Ketika Ambisi Duduk di Takhta Hati
“Masakan engkau mencari hal-hal yang besar bagimu sendiri? Janganlah mencarinya!” (Yeremia 45:5)
Ada satu dosa yang sering menyamar sebagai kebajikan.
Ia tidak selalu tampak buruk. Bahkan kadang dipuji sebagai semangat juang, motivasi berprestasi, atau hasrat untuk sukses. Ia mengenakan pakaian yang rapi, berbicara dengan bahasa yang meyakinkan, dan sering bersembunyi di balik alasan-alasan yang terlihat mulia.
Nama dosa itu adalah ambisi yang tidak ditaklukkan kepada kehendak Allah.
Ambisi semacam ini tidak selalu dimulai dengan niat jahat. Sering kali ia tumbuh perlahan di dalam hati yang mulai lebih mencintai pencapaian daripada ketaatan, lebih mengejar pengakuan daripada perkenanan Tuhan, dan lebih haus akan posisi daripada panggilan ilahi.
Pada titik tertentu, manusia tidak lagi bertanya, “Apa kehendak Tuhan?” tetapi mulai bertanya, “Bagaimana caranya aku mencapai apa yang kuinginkan?”
Di situlah ambisi mulai mengambil alih takhta hati.
Ketika Berkat Menjadi Berhala
Salah satu ironi terbesar dalam kehidupan rohani adalah bahwa sesuatu yang pada awalnya merupakan berkat dapat berubah menjadi berhala.
Jabatan yang dahulu diterima sebagai amanat Tuhan berubah menjadi alat meninggikan diri.
Pelayanan yang dahulu lahir dari kasih berubah menjadi panggung pencarian popularitas.
Keberhasilan yang dahulu diterima dengan ucapan syukur berubah menjadi alasan untuk merasa lebih unggul dari orang lain.
Manusia memiliki kecenderungan untuk mencintai pemberian lebih daripada Sang Pemberi.
Itulah sebabnya Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa ukuran keberhasilan seseorang adalah seberapa tinggi ia naik, melainkan seberapa setia ia berjalan bersama Tuhan.
Dalam perspektif Kerajaan Allah, kesuksesan terbesar bukanlah ketika nama kita dikenal banyak orang, tetapi ketika nama Tuhan dimuliakan melalui hidup kita.
Jalan Salib dan Jalan Ambisi
Yesus mengajarkan sesuatu yang sangat berbeda dari pola pikir dunia.
Dunia berkata:
“Naiklah setinggi mungkin.”
Kristus berkata:
“Barangsiapa ingin menjadi yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayan.” (Matius 20:26)
Dunia mengajarkan kompetisi.
Kristus mengajarkan pengorbanan.
Dunia mengajarkan pencitraan.
Kristus mengajarkan ketulusan.
Dunia mengajarkan cara memperoleh takhta.
Kristus mengajarkan cara memikul salib.
Inilah paradoks Injil.
Ketika dunia berlomba menjadi nomor satu, Yesus justru membasuh kaki murid-murid-Nya.
Ketika manusia mengejar mahkota, Kristus memilih mahkota duri.
Ketika banyak orang mencari kehormatan, Yesus menunjukkan bahwa kemuliaan sejati lahir dari ketaatan kepada Bapa.
Karena itu, orang percaya harus berhati-hati agar tidak membawa pola pikir dunia ke dalam kehidupan rohani.
Tidak semua yang besar menurut manusia besar di mata Tuhan.
Tidak semua yang terlihat berhasil adalah keberhasilan yang sejati.
Allah Tidak Membutuhkan Ambisi Kita untuk Menggenapi Rencana-Nya
Salah satu kesalahan terbesar manusia adalah berpikir bahwa rencana Tuhan bergantung pada ambisinya.
Padahal sejarah Alkitab menunjukkan sebaliknya.
Yusuf tidak mengejar istana Mesir.
Daud tidak merebut takhta Saul.
Daniel tidak membangun intrik politik untuk menjadi pejabat kerajaan.
Mereka tidak sampai pada posisi mereka karena ambisi pribadi, melainkan karena providensia Allah yang bekerja dalam hidup mereka.
Tuhan tidak pernah kesulitan mengangkat seseorang yang hidup dalam ketaatan.
Yang sering menjadi masalah justru ketika manusia berusaha mendahului waktu Tuhan.
Abraham melahirkan Ismael karena tidak sabar menunggu janji Allah.
Saul kehilangan kerajaan karena lebih takut kehilangan popularitas daripada kehilangan perkenanan Tuhan.
Banyak tragedi rohani lahir bukan karena Tuhan terlambat bekerja, tetapi karena manusia terlalu cepat mengambil alih pekerjaan Tuhan.
Ketenangan Orang yang Hidup dalam Kehendak Allah
Ada kedamaian yang tidak dimiliki oleh orang yang dikuasai ambisi.
Kedamaian itu hanya dimiliki oleh mereka yang hidup dalam kehendak Tuhan.
Mereka tetap bekerja keras, tetapi tidak diperbudak oleh pencapaian.
Mereka melayani dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak haus pujian.
Mereka berusaha dengan maksimal, tetapi tidak kehilangan sukacita ketika penghargaan tidak datang.
Mengapa?
Karena mereka tahu bahwa identitas mereka tidak ditentukan oleh posisi, jabatan, jumlah pengikut, atau pengakuan manusia.
Nilai hidup mereka sudah ditetapkan oleh kasih karunia Allah di dalam Kristus.
Mereka tidak perlu membuktikan diri kepada dunia, sebab mereka telah diterima oleh Tuhan.
Dari Ambisi Menuju Penyerahan
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting dalam hidup bukanlah:
“Seberapa besar yang berhasil saya capai?”
Melainkan:
“Apakah hidup saya menyenangkan hati Tuhan?”
Kerajaan Allah tidak dibangun oleh orang-orang yang terobsesi menjadi besar.
Kerajaan Allah dibangun oleh orang-orang yang bersedia taat.
Sebab Tuhan tidak mencari manusia yang ambisius untuk dirinya sendiri.
Tuhan mencari manusia yang rela berkata seperti Yesus di taman Getsemani:
“Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi.”
Ketika doa itu menjadi doa kita, ambisi tidak lagi duduk di takhta hati.
Kristuslah yang bertakhta.
Dan ketika Kristus bertakhta, kita tidak lagi hidup untuk mengejar kebesaran diri, melainkan untuk memuliakan Dia yang telah terlebih dahulu mengasihi dan menyelamatkan kita.
Sebab hidup yang paling berhasil bukanlah hidup yang mencapai semua impiannya, melainkan hidup yang menyelesaikan kehendak Allah atas dirinya.
Soli Deo Gloria.
Ev. Kefas Hervin Devananda, SH., S.Th., M.Pd.K.


