Belajar Bersyukur Meski Hidup Tidak Selalu Mudah
Oleh: Ev. Kefas Hervin Devananda, SH., S.Th., M.Pd.K
Alias Romo Kefas
Filadelfianews.com – Tidak semua orang mampu menjalani hidup dengan senyum di wajahnya. Ada banyak orang yang sebenarnya sedang lelah, terluka, kecewa, bahkan hampir menyerah menghadapi kerasnya kehidupan. Di balik tawa yang terlihat, sering tersembunyi pergumulan yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun.
Ada yang setiap hari berjuang melawan sakit penyakit. Ada yang harus memikul beban ekonomi. Ada yang lelah menghadapi tekanan keluarga. Bahkan tidak sedikit yang harus hidup bersama pasangan yang terus mengeluh, mudah marah, dan seolah tidak pernah merasa cukup dengan apa yang sudah Tuhan berikan.
Ironisnya, manusia sering lebih mudah menghitung kekurangan daripada menghitung berkat Tuhan.
Sedikit masalah membuat hati gelisah. Sedikit kekurangan membuat mulut penuh keluhan. Padahal jika direnungkan dengan jujur, Tuhan masih begitu baik menjaga kehidupan sampai hari ini. Masih bisa bangun pagi, masih bisa bernapas, masih ada makanan untuk dimakan, masih ada rumah untuk pulang, bahkan masih ada orang-orang yang peduli dalam kehidupan kita.
Namun manusia sering lupa bahwa hidup ini sendiri adalah mukjizat.
Kita terlalu sibuk mengejar apa yang belum ada, sampai lupa mensyukuri apa yang sudah ada. Kita terlalu fokus pada luka, sampai tidak sadar Tuhan masih menopang langkah demi langkah kehidupan kita.
Padahal hidup ini seperti emas yang dimurnikan dalam api. Emas tidak langsung menjadi indah ketika ditemukan dari dalam tanah. Ia harus dibakar, dilebur, dan diproses dalam panas yang tinggi agar menjadi murni dan berharga.
Demikian juga manusia.
Tidak ada pribadi yang kuat tanpa air mata. Tidak ada iman yang dewasa tanpa ujian. Dan tidak ada hati yang bijaksana tanpa proses kehidupan yang keras.
Kadang Tuhan mengizinkan seseorang melewati sakit, kegagalan, penghinaan, bahkan tekanan rumah tangga bukan untuk menghancurkannya, tetapi untuk membentuknya menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih bergantung kepada Tuhan.
Firman Tuhan berkata dalam 2:14:
“Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan.”
Ayat ini sangat dalam maknanya. Sebab keluhan yang terus-menerus bukan hanya melelahkan diri sendiri, tetapi juga dapat menjadi racun bagi keluarga, pasangan, bahkan lingkungan sekitar.
Rumah tangga tidak hancur hanya karena kekurangan ekonomi. Banyak keluarga justru hancur karena kehilangan rasa syukur.
Ketika setiap hari yang keluar hanyalah kemarahan, tuntutan, dan keluhan, maka damai perlahan hilang dari dalam rumah. Anak-anak kehilangan kenyamanan. Pasangan kehilangan ketenangan. Dan rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang berubah menjadi tempat tekanan.
Padahal Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup tanpa masalah. Tetapi Tuhan menjanjikan kekuatan bagi mereka yang tetap berharap kepada-Nya.
Firman Tuhan dalam 40:31 berkata:
“Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.”
Artinya, kekuatan hidup bukan berasal dari hebatnya manusia, tetapi dari hati yang tetap percaya kepada Tuhan di tengah badai kehidupan.
Hidup ini juga seperti kapal di tengah lautan. Ombak pasti datang. Badai pasti ada. Tetapi kapal tidak tenggelam karena air di luar kapal. Kapal tenggelam ketika air masuk ke dalam kapal.
Begitu juga manusia.
Masalah di luar hidup mungkin besar, tetapi yang paling berbahaya adalah ketika hati dipenuhi racun keluhan, kepahitan, dan ketidakpuasan. Sebab saat hati sudah kehilangan rasa syukur, maka hidup akan terasa selalu kurang walaupun berkat Tuhan sebenarnya masih melimpah.
Karena itu, belajarlah bersyukur.
Bersyukur bukan berarti hidup sempurna. Bersyukur berarti percaya bahwa Tuhan tetap baik bahkan ketika keadaan belum baik-baik saja.
Jangan habiskan hidup hanya untuk mengeluh. Sebab waktu terus berjalan, usia terus bertambah, dan hidup terlalu berharga untuk dipenuhi kepahitan.
Jika hari ini masih bisa bernapas, itu mukjizat.
Jika hari ini masih bisa bangun pagi, itu anugerah.
Jika hari ini masih bisa bertahan, itu karena Tuhan belum meninggalkan kehidupan kita.
Firman Tuhan dalam 5:18 mengingatkan:
“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling kaya, paling hebat, atau paling sedikit masalah. Tetapi hidup adalah tentang siapa yang tetap memiliki iman, tetap menjaga hati, dan tetap bersyukur dalam segala keadaan.
Sebab orang yang kuat bukanlah orang yang tidak pernah jatuh, melainkan orang yang tetap memilih bangkit bersama Tuhan, walaupun berkali-kali terluka.
