristen Kerasulan Jawa: Akar Tiga Sinode GKJ
YOGYAKARTA, 05 Maret 2026 — Dalam sejarah Kekristenan pribumi di Jawa, nama Kyai Sadrach Surapranata (1835–1924) menempati posisi yang sangat menentukan. Ia bukan sekadar penginjil Jawa yang berhasil memenangkan banyak pengikut, melainkan peletak dasar Gereja Kristen Kerasulan Jawa—sebuah model gereja pribumi yang kemudian menjadi akar lahirnya tiga sinode Gereja Kristen Jawa.
Dalam kajian sejarah gereja, pelayanan Kyai Sadrach kerap disebut sebagai Gereja Kristen Kerasulan Jawa atau Gereja Kristen Kerasulan Sadrach. Istilah ini bukan menunjuk pada nama sinode resmi, melainkan menggambarkan pola gereja kerasulan pribumi: gereja yang dipimpin oleh orang Jawa sendiri, kontekstual dengan budaya lokal, dan bertumbuh mandiri dari struktur misi Barat. Sejarawan gereja seperti Claude Guillot dan Th. van den End mencatat bahwa pendekatan Kyai Sadrach inilah yang memungkinkan Kekristenan berakar kuat di tengah masyarakat Jawa tanpa kehilangan identitas budayanya.
Model gereja kerasulan tersebut mula-mula hidup dalam komunitas Golongane Wong Kristen Kang Mardika, sebuah gerakan rohani Kristen Jawa yang menekankan kebebasan iman, kesetiaan pada Injil, serta tanggung jawab jemaat dalam membangun persekutuan. Dari komunitas inilah jaringan jemaat Kristen Jawa mulai bertumbuh di wilayah Purworejo, Kebumen, hingga Yogyakarta.
Salah satu murid dan pengikut setia Kyai Sadrach dalam fase Gereja Kristen Kerasulan Jawa adalah Sahat Salmon Singoredjo, seorang petani sekaligus tukang kayu dari Purworejo. Bersama istrinya, Priskilah Wagiyem, Sahat dibaptis pada 1878 di Karangjoso dan aktif mengikuti kumpulan gedhe—ibadah raya yang dipimpin langsung oleh Kyai Sadrach. Dalam persekutuan inilah ia menyerap ajaran kunci tentang kesatuan Tubuh Kristus, yang kerap disampaikan Kyai Sadrach melalui simbol sapu lidi: rapuh jika sendiri, kuat ketika disatukan.
Dari Gerakan Kerasulan ke Organisasi Gereja
Seiring bertambahnya jumlah jemaat, gerakan kerasulan tersebut kemudian dilembagakan dalam Pasamoean Kristen Djawi. Arsip zending Belanda dan dokumen gereja Jawa mencatat bahwa Pasamoean Kristen Djawi menjadi wadah penting bagi konsolidasi jemaat-jemaat hasil pelayanan Kyai Sadrach dan para muridnya. Dari rahim organisasi inilah, melalui proses sejarah dan penataan gereja pada abad ke-20, lahir tiga sinode gereja yang secara historis merupakan kelanjutan langsung dari fondasi Gereja Kristen Kerasulan Jawa, yaitu:
- Gereja Kristen Jawa (GKJ)
- Gereja Kristen Jawa Tengah Utara (GKJTU)
- Gereja Kristen Jawa Tengah Selatan (GKJTS)
Ketiga sinode tersebut berdiri di atas prinsip-prinsip yang diwariskan Kyai Sadrach: penginjilan pribumi, kepemimpinan lokal, kemandirian gereja, serta persekutuan jemaat yang kuat.
Sahat Singoredjo, Penghubung Dua Zaman
Dalam fase transisi dari gereja kerasulan menuju gereja sinodal, peran Sahat Singoredjo menjadi sangat signifikan. Setelah Kyai Sadrach wafat pada 1924, Sahat tetap aktif melayani dalam Pasamoean Kristen Djawi di Purworejo. Sejak 1934, ia membentuk kelompok Gereformeerde di Jambean dengan menjadikan rumahnya sebagai tempat ibadah. Penggembalaan jemaat dilakukan oleh para guru Injil seperti R. Moeljono, Siswowiroyo, Prawiroharjo, Dwidjosewojo, Djasmin, dan Soedibjowaloejo.
Sebagai warisan konkret, sebidang tanah keluarga Sahat kemudian dihibahkan kepada jemaat untuk pembangunan gedung gereja dan pastori. Langkah ini menandai peralihan dari persekutuan rumah-ke-rumah menuju gereja yang terorganisasi, tanpa meninggalkan semangat kerasulan Kyai Sadrach.
Warisan yang Bertahan Lintas Generasi
Warisan Gereja Kristen Kerasulan Jawa berlanjut lintas generasi dalam tubuh GKJ, GKJTU, dan GKJTS. Putra Sahat, Josaphat Darmohatmojo (1899–1984), tercatat melayani sebagai pendeta Pasamoean Kristen Djawi Purworejo dan kemudian menggembalakan GKJ di Yogyakarta. Generasi berikutnya melahirkan tokoh-tokoh gereja di Surakarta dan Yogyakarta, menunjukkan kesinambungan pelayanan dari akar kerasulan menuju gereja sinodal modern.
Sejarah mencatat bahwa kekuatan utama Kyai Sadrach bukan semata pada jumlah pengikutnya, melainkan pada fondasi gereja pribumi yang ia bangun. Dari Golongane Wong Kristen Kang Mardika, Pasamoean Kristen Djawi, hingga lahirnya GKJ, GKJTU, dan GKJTS, jejak Gereja Kristen Kerasulan Jawa tetap hidup dan menjadi salah satu pilar penting dalam sejarah Kekristenan Indonesia.
Penulis: Romo Kefas
Foto: ilustrasi Gambar
Keterangan: Artikel ini disusun berdasarkan kajian sejarah gereja Jawa, arsip sinode, dan tradisi jemaat.


