Tokoh Kristen Nusantara
Disusun oleh: Kefas Hervin Devananda
Sulit memastikan secara pasti sejak kapan Kekristenan pertama kali hadir di wilayah Nusantara. Sejumlah penelitian sejarah menunjukkan bahwa agama Kristen sudah dikenal di wilayah ini sejak abad ke-7, khususnya di daerah Barus di pantai barat Sumatera Utara. Catatan sejarah menyebutkan bahwa komunitas Kristen di wilayah tersebut kemungkinan berasal dari jaringan Kristen Nestorian dari Timur Tengah yang datang melalui jalur perdagangan internasional (Aritonang & Steenbrink, 2008).
Bahkan beberapa sumber menyebutkan bahwa pada pertengahan abad ke-7 telah berdiri episkopat Suriah di Sumatra, yang menunjukkan adanya hubungan gerejawi antara komunitas Kristen di Nusantara dengan Gereja Timur di Asia Barat (Latourette, 1945).
Babak baru perkembangan Kekristenan terjadi ketika bangsa Portugis datang ke Maluku pada abad ke-16. Melalui kegiatan misi Katolik, banyak masyarakat Maluku yang memeluk agama Kristen, khususnya di wilayah Ambon dan sekitarnya (Ricklefs, 2008).
Kemudian pada abad ke-17, kedatangan Belanda dengan tradisi Protestan Kalvinis membawa perubahan besar. Banyak komunitas Katolik yang kemudian beralih menjadi Protestan di bawah pengaruh pemerintahan kolonial Belanda. Dari Maluku, Kekristenan mulai menyebar ke Pulau Jawa melalui para serdadu Kristen Maluku yang ditempatkan di Batavia, Semarang, dan Surabaya (Aritonang, 2004).
Menjelang akhir abad ke-17 jumlah orang Kristen di Jawa diperkirakan mencapai sekitar 5.000 orang, meskipun laporan para misionaris menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil yang aktif mengikuti kebaktian gereja (Steenbrink, 2003).
Namun demikian, pada masa VOC kegiatan penginjilan bukan menjadi prioritas utama pemerintah kolonial. Misi Kristen lebih difokuskan pada wilayah-wilayah bekas pengaruh Portugis seperti Maluku, Minahasa, dan Timor, sementara kehidupan gereja di Pulau Jawa lebih banyak terbatas pada komunitas Eropa (Ricklefs, 2008).
Di tengah situasi tersebut muncul sosok yang kemudian dikenal sebagai salah satu pelopor Kekristenan di Jawa, yaitu Coenrad Laurens Coolen.
Babat Alas Ngoro dan Lahirnya Desa Kristen Jawa
Coenrad Laurens Coolen lahir di Semarang sekitar tahun 1773–1785. Ayahnya berdarah campuran Rusia dan Belanda, sedangkan ibunya seorang perempuan Jawa. Latar belakang ini membuat Coolen sejak kecil hidup di antara dua dunia budaya yang berbeda (Guillot, 1985).
Dalam masa mudanya ia pernah bekerja sebagai pelukis, kemudian menjadi tentara artileri di Surabaya. Di kota ini pula ia menikah dengan seorang perempuan Belanda dan memiliki lima orang anak (Guillot, 1985).
Perjalanan hidupnya berubah ketika ia keluar dari dinas militer dan bekerja sebagai sinder blandong (pengawas hutan) di daerah Mojoagung, Jawa Timur.
Pada awal abad ke-19 wilayah ini merupakan daerah yang relatif terbengkalai. Banyak desa yang ditinggalkan penduduk karena pemerintah kolonial lebih memprioritaskan pembangunan kawasan pantai utara Jawa (Ricklefs, 2008).
Melihat kondisi tersebut, Coolen mengajukan izin kepada pemerintah kolonial untuk membuka lahan di hutan Ngoro sekitar tahun 1827–1829.
Di usia sekitar 40 tahun, ia berhasil membuka lahan pertanian seluas 142 hektar. Alih-alih membangun perkebunan besar, Coolen justru mendirikan sebuah desa pertanian yang dihuni oleh masyarakat Jawa (Aritonang, 2004).
Pada tahun 1834, jumlah penduduk desa tersebut telah mencapai:
- 100 lelaki dewasa
- 28 remaja
- 122 perempuan
Mereka tinggal di sekitar 12 gubuk sederhana. Hanya setahun kemudian jumlah penduduk meningkat hingga sekitar seribu orang (Guillot, 1985).
Sebagai pemimpin desa, Coolen dikenal sangat terbuka. Ia menikah dengan perempuan Jawa bernama Saijah karena istrinya di Surabaya tidak bersedia tinggal di pedalaman.
