KETIKA MIMBAR MENJADI TAKHTA: BAHAYA KEKUASAAN ROHANI YANG TAK MAU DIKOREKSI
Oleh: Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K. (Romo Kefas)
Filadelfianews.com Tidak sedikit orang Kristen yang beranggapan bahwa semakin besar sebuah gereja, semakin besar pula kebenaran yang dimilikinya. Semakin terkenal seorang pendeta, semakin benar pula setiap perkataannya. Semakin kaya seorang pelayan Tuhan, semakin dianggap diberkati dan berkenan di hadapan Allah.
Namun benarkah demikian?
Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa ukuran keberhasilan Kerajaan Allah identik dengan ukuran keberhasilan menurut dunia. Tuhan memang dapat mempercayakan kekayaan, pengaruh, dan pelayanan yang besar kepada seseorang. Tetapi Alkitab juga menunjukkan bahwa berkat bukanlah ukuran mutlak kedewasaan rohani.
Raja Salomo pernah menjadi manusia terkaya dan paling berhikmat pada zamannya, tetapi pada masa tuanya hatinya menyimpang dari Tuhan. Sebaliknya, nabi Amos hanyalah seorang penggembala sederhana ketika dipanggil Allah untuk menyampaikan suara kenabian kepada bangsa Israel. Yohanes Pembaptis tidak memiliki gedung megah, jabatan tinggi, ataupun kekayaan, namun Yesus menyebutnya sebagai pribadi yang luar biasa dalam sejarah penebusan.
Ini menunjukkan bahwa Tuhan bekerja melampaui ukuran-ukuran manusia.
Masalah besar yang sering muncul dalam pelayanan bukanlah kekayaan itu sendiri, melainkan ketika kekayaan dan keberhasilan melahirkan rasa tidak tersentuh oleh koreksi. Ketika seorang pemimpin rohani terlalu lama dipuji, terlalu jarang ditegur, dan terlalu sering dikelilingi oleh orang-orang yang hanya mengatakan hal-hal menyenangkan, perlahan ia dapat kehilangan kemampuan untuk mendengar suara kebenaran.
Di titik itulah bahaya mulai muncul.
Mimbar yang seharusnya menjadi tempat menyampaikan firman Tuhan dapat berubah menjadi panggung pencitraan. Pelayanan yang seharusnya memuliakan Kristus perlahan bergeser menjadi sarana membangun nama pribadi. Organisasi yang seharusnya menjadi alat Kerajaan Allah berubah menjadi kerajaan keluarga yang tidak boleh dipertanyakan.
Kritik dianggap pemberontakan.
Pertanyaan dianggap serangan.
Nasihat dianggap penghinaan.
Padahal Alkitab berkata, “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya” (Amsal 27:17). Artinya, pertumbuhan rohani tidak terjadi hanya melalui pujian, tetapi juga melalui koreksi yang benar.
Salah satu tanda kedewasaan rohani bukanlah kemampuan berkhotbah dengan hebat, melainkan kesediaan untuk dikoreksi ketika salah.
Ironisnya, banyak orang lebih mudah menerima nasihat dari pendeta terkenal dibandingkan dari seorang jemaat sederhana yang hidup dalam ketulusan. Seolah-olah kebenaran harus memiliki jabatan terlebih dahulu agar layak didengar.
Padahal dalam Alkitab, Tuhan sering memakai orang-orang yang dianggap kecil untuk menegur mereka yang besar. Nabi Natan menegur Raja Daud. Seorang budak perempuan menjadi alat Tuhan untuk membawa kesembuhan bagi Naaman. Bahkan seekor keledai pernah dipakai Tuhan untuk memperingatkan Bileam.
Kebenaran tidak menjadi benar karena diucapkan oleh orang terkenal.
Kebenaran tetap benar karena berasal dari Tuhan.
Karena itu gereja harus berhati-hati terhadap budaya mengkultuskan manusia. Menghormati hamba Tuhan adalah perintah Alkitab, tetapi menganggap seorang hamba Tuhan tidak mungkin salah adalah bentuk penyimpangan yang berbahaya.
Tidak ada pendeta yang terlalu besar untuk ditegur.
Tidak ada pemimpin yang terlalu tinggi untuk dinasihati.
Tidak ada pelayanan yang terlalu sukses untuk diperiksa integritasnya.
Semakin besar pengaruh yang dimiliki seseorang, semakin besar pula kebutuhan akan akuntabilitas. Sebab kekuasaan yang tidak diawasi sering melahirkan penyalahgunaan, sementara kerendahan hati yang hilang dapat menghancurkan pelayanan yang dibangun selama puluhan tahun.
Gereja masa kini tidak membutuhkan lebih banyak tokoh yang haus pujian. Gereja membutuhkan pemimpin yang takut akan Tuhan. Pemimpin yang tidak hanya mampu berbicara di depan mimbar, tetapi juga berani menangis di hadapan Tuhan ketika dikoreksi.
Sebab pada akhirnya, ketika semua gelar dilepaskan, semua jabatan berakhir, dan semua tepuk tangan manusia berhenti terdengar, Tuhan tidak akan bertanya seberapa besar gedung yang kita bangun atau seberapa banyak pengikut yang kita kumpulkan.
Tuhan akan melihat apakah kita tetap setia, tetap rendah hati, dan tetap hidup dalam kebenaran.
Karena Kerajaan Allah tidak dibangun di atas kebesaran manusia, melainkan di atas kemuliaan Kristus semata.
“Barangsiapa menyangka bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh.” (1 Korintus 10:12)


