Ketika Mimbar Dipenuhi Suara Firman, Tetapi Kehidupan Kehilangan Keteladanan
Oleh: Ev. Kefas Hervin Devananda, SH., S.Th., M.Pd.K
Alias Romo Kefas
Filadelfianews.com – Di era modern ini, gereja tidak kekurangan orang pintar. Banyak yang mampu menghafal ayat, menjelaskan doktrin, bahkan berkhotbah dengan retorika yang mengagumkan. Mimbar dipenuhi kata-kata tentang integritas, kekudusan, kasih, dan takut akan Tuhan. Namun persoalan terbesar kekristenan hari ini bukan kurangnya khotbah, melainkan kurangnya keteladanan hidup.
Manusia sering kali terlihat rohani di depan publik, tetapi rapuh dalam karakter. Pandai berbicara tentang kekudusan, tetapi gagal menjaga hidup dalam kejujuran. Berani menegur dosa orang lain, tetapi diam-diam berkompromi dengan dosa yang tersembunyi di dalam dirinya sendiri.
Inilah yang oleh Rasul Paulus disebut sebagai perbudakan dosa.
Dalam Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma — 6:19, Paulus berkata:
“…demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan.”
Secara teologis, Paulus sedang menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya tidak pernah benar-benar netral. Manusia selalu menjadi hamba dari sesuatu: entah hamba dosa atau hamba kebenaran. Ketika dosa menguasai hidup, maka pikiran, perkataan, dan tindakan akan diarahkan kepada kehendak daging. Tetapi ketika seseorang hidup di dalam Kristus, ia dipanggil untuk hidup dalam proses pengudusan.
Pengudusan bukan sekadar perubahan perilaku luar, melainkan karya Roh Kudus yang mengubahkan natur manusia dari dalam. Karena itu kekristenan sejati bukan hanya aktivitas gerejawi, melainkan transformasi hidup.
Masalahnya, banyak orang ingin terlihat melayani tanpa mau mengalami kematian manusia lama. Mereka aktif di mimbar, tetapi gagal di dalam karakter. Keras berkhotbah tentang integritas, tetapi tidak jujur soal uang. Berbicara tentang kasih, tetapi hidup dalam iri hati dan kepentingan pribadi.
Padahal integritas bukan dibuktikan di depan mimbar, tetapi saat seseorang tetap takut akan Tuhan ketika tidak ada manusia yang melihat.
Dalam Injil Lukas — 16:10, Tuhan Yesus berkata:
“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.”
Ayat ini menunjukkan prinsip teologis yang sangat mendalam: kesetiaan kepada Tuhan selalu diuji melalui hal-hal kecil. Tuhan melihat bagaimana seseorang memperlakukan uang, menjaga perkataan, menghormati kepercayaan, dan hidup dalam kejujuran sehari-hari.
Sebab pelayanan tanpa integritas hanyalah pertunjukan rohani.
Ironisnya, banyak orang lebih sibuk membangun citra rohani daripada membangun kehidupan rohani. Mereka menjaga penampilan di depan jemaat, tetapi membiarkan hati dipenuhi ambisi, keserakahan, dan kepalsuan.
Inilah yang ditegur keras oleh Tuhan Yesus dalam Injil Matius — 23:27:
“Celakalah kamu… hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih…”
Secara teologis, kemunafikan adalah kondisi ketika penampilan luar tidak sesuai dengan keadaan batin. Dari luar tampak suci, tetapi di dalam penuh kebusukan moral dan dosa yang disembunyikan.
Kemunafikan rohani sangat berbahaya karena mampu menipu manusia, tetapi tidak pernah dapat menipu Tuhan. Gereja bisa terkagum-kagum pada penampilan pelayanan seseorang, tetapi Tuhan melihat motivasi terdalam dari hati manusia.
Karena itu Rasul Yakobus menegaskan dalam Surat Yakobus — 1:22:
“Hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja…”
Iman Kristen tidak berhenti pada pengetahuan teologi. Teologi yang benar harus melahirkan kehidupan yang benar. Sebab tujuan akhir dari pengenalan akan Tuhan bukan sekadar kecerdasan rohani, tetapi keserupaan dengan Kristus.
Inilah inti kekristenan sejati.
Dalam Surat Pertama Rasul Yohanes — 2:6 tertulis:
“Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.”
Artinya, orang percaya dipanggil bukan hanya untuk mengagumi Kristus, tetapi meneladani Kristus. Hidup dalam kasih, kerendahan hati, kejujuran, kesucian, dan ketaatan kepada Bapa.
Dunia hari ini tidak membutuhkan lebih banyak aktor rohani. Dunia membutuhkan saksi Kristus yang hidupnya benar-benar memantulkan karakter Tuhan.
Sebab khotbah paling kuat bukanlah yang keluar dari mimbar, tetapi yang terlihat melalui kehidupan sehari-hari.
Dan ketika gereja kehilangan integritas, dunia kehilangan alasan untuk percaya kepada pesan yang diberitakan gereja itu sendiri.
Karena itu, sebelum sibuk melayani di depan manusia, setiap orang percaya harus terlebih dahulu beres di hadapan Tuhan. Sebab pelayanan tanpa pertobatan hanya melahirkan kesombongan rohani, tetapi kehidupan yang sungguh diubahkan akan menjadi terang yang membawa banyak orang datang kepada Kristus.
Salam Sejahtera Sahabat…
Tuhan Yesus memberkati.
