KETIKA IMAN LEBIH BERHARGA DARIPADA KEHIDUPAN Belajar dari Para Kudus dan Panggilan Kristus untuk Menghidupi Belas Kasih
Peringatan Orang Kudus dan Renungan Kitab Suci – 26/13 Juni 2026
“Allah tidak mencari umat yang hanya pandai menjalankan ritual, tetapi hati yang setia, penuh kasih, dan rela taat kepada-Nya sampai akhir.”
Setiap hari dalam kalender Gereja Ortodoks bukan sekadar penanda waktu, melainkan undangan untuk memasuki kisah nyata tentang iman yang hidup. Para kudus yang diperingati bukanlah tokoh legenda, melainkan saksi Injil yang membuktikan bahwa kasih kepada Kristus lebih berharga daripada kenyamanan, kehormatan, bahkan nyawa mereka sendiri.
Pada hari ini Gereja mengenang tiga pribadi yang berasal dari latar belakang yang sangat berbeda—seorang anak perempuan, seorang uskup, dan seorang janda bangsawan. Namun ketiganya dipersatukan oleh satu hal: mereka menyerahkan seluruh hidup kepada Kristus.
Janasuci Martir Aquilina: Kesetiaan yang Tidak Dapat Dipatahkan
Di usia ketika sebagian besar anak masih menikmati masa bermain, Janasuci Martir Aquilina dari Byblos telah menjadi pewarta Injil.
Ia dengan berani menceritakan Kristus kepada teman-temannya meskipun mengetahui bahwa iman Kristen sedang dikejar oleh penguasa Romawi pada masa Kaisar Diokletianus. Ancaman, siksaan, dan bujukan untuk menyembah berhala tidak mampu menggoyahkan keyakinannya.
Tradisi Gereja mencatat bahwa setelah mengalami penyiksaan yang sangat berat, ia dikuatkan oleh pertolongan Allah. Pada akhirnya ia menerima mahkota kemartiran melalui hukuman pancung.
Kehidupan Aquilina mengingatkan bahwa kedewasaan rohani tidak ditentukan oleh usia, melainkan oleh kedalaman iman. Seorang anak pun dapat menjadi saksi Kristus ketika hatinya dipenuhi kasih kepada Tuhan.
Janasuci Triphyllius: Hikmat yang Dipersembahkan untuk Injil
Berbeda dengan Aquilina, Janasuci Triphyllius dikenal sebagai seorang intelektual.
Ia memperoleh pendidikan hukum yang tinggi di Romawi dan memiliki masa depan yang cemerlang. Namun setelah mengenal Kristus dan menjadi murid Janasuci Spyridon, ia memilih menggunakan kepandaiannya bukan demi kehormatan pribadi, melainkan untuk menggembalakan umat.
Sebagai Uskup Leucosia di Siprus, ia dikenal karena khotbah-khotbahnya yang mendalam, kehidupannya yang rendah hati, dan berbagai mukjizat yang memperkuat iman umat.
Melalui dirinya, Gereja menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dan iman bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Ketika dipersembahkan kepada Allah, kecerdasan menjadi sarana untuk melayani dan membangun sesama.
Janasuci Alexandra: Dari Kemewahan Menuju Kekudusan
Janasuci Alexandra, yang lahir dengan nama Agatha Melgunova, memiliki segala sesuatu yang diimpikan dunia: kekayaan, kedudukan, dan kehidupan yang nyaman.
Namun setelah mengalami pengalaman rohani yang mendalam, ia memilih meninggalkan semua kemewahan itu demi mengikuti panggilan Allah.
Ia mendirikan Biara Diveyevo, yang kemudian berkembang menjadi salah satu pusat kehidupan rohani Ortodoks di Rusia dan memiliki hubungan erat dengan pelayanan Janasuci Seraphim dari Sarov.
Keputusan Alexandra menunjukkan bahwa kekayaan terbesar bukanlah apa yang dimiliki seseorang, tetapi kepada siapa hidup itu dipersembahkan.
Misteri Keselamatan yang Melampaui Pikiran Manusia
Dalam Roma 11:25–36, Rasul Paulus mengajak umat merenungkan kedalaman rencana Allah.
Keselamatan bukanlah hasil kecerdasan manusia ataupun hak istimewa suatu bangsa, melainkan karya kasih karunia Allah yang melampaui segala pengertian.
Paulus menutup perenungannya dengan pujian:
“Betapa dalamnya kekayaan, hikmat, dan pengetahuan Allah!” (Roma 11:33)
Ayat ini mengajarkan bahwa tidak semua jalan Allah dapat dipahami saat ini. Namun orang percaya dipanggil untuk tetap mempercayai bahwa Ia sedang mengerjakan rencana keselamatan-Nya dengan sempurna.
Belas Kasih Lebih Utama daripada Formalitas
Dalam Injil Matius 12:1–8, Yesus menghadapi kritik karena para murid memetik bulir gandum pada hari Sabat.
Jawaban-Nya mengungkap inti kehidupan rohani:
“Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan.” (Matius 12:7)
Kristus tidak sedang menolak hukum Allah, tetapi mengembalikan makna sejatinya. Aturan-aturan rohani diberikan agar manusia semakin mengasihi Allah dan sesama, bukan menjadi alasan untuk menghakimi.
Karena itu, selama masa Puasa Para Rasul, Gereja mengingatkan bahwa puasa bukan hanya soal makanan yang dihindari, tetapi juga tentang hati yang dibersihkan dari kesombongan, kemarahan, iri hati, dan penghakiman.
Puasa tanpa kasih hanyalah rutinitas.
Ibadah tanpa belas kasihan hanyalah formalitas.
Sebaliknya, kasih yang lahir dari hati yang bertobat adalah persembahan yang berkenan kepada Allah.
Refleksi
Janasuci Aquilina mengajarkan keberanian.
Janasuci Triphyllius mengajarkan hikmat yang melayani.
Janasuci Alexandra mengajarkan penyerahan total kepada Allah.
Sementara bacaan Kitab Suci hari ini mengingatkan bahwa seluruh kehidupan orang percaya harus berakar pada dua hal: mempercayai hikmat Allah yang melampaui akal manusia dan menghidupi belas kasih yang diajarkan Kristus.
Ketika iman diwujudkan dalam kasih, pengharapan, dan kesetiaan, hidup kita pun menjadi kesaksian yang memuliakan Tuhan.
Kiranya melalui doa para kudus dan oleh kasih karunia Kristus, kita dimampukan untuk hidup setia, rendah hati, dan penuh belas kasih, sehingga dalam setiap langkah kehidupan, nama Tuhan senantiasa dimuliakan. Amin.


