Di Balik Senyum Seorang Pelayan: Kesaksian Hidup Romo Kefas yang Dibentuk oleh Proses Tuhan
Berdasarkan penuturan narasumber kepada Redaksi, 22 Juni 2022
Bogor – Ada orang yang dikenal karena jabatannya. Ada pula yang dikenang karena karya-karyanya. Namun ada juga pribadi yang justru dipahami melalui perjalanan hidupnya. Bagi Romo Kefas, kehidupan bukanlah kisah tentang seberapa tinggi seseorang berdiri, melainkan tentang seberapa sering Tuhan menolongnya bangkit ketika jatuh.
Saat berbincang dengan redaksi pada 22 Juni 2022, tidak banyak cerita tentang keberhasilan yang ia kemukakan. Sebaliknya, ia lebih banyak mengenang proses panjang yang membentuk dirinya hingga menjadi seperti sekarang.
Lahir di Jakarta pada 22 Juni 1974 sebagai anak sulung dari tujuh bersaudara, Kefas Hervin Devananda tumbuh dalam keluarga sederhana. Sejak usia muda, ia memahami bahwa menjadi anak pertama berarti memikul tanggung jawab yang lebih besar. Pengalaman itu mengajarkannya arti pengorbanan, kerja keras, dan kepedulian terhadap keluarga.
Pendidikan diselesaikannya di SDN Bekasi Jaya Indah, SMP Ananda Bekasi, dan SMEA Patriot Bekasi. Di tengah berbagai keterbatasan, ia tidak pernah memandang keadaan sebagai alasan untuk berhenti bermimpi. Baginya, setiap kesulitan justru menjadi ruang pembelajaran yang membentuk karakter.
Panggilan melayani Tuhan mulai dirasakan ketika masih aktif dalam pelayanan pemuda di GKII El Shadday Bekasi. Kerinduan untuk mengenal firman Tuhan lebih dalam membawanya menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Teologi Victory Jakarta hingga meraih gelar Sarjana Teologi pada tahun 2012.
Namun, jalan hidupnya tidak hanya berada di lingkungan gereja. Ia memilih terjun ke dunia jurnalistik, sebuah profesi yang menurutnya memiliki misi yang sama dengan pelayanan, yaitu menghadirkan kebenaran di tengah masyarakat.
Kariernya dimulai dari Majalah Fire Magazine, kemudian berlanjut ke Tabloid Bersih dan Tabloid Pelita Kota. Pengalaman itu membentuk cara pandangnya bahwa sebuah berita bukan sekadar rangkaian kata, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada publik dan kepada Tuhan.
“Jurnalisme bukan hanya soal siapa yang paling cepat memberitakan, tetapi siapa yang tetap menjaga hati nurani ketika menulis,” tuturnya kepada redaksi.
Selain menjalani profesi sebagai wartawan, Romo Kefas juga aktif dalam berbagai organisasi sosial dan profesi. Ia pernah dipercaya memimpin PD PEWARNA Indonesia Jawa Barat, menjadi Ketua Presidium Masyarakat Kristen Bekasi, serta terlibat dalam berbagai kegiatan advokasi masyarakat. Baginya, iman harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang membawa manfaat bagi banyak orang.
Dalam percakapan itu, satu hal yang paling menonjol adalah cara Romo Kefas memaknai setiap proses kehidupan. Ia tidak pernah menganggap dirinya sebagai pribadi yang luar biasa. Justru ia merasa Tuhan memakai orang-orang biasa yang bersedia belajar dan tetap setia.
“Saya percaya Tuhan tidak sedang mencari orang yang hebat. Tuhan mencari orang yang mau dibentuk. Proses itu kadang tidak nyaman, tetapi di situlah karakter dibangun,” ujarnya.
Menurutnya, banyak orang ingin menikmati hasil, tetapi tidak semua bersedia menjalani proses. Padahal, kehidupan rohani yang matang tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari kesetiaan menjalani setiap musim kehidupan.
Di tengah kesibukannya sebagai pelayan Tuhan, jurnalis, dan aktivis sosial, keluarga tetap menjadi tempat ia kembali. Bersama istrinya, Tri Satini, dan putranya, Vickent Highlander, ia menemukan alasan untuk terus melayani tanpa kehilangan keseimbangan sebagai seorang suami dan ayah.
Percakapan dengan redaksi sore itu tidak dipenuhi kalimat-kalimat besar. Namun dari setiap cerita yang disampaikannya, tersirat keyakinan bahwa tidak ada pengalaman hidup yang sia-sia di tangan Tuhan.
“Saya tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tetapi saya percaya, selama Tuhan masih memberikan kesempatan hidup, berarti masih ada pekerjaan yang harus saya lakukan. Saya ingin hidup saya, sekecil apa pun, dapat menjadi saluran berkat bagi orang lain.”
Kesaksian hidup Romo Kefas mengingatkan bahwa panggilan bukan selalu berbicara tentang posisi atau jabatan. Panggilan adalah kesediaan untuk tetap berjalan bersama Tuhan, melayani sesama, dan memelihara integritas, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Barangkali itulah makna kehidupan yang sesungguhnya. Bukan tentang seberapa jauh seseorang melangkah, tetapi tentang bagaimana setiap langkah itu membawa terang bagi orang lain.
Disusun berdasarkan penuturan narasumber kepada Redaksi pada 22 Juni 2022.


