Filadelfianews.com Salah satu kesalahpahaman terbesar dalam kehidupan rohani adalah anggapan bahwa Tuhan hanya dapat memakai orang-orang yang tidak pernah gagal. Banyak orang percaya hidup dalam rasa bersalah berkepanjangan karena masa lalu mereka. Mereka merasa terlalu kotor untuk dipulihkan, terlalu jauh untuk kembali, dan terlalu gagal untuk dipakai Tuhan.
Namun Yohanes 21:15–19 memperlihatkan Injil yang sesungguhnya: Kristus datang bukan untuk menghancurkan orang yang jatuh, melainkan untuk memulihkan mereka yang mau kembali kepada-Nya.
Petrus adalah contoh nyata.
Ia pernah menjadi murid yang begitu berani. Dialah yang mengakui Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup. Tetapi ironinya, Petrus juga menjadi murid yang menyangkal Yesus tiga kali pada malam penyaliban.
Kegagalan Petrus bukan sekadar kelemahan emosional. Secara rohani, itu adalah kegagalan serius. Ia menyangkal Sang Guru yang selama ini diikutinya. Dan setelah semuanya terjadi, Petrus sadar betapa rapuh dirinya.
Namun yang luar biasa adalah cara Yesus mendatangi Petrus setelah kebangkitan-Nya.
Yesus tidak membuka percakapan dengan penghukuman. Ia tidak berkata,
“Kenapa engkau mengkhianati Aku?”
atau
“Apakah engkau masih pantas menjadi murid-Ku?”
Sebaliknya, Yesus bertanya:
“Apakah engkau mengasihi Aku?”
Secara teologis, pertanyaan ini sangat dalam. Yesus sedang membawa Petrus kembali kepada fondasi utama iman Kristen: relasi kasih dengan Kristus. Kekristenan bukan pertama-tama soal kemampuan manusia mempertahankan dirinya tetap sempurna, melainkan tentang hidup yang berpaut kepada kasih Tuhan.
Keselamatan dalam iman Kristen bukan diperoleh karena manusia tidak pernah jatuh, tetapi karena anugerah Allah melalui karya penebusan Kristus. Namun anugerah itu bukan izin untuk hidup dalam dosa. Anugerah sejati selalu membawa pertobatan dan pembaruan hidup.
Itulah yang terjadi pada Petrus.
Tiga kali Yesus bertanya tentang kasih, seakan memulihkan tiga kali penyangkalan Petrus. Kristus tidak menghapus dosa dengan mengabaikannya, tetapi memulihkan Petrus melalui pengakuan kasih dan panggilan baru.
Lalu Yesus berkata:
“Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
Artinya, Tuhan tidak hanya mengampuni Petrus, tetapi juga mempercayakan pelayanan kepadanya kembali. Ini menunjukkan bahwa pemulihan dalam Kristus bukan sekadar penghiburan emosional, tetapi pemulihan identitas dan panggilan.
Ada banyak orang hari ini masih hidup di bawah bayang-bayang masa lalu. Mereka terus menghukum diri sendiri bahkan setelah Tuhan memberi pengampunan. Padahal salib Kristus membuktikan bahwa kasih karunia Tuhan lebih besar daripada kegagalan manusia.
Ada pribahasa Jawa yang sangat relevan:
“Gusti mboten sare.”
Artinya: Tuhan tidak pernah tidur.
Ketika manusia merasa hidupnya sudah rusak, Tuhan masih bekerja memulihkan. Saat seseorang merasa tidak layak, Tuhan masih membuka jalan pertobatan dan kasih karunia.
Namun pemulihan Petrus juga mengandung satu kebenaran penting: mengikut Kristus tetap memiliki harga. Yesus menubuatkan bahwa Petrus suatu hari akan menderita demi Injil. Artinya, kasih kepada Kristus bukan hanya soal emosi atau kata-kata, tetapi kesediaan hidup dalam ketaatan, bahkan di tengah penderitaan.
Inilah teologi pemuridan yang benar.
Mengikut Yesus bukan jalan menuju hidup tanpa masalah, melainkan panggilan untuk hidup setia di bawah anugerah Tuhan. Dan kesetiaan itu lahir dari kasih kepada Kristus.
Ada pribahasa Jawa lain yang sangat kuat:
“Urip iku urup.”
Artinya: Hidup harus menjadi terang dan membawa manfaat.
Petrus yang dahulu jatuh akhirnya dipakai Tuhan menjadi terang bagi banyak orang. Bukan karena ia sempurna, tetapi karena ia dipulihkan oleh kasih Kristus.
Karena itu, jangan biarkan kegagalan menjauhkanmu dari Tuhan. Datanglah kepada Kristus dengan hati yang hancur dan rendah. Sebab Tuhan tidak mencari manusia sempurna, melainkan hati yang sungguh mengasihi-Nya.
Dan kasih kepada Kristus selalu menjadi awal dari pemulihan yang sejati.
Sebab tangan Tuhan tidak pernah terlalu pendek
untuk menjangkau dan memulihkan hidup yang hancur.
Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K.
alias Romo Kefas
