Kota Bogor – Sejarah pertumbuhan komunitas Kristen di tanah Jawa tidak selalu berjalan mulus. Pada abad ke-19, kemunculan komunitas Kristen di berbagai desa seperti Ngoro, Wiyung, Sidokare hingga Mojowarno sempat menimbulkan kecemasan di kalangan pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Pemerintah saat itu khawatir penyebaran agama Kristen di wilayah yang berdekatan dengan pesantren atau komunitas Muslim akan memicu konflik sosial. Namun kenyataan di lapangan justru berbeda.
Komunitas Kristen yang tumbuh di desa-desa tersebut dikenal hidup berdampingan dengan masyarakat sekitar. Mereka tidak menimbulkan kerusuhan, bahkan sering membantu masyarakat yang membutuhkan. Injil disampaikan bukan dengan tekanan, tetapi melalui kesaksian hidup sehari-hari.
Melihat kondisi yang relatif aman, pemerintah kolonial akhirnya melonggarkan larangan penginjilan. Pada masa Gubernur Jenderal JJ Rochussen (1845–1851), kebijakan yang sebelumnya melarang pekabaran Injil mulai dicabut. Kebijakan ini membuka jalan bagi lembaga-lembaga misi dari Eropa untuk bekerja di Hindia Belanda.
Salah satu tokoh yang datang pada masa itu adalah Pendeta Jelle Eelche Jellesma, yang kemudian berperan penting dalam perkembangan komunitas Kristen di Jawa Timur.
Peran Pendeta Jellesma
Kehadiran Jellesma memberikan dampak besar bagi komunitas Kristen lokal. Sebagai pendeta, ia memiliki wewenang untuk melayani baptisan, sesuatu yang sebelumnya sulit dilakukan karena orang harus pergi jauh ke Surabaya untuk dibaptis.
Di Sidokare ia membaptis 19 orang, sementara di Mojowarno sebanyak 56 orang menerima baptisan.
Selain itu, Jellesma juga membuka pendidikan teologi sederhana di rumahnya. Ia mengajarkan Kitab Suci, sejarah gereja, tafsir Alkitab, dogmatika, dan etika kepada para pemimpin komunitas Kristen Jawa.
Namun dalam perjalanannya mengunjungi berbagai komunitas, ia menemukan adanya perbedaan praktik keagamaan. Sebagian komunitas yang berasal dari Ngoro dan Wiyung masih dipengaruhi unsur mistik dan kepercayaan lokal.
Karena itu, Jellesma memilih menetap di Mojowarno yang dianggap lebih siap untuk membangun komunitas Kristen yang teratur.
Tokoh Penginjil Jawa
Di Mojowarno, Jellesma bertemu dengan dua tokoh penting dalam sejarah gereja Jawa, yaitu Kyai Tunggul Wulung dan Radin Abas yang kemudian dikenal sebagai Sadrah.
Kyai Tunggul Wulung sebelumnya adalah seorang priyayi Mangkunegaran bernama Tondokusumo. Ia pernah menjabat sebagai demang di Kediri dan terlibat dalam Perang Diponegoro (1825–1830).
Setelah perang berakhir, ia menjalani kehidupan sebagai pengembara. Ia sempat menggunakan nama Achmad Dullah dan mencari ketenangan batin hingga bertapa di Gunung Kelud.
Dalam perjalanan spiritual itulah ia merasa menemukan petunjuk tentang “ngelmu” baru yang kemudian membawanya bertemu dengan Coolen, seorang tokoh Kristen Jawa di Ngoro.
Dari sanalah ia mulai mempelajari ajaran Kristen.
Injil dengan Pendekatan Budaya Jawa
Coolen mengajarkan bahwa menjadi Kristen tidak berarti harus menjadi orang Belanda. Orang Jawa dapat tetap mempertahankan identitas budaya mereka.
Pendekatan ini sangat memengaruhi cara penginjilan Kyai Tunggul Wulung.
Ia mengajarkan Injil dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami masyarakat Jawa. Inti ajarannya adalah bahwa Gusti Yesus adalah Juruselamat yang menebus dosa manusia.
Bagi masyarakat Jawa yang akrab dengan pencarian spiritual, ajaran ini sangat menarik. Bahkan Yesus sering dipahami sebagai Ratu Adil, sosok penyelamat yang dalam tradisi Jawa diyakini akan datang membawa keadilan.
Melalui pendekatan tersebut, komunitas Kristen mulai tumbuh di wilayah sekitar Gunung Muria, termasuk Jepara, Pati, Kudus, dan desa-desa di sekitarnya.
Perbedaan dengan Misionaris Eropa
Pada saat yang sama, lembaga misi Belanda Doopsgezinde Zendings Vereniging (DZV) mengirim penginjil bernama Pdt. Pieter Janz ke Jepara pada tahun 1853.
Ia sempat bertemu dengan Kyai Tunggul Wulung. Namun perbedaan pendekatan membuat keduanya berjalan di jalur masing-masing.
Pdt. Janz menilai metode Tunggul Wulung terlalu dipengaruhi unsur mistik Jawa. Sebaliknya, Tunggul Wulung menganggap pendekatan misionaris Eropa terlalu keras dan kurang memahami budaya masyarakat Jawa.
Lahirnya Desa-Desa Kristen
Meski berbeda pendekatan, keduanya memiliki metode yang serupa, yaitu membangun komunitas Kristen melalui desa-desa baru.
Kyai Tunggul Wulung membuka hutan dan mendirikan desa Bondo, Banyutowo, dan Tegalombo. Di tempat-tempat tersebut berkembang komunitas Kristen Jawa.
Sementara itu, pihak misionaris Eropa membangun komunitas Kristen di Margorejo, Pati, dengan aturan yang cukup ketat seperti kewajiban sekolah bagi anak-anak, larangan poligami, candu, dan minuman keras.
Peran Sadrah
Tokoh lain yang penting adalah Radin Abas yang kemudian dikenal sebagai Sadrah.
Ia awalnya seorang santri yang mencari ilmu spiritual. Setelah bertemu dengan tokoh Kristen bernama Mr. Anting di Batavia, ia akhirnya dibaptis di Gereja Sion dan mengganti namanya menjadi Sadrah.
Setelah kembali ke Jawa Tengah, Sadrah menjadi salah satu tokoh penginjil yang berpengaruh dalam perkembangan kekristenan di wilayah Purworejo dan sekitarnya.
Akhir Perjalanan
Kyai Tunggul Wulung wafat pada Februari 1885. Kepemimpinan komunitas Kristen yang ia bangun kemudian diteruskan oleh cucunya, Ratiman.
Berbeda dengan kakeknya, Ratiman akhirnya menerima baptisan dan menyerahkan komunitas tersebut kepada lembaga misi DZV.
Pada tahun 1887 tercatat 368 orang dari tiga desa dibaptis oleh Pdt. Janz Junior. Peristiwa ini menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah perkembangan gereja di tanah Jawa.
Disusun oleh:
Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas)
Disadur dari berbagai sumber


