Filadelfianews.com
Setiap musim mudik tiba, saya selalu melihat sesuatu yang lebih dari sekadar perjalanan.
Orang-orang pulang dengan berbagai alasan. Ada yang ingin bertemu orang tua, ada yang ingin berkumpul dengan keluarga, ada yang sekadar ingin merasakan kembali suasana rumah.
Namun di balik itu semua, saya percaya—ada kerinduan yang Tuhan tanamkan di dalam hati manusia untuk kembali.
Kembali kepada kasih.
Kembali kepada kehangatan.
Kembali kepada “rumah”.
Dan tanpa kami sadari, kami pun pernah menjalani itu.
Kami memang tidak merayakan Idul Fitri. Namun setiap libur Lebaran, kami selalu pulang ke Karangpandan, Karanganyar—tepatnya di Dusun Geneng, tempat kelahiran istri saya.
Di sanalah kami belajar satu hal yang sederhana namun dalam:
bahwa kasih Tuhan seringkali dinyatakan melalui hal-hal kecil.
Melalui meja makan yang sederhana,
melalui tawa yang tulus,
melalui kehadiran orang tua yang setia menunggu.
Ibu dan Bapak mertua kami adalah gambaran kasih itu.
Mereka tidak banyak berkata-kata, namun kehadiran mereka menghadirkan damai. Rumah itu tidak pernah terasa kosong, karena ada kasih yang terus mengalir di dalamnya.
Kami datang bukan untuk merayakan hari raya.
Kami datang untuk mengalami kasih.
Hari-hari di sana berjalan apa adanya.
Tidak ada kemewahan. Tidak ada yang berlebihan.
Namun justru di situlah, hati kami dipenuhi.
Kami makan bersama, berjalan bersama, duduk tanpa tergesa, dan berbagi cerita sederhana. Dan tanpa kami sadari, itu semua adalah anugerah yang Tuhan izinkan kami alami.
Sampai akhirnya, tahun 2020 datang.
Tuhan memanggil pulang Bapak dan Ibu mertua kami.
Dan sejak saat itu, saya mulai memahami sesuatu yang lebih dalam—bahwa tidak semua yang kita kasihi akan tinggal selamanya di dunia ini.
Karangpandan masih ada.
Dusun Geneng tetap sama.
Rumah itu masih berdiri.
Namun suasananya telah berubah.
Tidak ada lagi kehadiran yang dulu membuat semuanya hidup.
Tidak ada lagi suara yang menyambut kami dengan hangat.
Dan di situlah, kerinduan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih sunyi.
Kadang kami pulang…
namun bukan lagi untuk berkumpul.
Kami pulang untuk berziarah.
Berdiri di depan makam, dalam keheningan, kami membawa rindu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Namun di tengah keheningan itu, Tuhan mengajar kami.
Bahwa kasih yang sejati tidak pernah hilang.
Ia tidak berhenti ketika seseorang tiada.
Ia tetap hidup—di dalam kenangan, di dalam hati, dan di dalam iman.
Firman Tuhan mengingatkan bahwa hidup ini hanyalah sementara, dan bahwa kita sedang berjalan menuju rumah yang kekal.
Dan perlahan saya mengerti—
Bahwa setiap kerinduan yang kami rasakan, sesungguhnya sedang diarahkan oleh Tuhan… untuk melihat lebih jauh dari sekadar dunia ini.
Kami tidak hanya merindukan mereka.
Kami sedang merindukan rumah yang Tuhan sediakan—
rumah di mana tidak ada lagi perpisahan,
tidak ada lagi kehilangan,
dan tidak ada lagi air mata.
Kini, setiap musim mudik datang, saya tidak lagi hanya melihat perjalanan pulang secara fisik.
Saya melihatnya sebagai perjalanan rohani.
Bahwa hati manusia diciptakan untuk kembali—
bukan hanya kepada kampung halaman,
tetapi kepada Tuhan sendiri.
Dan meskipun kampung halaman itu masih ada,
yang kami rindukan kini bukan hanya tempatnya,
melainkan kasih yang pernah Tuhan hadirkan di dalamnya.
Kerinduan itu tidak pernah hilang.
Namun kini, ia menjadi doa—
yang diam-diam mengarahkan hati kami…
untuk pulang kepada Tuhan.
Diceritakan oleh Romo Kefas kepada Redaksi.