Menariknya, Coolen juga memberi ruang bagi warga Muslim untuk beribadah. Menurut catatan dalam buku Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia, warga desa yang beragama Islam bahkan dipersilakan mendirikan masjid dan tidak dipaksa untuk menjadi Kristen (Aritonang, 2004).
Mengabarkan Injil Melalui Budaya Jawa
Salah satu hal yang membuat Coolen unik adalah pendekatannya dalam menyampaikan ajaran Kristen.
Ia sangat memahami budaya Jawa, termasuk tradisi tembang, cerita wayang, dan simbol-simbol spiritual lokal. Dalam berbagai pertemuan di pendopo rumahnya, Coolen sering menggunakan kisah-kisah budaya Jawa untuk menjelaskan ajaran Injil kepada penduduk desa (Nortier, 1991).
Coolen bahkan memimpin kebaktian sendiri dan membangun tempat ibadah bagi warga.
Namun pendekatannya berbeda dengan misionaris Eropa. Ia tidak menghapus unsur kepercayaan lokal masyarakat Jawa, tetapi mencoba mengintegrasikan simbol-simbol lokal dengan ajaran Kristen.
Dalam sebuah tembang yang dicatat oleh J. van den End dalam buku Ragi Carita, Coolen pernah memimpin doa ketika membuka sawah dengan menyebut Gunung Semeru, Dewi Sri, dan Yesus Kristus dalam satu rangkaian pujian (Van den End, 2001).
Pendekatan inkulturasi ini membuat ajaran Kristen lebih mudah diterima oleh masyarakat Jawa.
Kontroversi dengan Misionaris Barat
Namun metode Coolen menimbulkan kontroversi.
Pada tahun 1842, beberapa orang Kristen dari komunitas Wiung yang berhubungan dengan tokoh Kristen Surabaya Yohannes Emde mulai mempertanyakan ajaran Coolen (Guillot, 1985).
Emde mengajarkan Kekristenan yang lebih bercorak Barat dan menolak unsur-unsur kepercayaan lokal.
Perbedaan terbesar adalah soal baptisan. Coolen tidak segera membaptis para pengikutnya karena ia berpendapat bahwa baptisan akan membuat orang Jawa kehilangan identitas budaya mereka.
Sebaliknya, banyak pengikutnya justru ingin menerima baptisan resmi di Surabaya.
Konflik ini memuncak pada tahun 1844, ketika sejumlah besar warga Ngoro pergi ke Surabaya untuk dibaptis.
Sejak saat itu pengaruh Coolen mulai memudar.
Lahirnya Mojowarno
Sekitar tahun 1850, pusat perkembangan Kekristenan Jawa berpindah ke desa baru bernama Mojowarno.
Di tempat ini misionaris Belanda Jellesma menetap pada tahun 1851, bersama tokoh-tokoh Kristen Jawa seperti Abisai dan Paulus Tosari yang sebelumnya tinggal di Ngoro (Aritonang, 2004).
Mojowarno kemudian berkembang menjadi desa Kristen pertama di Jawa dan menjadi pusat perkembangan Gereja Kristen Jawi Wetan.
Warisan Sejarah Coolen
Coenrad Laurens Coolen meninggal pada tahun 1873. Pada masa akhir hidupnya ia tidak lagi memiliki pengaruh besar dan hidup sederhana di pedesaan Jawa.
Namun demikian, perannya dalam sejarah Kekristenan di Jawa tetap penting.
Ia menjadi salah satu tokoh yang memperkenalkan pendekatan inkulturasi, yaitu menyampaikan Injil melalui bahasa dan budaya lokal masyarakat Jawa.
Pendekatan ini kemudian diteruskan oleh tokoh-tokoh Kristen Jawa seperti:
- Kiai Sadrach
- Ibrahim Tunggul Wulung
Kisah Coolen menunjukkan bahwa penyebaran Kekristenan di Nusantara tidak selalu identik dengan kolonialisme Barat, tetapi juga melibatkan dialog budaya dan kreativitas lokal dalam memahami iman Kristen.
Daftar Sumber
Aritonang, Jan S. (2004). Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Aritonang, Jan S., & Steenbrink, Karel (2008). A History of Christianity in Indonesia. Leiden: Brill.
Guillot, Claude (1985). Kiai Sadrach: Riwayat Kristenisasi di Jawa. Jakarta: Grafitipers.
Latourette, Kenneth Scott (1945). A History of the Expansion of Christianity. New York: Harper & Brothers.
Nortier, C.W. (1991). De Messias van Java. Kampen: Kok.
Ricklefs, M.C. (2008). Sejarah Indonesia Modern 1200–2008. Jakarta: Serambi.
Steenbrink, Karel (2003). Catholics in Indonesia 1808–1942. Leiden: KITLV Press.
Van den End, Th. (2001). Ragi Carita: Sejarah Gereja di Indonesia 1500-1860. Jakarta: BPK Gunung Mulia.


