Filadelfianews.com Zaman hari ini sedang sakit oleh pencitraan. Banyak orang tidak lagi hidup untuk kebutuhan, tetapi untuk pengakuan. Media sosial menjadikan manusia berlomba tampil sempurna, meski kenyataannya hidup sedang tidak baik-baik saja.
Ada yang rela berutang demi gaya hidup. Ada yang memaksakan membeli barang bermerek agar dianggap “naik kelas.” Ada yang lebih takut terlihat sederhana daripada kehilangan damai sejahtera.
Ironinya, semakin banyak yang terlihat mewah di luar, semakin banyak pula yang diam-diam lelah di dalam.
Matius 6:19–21 mengingatkan sesuatu yang mulai dilupakan dunia modern: hidup manusia tidak ditentukan oleh apa yang dikumpulkan di bumi. Harta, gengsi, popularitas, dan pujian manusia semuanya bersifat sementara. Apa yang hari ini dipuja, besok bisa hilang tanpa sisa.
Namun manusia sering terjebak pada ilusi bahwa penampilan adalah segalanya.
Ada pribahasa Jawa yang sangat dalam:
“Aja kagetan, aja gumunan.”
Artinya: Jangan mudah silau dan mudah terpukau.
Kalimat sederhana ini sangat relevan di zaman sekarang. Banyak orang kehilangan arah hidup karena terlalu mudah silau melihat kehidupan orang lain. Mereka membandingkan diri, lalu memaksakan standar hidup yang sebenarnya tidak mampu mereka jalani.
Akibatnya, hidup bukan lagi soal kejujuran, tetapi soal pencitraan.
Tuhan Yesus mengajarkan bahwa hati manusia akan mengikuti di mana hartanya berada. Jika hati terus mengejar pengakuan dunia, maka hidup akan penuh kecemasan. Sebab dunia tidak pernah puas. Hari ini dipuji, besok dilupakan.
Itulah sebabnya kesederhanaan sekarang menjadi sesuatu yang langka. Dibutuhkan keberanian besar untuk hidup apa adanya di tengah budaya yang memaksa semua orang terlihat “wah.”
Kesahajaan bukan tanda kegagalan. Kesederhanaan bukan berarti rendah. Justru orang yang mampu hidup sederhana biasanya adalah orang yang sudah berdamai dengan dirinya sendiri.
Ada orang memakai pakaian mahal tetapi hidupnya penuh tekanan. Ada yang tampil biasa tetapi tidurnya tenang karena tidak hidup untuk membuktikan apa pun kepada siapa pun.
Pribahasa Jawa lain berkata:
“Nrimo ing pandum.”
Artinya: Belajar menerima dengan bijaksana apa yang Tuhan percayakan.
Maknanya bukan pasrah tanpa usaha, tetapi hidup dengan hati yang tidak rakus dan tidak diperbudak keinginan duniawi. Orang yang mampu bersyukur akan lebih mudah menikmati hidup daripada mereka yang terus mengejar validasi manusia.
Dunia mengukur nilai seseorang dari tampilan luar. Tuhan melihat isi hati.
Karena itu, jangan merasa kecil hanya karena hidup sederhana. Jangan memaksakan diri demi diterima lingkungan. Sebab harga diri manusia tidak ditentukan oleh merek yang dipakai, kendaraan yang dimiliki, atau tempat nongkrong yang dipamerkan.
Nilai manusia terletak pada karakter, kejujuran, dan ketulusan hidupnya.
Pada akhirnya, banyak hal yang dipamerkan dunia akan berakhir menjadi debu. Tetapi hati yang hidup dalam kebenaran akan memiliki damai yang tidak bisa dibeli dengan apa pun.
Beranilah hidup sederhana di tengah dunia yang haus pengakuan.
Sebab orang yang paling kaya bukan yang paling banyak memiliki,
melainkan yang paling mampu bersyukur atas hidupnya.
Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K.
alias Romo Kefas
