Matius: Dari Pemungut Cukai Menjadi Penulis Injil yang Mengubah Dunia
“Ketika Orang Berdosa Dipanggil Menjadi Saksi Kerajaan Allah”
Di antara dua belas murid Tuhan Yesus, Matius adalah salah satu sosok yang paling mengejutkan. Ia bukan nelayan sederhana seperti Petrus atau Yohanes. Ia juga bukan tokoh agama yang dihormati masyarakat.
Matius adalah pemungut cukai.
Pada zaman itu, profesi ini sangat dibenci oleh bangsa Yahudi karena dianggap bekerja sama dengan penjajah Romawi dan sering dikaitkan dengan ketidakjujuran.
Namun justru dari tempat yang dianggap paling rendah, Tuhan memanggil Matius dan mengubah hidupnya menjadi alat kemuliaan-Nya.
Kisah Matius adalah bukti bahwa kasih karunia Tuhan sanggup menjangkau siapa pun.
Pemungut Cukai yang Dibenci Masyarakat
Sebelum mengikuti Yesus, Matius bekerja sebagai pemungut cukai di Kapernaum.
Tugasnya adalah mengumpulkan pajak untuk pemerintah Romawi.
Karena sistem saat itu sering membuka peluang korupsi dan penindasan, para pemungut cukai dianggap sebagai pengkhianat bangsa dan orang berdosa.
Mereka dijauhi masyarakat dan dipandang najis secara sosial maupun rohani.
Namun di tengah penolakan itu, Yesus justru datang kepada Matius.
Dan Yesus berkata:
“Ikutlah Aku.”
Satu kalimat sederhana itu mengubah seluruh hidupnya.
Meninggalkan Meja Cukai demi Kristus
Alkitab mencatat bahwa setelah dipanggil Yesus, Matius segera bangkit dan mengikuti-Nya.
Ia meninggalkan meja cukainya.
Ini adalah keputusan besar.
Meninggalkan pekerjaan sebagai nelayan mungkin masih memungkinkan untuk kembali suatu hari nanti. Tetapi meninggalkan posisi pemungut cukai berarti meninggalkan karier, penghasilan besar, dan status yang sudah dimiliki.
Namun Matius rela meninggalkan semuanya demi Kristus.
Di sinilah terlihat inti pemuridan sejati:
Mengikuti Yesus berarti menyerahkan hidup lama untuk menerima hidup yang baru.
Yesus Datang bagi Orang Berdosa
Setelah menjadi murid, Matius mengadakan jamuan makan dan mengundang banyak pemungut cukai serta orang-orang yang dianggap berdosa.
Hal ini membuat kaum Farisi marah.
Mereka berkata:
“Mengapa gurumu makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa?”
Lalu Yesus menjawab:
“Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”
Jawaban ini sangat penting dalam teologi Kristen.
Keselamatan bukan diberikan karena manusia sudah sempurna, tetapi karena kasih karunia Allah kepada orang berdosa yang mau bertobat.
Yesus tidak membenarkan dosa, tetapi Ia datang untuk menyelamatkan manusia dari dosa.
Penulis Injil Matius
Tradisi Gereja mula-mula secara luas meyakini bahwa Matius adalah penulis Injil Matius.
Injil ini memiliki penekanan yang sangat kuat bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama.
Karena latar belakangnya sebagai orang yang terbiasa mencatat dan bekerja administratif, tulisan Matius sangat terstruktur dan penuh rujukan nubuat.
Dalam Injil Matius, Yesus digambarkan sebagai:
- Raja Kerajaan Surga
- Penggenapan nubuat para nabi
- Guru kebenaran
- Mesias yang dijanjikan Allah
Matius menunjukkan bahwa seluruh rencana keselamatan Allah mencapai puncaknya di dalam Kristus.
Pelayanan Matius Setelah Kenaikan Yesus
Menurut tradisi sejarah Gereja, setelah kenaikan Yesus dan pencurahan Roh Kudus, Matius memberitakan Injil ke berbagai wilayah.
Beberapa sumber kuno menyebut:
- Etiopia
- Persia
- Siria
- Wilayah Timur Tengah lainnya
Walaupun detail sejarahnya berbeda dalam beberapa tradisi Gereja, hampir semua sepakat bahwa Matius tetap setia memberitakan Injil sampai akhir hidupnya.
Mati Syahid Karena Injil
Tradisi Gereja mula-mula mencatat bahwa Matius akhirnya mati syahid karena kesetiaannya kepada Kristus.
Walaupun cara kematiannya berbeda-beda dalam beberapa catatan sejarah, inti kesaksiannya tetap sama:
Matius rela kehilangan nyawa demi Injil yang dahulu telah mengubah hidupnya.
Dari seorang pemungut cukai yang dibenci, ia berubah menjadi pemberita kabar keselamatan bagi dunia.
Perubahan Hidup Matius: Bukti Kasih Karunia Tuhan
Salah satu hal paling luar biasa dari kisah Matius adalah perubahan hidupnya.
Masyarakat mungkin melihat masa lalunya.
Tetapi Yesus melihat masa depannya.
Tuhan tidak memanggil Matius karena ia sudah suci.
Tuhan memanggilnya untuk diubahkan.
Dan inilah inti Injil:
Kasih karunia Tuhan mampu mengubah orang berdosa menjadi alat kemuliaan Allah.
Pelajaran Rohani dari Kehidupan Matius
1. Tidak Ada Masa Lalu yang Terlalu Gelap bagi Tuhan
Matius memiliki reputasi buruk di mata masyarakat.
Namun Yesus tetap memanggilnya.
Kasih karunia Tuhan lebih besar daripada masa lalu manusia.
2. Mengikuti Kristus Memerlukan Penyerahan Total
Matius meninggalkan meja cukainya.
Ia rela kehilangan kenyamanan demi mengikuti Yesus.
Iman sejati selalu melibatkan penyerahan hidup.
3. Injil Ditujukan bagi Orang Berdosa yang Mau Bertobat
Yesus datang untuk menyelamatkan manusia yang membutuhkan anugerah-Nya.
Kekristenan bukan tentang merasa paling suci, tetapi tentang menerima kasih karunia Tuhan dengan kerendahan hati.
Penutup
Matius memulai hidup sebagai pemungut cukai yang dibenci masyarakat.
Namun ketika ia bertemu Yesus, hidupnya berubah total.
Ia meninggalkan kehidupan lamanya dan menjadi murid Kristus, penulis Injil, serta pemberita Kerajaan Allah.
Kisah Matius mengingatkan bahwa Tuhan sanggup mengubah siapa pun.
Tidak peduli seburuk apa masa lalu seseorang, kasih karunia Kristus mampu membentuk hidup baru yang menjadi berkat bagi banyak orang.
Dan dari meja cukai yang penuh dosa, Tuhan membangkitkan seorang rasul yang tulisannya terus mengubahkan dunia sampai hari ini.
Catatan Kaki / Referensi
- Alkitab Terjemahan Baru LAI — Matius 9:9-13; Markus 2:13-17; Lukas 5:27-32.
- Eusebius of Caesarea, Ecclesiastical History.
- Papias — tradisi awal mengenai Injil Matius.
- Irenaeus, Against Heresies — catatan tentang penulisan Injil Matius.
- F.F. Bruce, The Twelve Apostles.
- The New Bible Dictionary, InterVarsity Press — pembahasan historis dan teologis tentang Rasul Matius.
- Keterangan Gb Menggunakan Teknologi AI


