FiladelfiaNews.com – Ada fase dalam hidup di mana kita tidak lagi berdoa dengan keyakinan, melainkan sekadar formalitas. Bukan karena kita tidak percaya, tetapi karena kita merasa semuanya sudah berakhir.
Kisah dan Lazarus bukan sekadar cerita mukjizat. Itu adalah cermin dari realitas terdalam manusia—tentang harapan yang mati, iman yang goyah, dan waktu yang terasa kejam.
Empat hari Lazarus berada dalam kubur bukan sekadar angka. Dalam budaya Yahudi, itu adalah titik tanpa kembali. Tubuh telah membusuk. Harapan telah dikubur. Tidak ada lagi kemungkinan.
Dan ironisnya— datang… setelah semuanya selesai.
Bagi manusia, itu keterlambatan.
Bagi YHWH, itu adalah momen kemuliaan.
Sering kali kita hidup dalam “hari keempat” kita sendiri:
- Doa yang tak kunjung dijawab
- Relasi yang hancur tanpa sisa
- Impian yang mati perlahan
- Harapan yang dikubur diam-diam
Kita mencoba bertahan, tapi jauh di dalam hati kita sudah berkata: “Sudah terlambat.”
Namun kisah Lazarus membongkar satu ilusi besar—bahwa waktu manusia bukanlah batas bagi YHWH.
Saat semua orang berhenti berharap, YHWH justru mulai bekerja.
Ketika batu kubur ditutup rapat, itu bukan akhir cerita—itu hanya panggung bagi kuasa-Nya dinyatakan.
Dan ketika berseru,
“Lazarus, keluarlah!”
itu bukan sekadar panggilan kepada orang mati—
itu adalah deklarasi bahwa tidak ada kondisi yang terlalu rusak bagi YHWH.
Renungan ini bukan sekadar penghiburan, tetapi sebuah konfrontasi iman:
- YHWH tidak tunduk pada timeline manusia
- YHWH tidak dibatasi oleh logika keadaan
- YHWH tidak pernah kehilangan kendali, bahkan saat kita merasa segalanya hilang
Mungkin hari ini kamu sedang berdiri di depan “kubur” dalam hidupmu sendiri.
Kamu melihat sesuatu yang dulu hidup—sekarang mati.
Kamu mengingat doa-doa lama yang kini terasa sia-sia.
Kamu mencoba percaya… tapi lelah.
Namun dengarlah ini:
YHWH tidak pernah datang terlambat.
Dia datang tepat ketika kemuliaan-Nya paling nyata.
Dan sering kali, itu terjadi… setelah harapan manusia benar-benar habis.
Karena iman sejati bukan tentang berharap saat masih ada kemungkinan,
melainkan tetap percaya saat tidak ada lagi alasan untuk percaya.
Doa
YHWH, di saat aku merasa semuanya telah berakhir,
ketika harapan telah dikubur dan imanku mulai goyah,
ajar aku untuk tetap percaya.
Tunjukkan bahwa Engkau tidak pernah terlambat,
dan bahwa kuasa-Mu melampaui segala batas waktuku.
Panggil kembali apa yang mati dalam hidupku,
dan nyatakan kemuliaan-Mu di tengah keterlambatanku.
Amin.
(rt / rgy | Editor: Tim Redaksi)


