“HIDUPKU UNTUK TUHAN DAN SESAMA” Kisah Pdt. Dr. Petrus Octavianus, Anak Petani dari Rote yang Menjadi Bapak Gerakan Injili Indonesia
“Jika Tuhan dapat memakai seorang anak yatim dari Pulau Rote, maka Tuhan dapat memakai siapa saja untuk mengubah dunia.”
Kalimat itu seolah menggambarkan perjalanan hidup seorang tokoh besar Kekristenan Indonesia, Petrus Octavianus.
Dari sebuah desa terpencil di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, lahirlah seorang anak petani sederhana yang kelak dikenal sebagai pelopor gerakan Injili modern Indonesia, pendiri lembaga misi terbesar di Indonesia, pembicara dunia, sahabat para pemimpin bangsa, sekaligus bapak bagi puluhan ribu anak yatim dan kaum terpinggirkan.
Lahir pada 29 Desember 1928, Petrus Octavianus tumbuh dalam kemiskinan. Ayahnya meninggal ketika ia masih sangat kecil. Masa mudanya diwarnai perjuangan, keterbatasan, dan kerja keras untuk memperoleh pendidikan. Namun justru dari kesulitan itulah Tuhan membentuk karakter seorang pemimpin yang kelak mempengaruhi generasi demi generasi.
Dari Anak Yatim Menjadi Tokoh Dunia
Tidak banyak yang menyangka bahwa anak desa dari Rote ini kelak akan berdiri di forum-forum internasional, berkhotbah di berbagai negara, bahkan menjadi salah satu suara Indonesia dalam gerakan penginjilan dunia.
Pada tahun 1950-an, ketika banyak orang masih sibuk membangun kehidupan pribadi pasca kemerdekaan Indonesia, Petrus Octavianus justru mendengar panggilan yang berbeda.
Ia berkata:
“Hidupku untuk Tuhan dan sesama, menyelamatkan generasi masa depan bangsa.”
Kalimat ini kemudian menjadi semboyan hidupnya yang terkenal dan diwariskan kepada ribuan murid rohaninya.
Tahun 1959 ia mulai membangun fondasi pelayanan yang kemudian berkembang menjadi Institut Injil Indonesia, dan pada tahun 1960–1961 mendirikan Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia, sebuah lembaga yang menjadi pusat pendidikan, penginjilan, kebangunan rohani, pelayanan sosial, dan pengutusan misionaris ke seluruh Indonesia.
Membawa Nama Indonesia ke Panggung Dunia
Pelayanan Petrus Octavianus tidak berhenti di Indonesia.
Sepanjang hidupnya, ia melayani di lebih dari 80 negara di lima benua. Dalam setiap perjalanan, ia selalu membawa peta Indonesia, bendera Merah Putih, dan kain tenun Rote sebagai simbol kecintaannya kepada tanah air.
Namanya semakin dikenal ketika tampil sebagai pembicara dalam Lausanne Congress yang diprakarsai oleh penginjil dunia Billy Graham di Lausanne, Swiss. Kehadirannya di forum tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi gereja Indonesia.
Bahkan hubungan internasionalnya menjangkau para pemimpin dunia. Ia pernah menerima undangan pada peringatan 200 tahun kemerdekaan Amerika Serikat dan dikenal memiliki hubungan baik dengan berbagai tokoh global maupun nasional.
Sahabat Gus Dur dan Tokoh Bangsa
Di Indonesia, Pdt. Petrus Octavianus dikenal sebagai tokoh yang menjembatani berbagai kelompok masyarakat.
Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid, pernah mengunjungi kediamannya di Batu, Jawa Timur.
Dalam kesempatan itu, Gus Dur menyatakan bahwa Petrus Octavianus adalah contoh orang yang berjuang bagi sesama melalui keyakinan agamanya. Pernyataan tersebut menjadi pengakuan atas kontribusinya bagi bangsa dan kehidupan antarumat beragama di Indonesia.
Penginjil yang Tidak Hanya Berkhotbah
Bagi Petrus Octavianus, Injil bukan hanya untuk dikhotbahkan.
Injil harus diwujudkan.
Karena itulah ia mendirikan panti asuhan dan berbagai pelayanan sosial yang telah membina puluhan ribu anak dari berbagai suku, agama, dan latar belakang. Banyak di antaranya merupakan korban konflik sosial di Ambon dan Poso.
Baginya, kasih Kristus harus dirasakan oleh semua orang.
Ia pernah berkata:
“Pelayanan yang tidak menyentuh penderitaan manusia hanyalah teori tanpa kehidupan.”
Prinsip inilah yang membuat pelayanannya dihormati bukan hanya oleh orang Kristen, tetapi juga oleh masyarakat luas.
Warisan yang Tidak Akan Pernah Mati
Selama hidupnya, Petrus Octavianus menulis lebih dari seratus buku, mendirikan berbagai lembaga pelayanan, sekolah teologi, rumah sakit, panti asuhan, dan organisasi yang melahirkan ribuan pelayan Tuhan di seluruh Indonesia.
Namun warisan terbesar yang ia tinggalkan bukanlah bangunan atau organisasi.
Warisan terbesar itu adalah semangat.
Semangat untuk bermimpi besar bagi Indonesia.
Semangat untuk melayani tanpa pamrih.
Semangat untuk mengasihi tanpa membedakan.
Pada 30 Maret 2014, Pdt. Dr. Petrus Octavianus menutup mata untuk terakhir kalinya di Malang. Namun pengaruhnya tidak ikut dimakamkan.
Ia tetap hidup melalui ribuan murid yang diutusnya, jutaan jiwa yang disentuh pelayanannya, dan generasi yang terus menghidupi visinya.
Karena sesungguhnya, seperti semboyannya yang terkenal:
“Hidupku untuk Tuhan dan sesama, menyelamatkan generasi masa depan bangsa.”
Sebuah kalimat sederhana.
Namun kalimat itulah yang mengubah sejarah pelayanan Injili Indonesia.


