EKKLESIA, BUKAN ENTERTAINMENT
Ketika Gereja Berhenti Menjadi Penonton dan Kembali Menjadi Utusan Kristus
“Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Ekklesia-Ku, dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga…” — Matius 16:18–19
Ada satu pertanyaan yang layak direnungkan oleh setiap orang percaya:
Apakah gereja yang kita bangun hari ini masih mencerminkan Gereja yang Yesus dirikan?
Di banyak tempat, gereja berkembang dengan gedung yang megah, teknologi yang canggih, tata musik yang profesional, dan program-program yang menarik. Semua itu dapat menjadi sarana yang baik apabila digunakan untuk memuliakan Tuhan.
Namun persoalan muncul ketika sarana berubah menjadi tujuan.
Ketika gereja lebih sibuk menarik perhatian daripada membentuk murid, ketika kepuasan jemaat lebih diutamakan daripada pertumbuhan rohani, dan ketika ibadah berubah menjadi tontonan, maka gereja sedang menghadapi krisis identitas.
Yesus Tidak Berkata, “Aku Akan Mendirikan Pertunjukan”
Dalam Matius 16:18, Yesus berkata:
“Aku akan mendirikan Ekklesia-Ku.”
Menariknya, Yesus tidak menggunakan kata yang berarti bangunan ibadah atau organisasi keagamaan.
Ia memakai kata ekklesia.
Pada zaman Yunani-Romawi, ekklesia adalah sebuah sidang warga yang dipanggil keluar untuk menerima mandat pemerintahan dan menjalankan kepentingan sang raja di tengah masyarakat.
Mereka bukan penonton.
Mereka bukan konsumen.
Mereka adalah wakil kerajaan.
Karena itu, ketika Yesus menggunakan istilah ini, para murid memahami bahwa mereka dipanggil bukan sekadar menjadi kelompok yang berkumpul setiap minggu, melainkan menjadi komunitas yang membawa pemerintahan Allah ke dalam dunia.
Gereja Bukan Tempat Konsumsi Rohani
Salah satu tantangan terbesar gereja modern adalah munculnya budaya konsumen.
Banyak orang memilih gereja dengan pertanyaan seperti:
“Apakah musiknya sesuai selera saya?”
“Apakah khotbahnya menghibur?”
“Apakah fasilitasnya nyaman?”
Pertanyaan-pertanyaan ini memang tidak salah, tetapi tidak boleh menjadi ukuran utama.
Sebab ketika gereja dipandang seperti pusat hiburan, jemaat perlahan berubah menjadi pelanggan.
Jika pelayanan tidak lagi memuaskan, mereka berpindah.
Jika suasana tidak lagi menarik, mereka mencari tempat lain.
Padahal Yesus tidak memanggil murid-murid-Nya menjadi penikmat pelayanan.
Ia memanggil mereka untuk memikul salib dan mengikuti-Nya.
Kunci Kerajaan Adalah Lambang Tanggung Jawab
Sesudah berkata akan mendirikan Ekklesia, Yesus melanjutkan:
“Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga.”
Kunci bukan sekadar simbol akses.
Kunci adalah simbol otoritas dan tanggung jawab.
Artinya, gereja dipanggil menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah dunia.
Bukan hanya di ruang ibadah.
Tetapi juga di rumah.
Di tempat kerja.
Di dunia pendidikan.
Di dunia usaha.
Di pemerintahan.
Di mana pun orang percaya berada.
Gereja bukan hanya hadir untuk memenuhi bangku pada hari Minggu.
Gereja hadir untuk memengaruhi kehidupan pada hari Senin hingga Sabtu.
Alam Maut Tidak Akan Menguasainya
Sering kali ayat ini dipahami seolah-olah gereja hanya bertahan dari serangan iblis.
Padahal Yesus berkata:
“…alam maut tidak akan menguasainya.”
Dalam budaya Timur Dekat kuno, gerbang kota adalah pusat pemerintahan dan kekuasaan.
Gerbang tidak menyerang.
Gerbang bertahan.
Artinya, Ekklesia bukanlah komunitas yang bersembunyi dari dunia.
Ekklesia adalah umat Allah yang bergerak maju, membawa terang Kristus untuk meruntuhkan benteng dosa, ketidakadilan, kebohongan, korupsi, kekerasan, dan segala bentuk kegelapan.
Gereja dipanggil menjadi terang dunia dan garam bumi, bukan sekadar menjadi penonton yang nyaman di dalam gedung ibadah.
Dari Penonton Menjadi Murid
Salah satu indikator kedewasaan rohani adalah perubahan identitas.
Orang percaya tidak lagi datang ke gereja hanya untuk menerima.
Ia mulai bertanya:
“Bagaimana saya dapat melayani?”
“Bagaimana saya menjadi saksi Kristus di tempat kerja?”
“Bagaimana keluarga saya mencerminkan Kerajaan Allah?”
“Bagaimana hidup saya membawa damai, keadilan, dan kasih di tengah masyarakat?”
Inilah kehidupan Ekklesia.
Bukan sekadar hadir.
Tetapi diutus.
Bukan sekadar menikmati.
Tetapi menghidupi Injil.
Refleksi
Hari ini marilah kita bertanya kepada diri sendiri:
Apakah saya hanya menjadi pengunjung gereja?
Ataukah saya benar-benar hidup sebagai bagian dari Ekklesia Kristus?
Apakah kehadiran saya membawa pengaruh Kerajaan Allah di lingkungan tempat saya hidup?
Karena gereja bukan hanya tempat yang kita datangi.
Gereja adalah identitas yang kita hidupi.
Kesimpulan
Yesus tidak datang ke dunia untuk membangun komunitas yang hanya pandai menyelenggarakan acara.
Ia datang untuk membentuk Ekklesia—umat yang dipanggil keluar, diperlengkapi oleh Roh Kudus, dan diutus membawa pemerintahan Allah ke tengah dunia.
Ketika gereja kembali memahami identitasnya sebagai Ekklesia, keluarga akan dipulihkan, masyarakat akan diberkati, dunia kerja akan dipengaruhi oleh integritas, dan terang Kristus akan semakin nyata.
Setan tidak gentar terhadap gereja yang hanya pandai membuat pertunjukan. Yang ditakutinya adalah Ekklesia yang mengenal Rajanya, hidup di bawah otoritas-Nya, dan setia melaksanakan mandat-Nya.
Karena itu, pertanyaan terbesar bagi setiap orang percaya bukanlah, “Apakah saya rajin ke gereja?” melainkan, “Apakah saya hidup sebagai Ekklesia yang diutus Kristus?”
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Penulis: Ps. Welly Massie


