FiladelfiaNews.com – Ada satu pertanyaan mendasar yang harus terus diajukan kepada setiap organisasi gereja: apakah kita masih berjalan di jalan Kristus, atau hanya sibuk membangun sistem atas nama-Nya? Sebab bahaya terbesar bukanlah dunia yang menolak Tuhan, melainkan umat yang mengaku mengenal-Nya tetapi kehilangan karakter-Nya.
Dalam ajaran Alkitab, kepemimpinan tidak pernah berdiri di atas ambisi, tetapi di atas panggilan dan karakter. Yesus Kristus menunjukkan model kepemimpinan yang radikal—kepemimpinan yang melayani, bukan menguasai.
“Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya…” (Markus 10:45)
Prinsip ini sejalan dengan konsep servant leadership, di mana pemimpin sejati tidak menempatkan diri sebagai pusat, melainkan sebagai pelayan yang membangun orang lain. Namun dalam Kristus, ini bukan sekadar teori—melainkan kehidupan yang nyata. Ia tidak hanya mengajarkan pelayanan, tetapi hidup di dalamnya.
Di tengah realitas organisasi gereja masa kini, sering muncul kontras yang tajam. Ketika struktur menjadi lebih penting daripada kasih, dan jabatan lebih dipertahankan daripada kebenaran, gereja berisiko kehilangan jati dirinya.
“Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.” (Matius 15:8)
Yesus juga memperlihatkan kepemimpinan transformasional—Ia tidak sekadar memberi arahan, tetapi mengubah hidup para pengikut-Nya.
“Ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” (Matius 4:19)
Transformasi ini lahir dari relasi, keteladanan, dan kedekatan, bukan dari tekanan atau ambisi kekuasaan.
Namun inti dari semua kepemimpinan Kristiani bukanlah metode, melainkan karakter.
Alkitab menegaskan karakter Kristus sebagai fondasi utama:
- Kerendahan hati
“Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati…” (Filipi 2:8)
Tanpa kerendahan hati, kepemimpinan berubah menjadi dominasi. - Kasih yang berkorban (agape)
“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya…” (Yohanes 15:13)
Kasih sejati selalu siap membayar harga. - Kesatuan dalam perbedaan
“Berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera.” (Efesus 4:3)
Kesatuan bukan berarti tanpa perbedaan, tetapi tetap mengasihi di dalamnya. - Integritas dan kebenaran hidup
“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” (Yohanes 14:6)
Pemimpin tidak hanya berbicara benar, tetapi hidup dalam kebenaran. - Penguasaan diri dalam konflik
“Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas…” (1 Petrus 2:23)
Karakter sejati terlihat saat tekanan datang.
Rasul Paulus kemudian memperkuat prinsip ini melalui konsep gereja sebagai satu tubuh:
“Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.” (1 Korintus 12:27)
Ini menegaskan bahwa tidak ada ruang bagi kesombongan atau polarisasi, karena setiap bagian saling membutuhkan.
Dalam konteks era digital, ujian kepemimpinan menjadi semakin nyata. Kata-kata yang diucapkan di ruang publik bukan hanya didengar oleh jemaat, tetapi juga menjadi cermin iman di hadapan dunia.
“Jangan ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun.” (Efesus 4:29)
Di sinilah gereja sering diuji: apakah ia tetap menjadi terang, atau justru ikut larut dalam pola komunikasi yang merusak? Ketika perbedaan berubah menjadi konflik terbuka, dan diskusi menjadi serangan personal, maka yang dipertaruhkan bukan hanya relasi—tetapi kesaksian iman itu sendiri.
Karena itu, pembaruan gereja tidak bisa dimulai dari luar, tetapi dari dalam—dari karakter para pemimpinnya. Teori kepemimpinan tanpa karakter Kristus hanya akan melahirkan sistem yang rapi tetapi kosong. Sebaliknya, karakter Kristus akan memberi kehidupan bahkan pada struktur yang sederhana.
Rasul Paulus memberikan standar yang jelas:
“Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus.” (1 Korintus 11:1)
Inilah kepemimpinan teladan—otoritas yang lahir dari kehidupan, bukan sekadar jabatan.
Akhirnya, gereja harus kembali pada pusatnya: salib.
“Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (Filipi 2:8)
Salib tidak pernah berbicara tentang kemenangan melalui kekuasaan, tetapi melalui pengorbanan. Jika gereja kehilangan semangat salib, maka ia mungkin tetap memiliki organisasi, tetapi kehilangan roh kehidupan.
Gereja tidak diukur dari seberapa besar strukturnya, tetapi dari seberapa nyata Kristus terlihat di dalamnya. Dan Kristus selalu terlihat bukan dalam ambisi, melainkan dalam kasih, kerendahan hati, dan kesetiaan sampai akhir.
Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, SH, S.Th, M.Pd.K
Jurnalis Senior, Penggiat Budaya dan Rohaniawan pada Sinode GPIAI


