Tangerang – FiladelfiaNews.com
Sejarah penyebaran agama Kristen di wilayah Banten tidak dapat dilepaskan dari peran komunitas kecil di Kampung Cikuya, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang. Dari kampung sederhana ini muncul sebuah keluarga lokal yang menjadi penggerak awal penyebaran Kekristenan di wilayah tersebut, yakni keluarga Sarma.
Menurut sejumlah catatan sejarah, Sarma merupakan warga pribumi yang bekerja sebagai mandor perkebunan pada pertengahan abad ke-19. Ia bersama seorang warga lain bernama Minggu menerima baptisan dari seorang pendeta Belanda yang datang dari Batavia sekitar tahun 1855. Peristiwa ini menjadi salah satu tonggak awal terbentuknya komunitas Kristen lokal di wilayah Tangerang bagian barat.
Sejarawan Claude Guillot dalam penelitiannya tentang sejarah Banten menyebut bahwa aktivitas misionaris di wilayah tersebut mulai berkembang ketika dua lembaga zending Belanda, yakni Genootschap voor In- en Uitwendige Zending (GIUZ) dan Nederlandsche Zending Vereeniging (NZV), mulai bekerja di Banten sejak pertengahan abad ke-19 hingga awal abad ke-20.
Catatan tersebut juga diperkuat dalam buku “Misionarisme di Banten” karya Mufti Ali, yang mengulas perkembangan misi Kristen di wilayah Banten antara tahun 1854 hingga 1942.
Pendidikan Kristen di Perkebunan
Pada masa itu, aktivitas misionaris sering kali terhubung dengan wilayah perkebunan. Di kawasan Kampung Jengkol, Desa Cikuya, didirikan sebuah sekolah kerohanian oleh pengusaha perkebunan Belanda bernama Reesink, bersama seorang mandor perkebunan bernama Adolf Muhlnickel.
Sekolah ini menjadi salah satu pusat pendidikan bagi anak-anak pribumi yang tertarik pada ajaran Kristen. Sarma kemudian menyekolahkan anaknya yang bernama Sondjat di tempat tersebut.
Menurut penelitian Guillot (2008), sekolah-sekolah zending seperti ini memainkan peran penting dalam memperkenalkan ajaran Kristen kepada masyarakat lokal di wilayah Banten dan Priangan.
Sondjat: Penginjil Lokal Berbahasa Sunda
Generasi kedua keluarga Sarma, yaitu Sondjat, kemudian menjadi tokoh penting dalam perkembangan komunitas Kristen Cikuya. Ia mengikuti pendidikan misionaris di Jatinegara (Batavia) dan menjalin hubungan dengan komunitas Kristen yang dipimpin oleh tokoh penginjil pribumi terkenal, F.L. Anthing.
Dalam catatan sejarah zending Belanda, Sondjat dikenal aktif mengembangkan pelayanan rohani dengan menggunakan bahasa Sunda, termasuk menggubah lagu-lagu rohani serta menulis ajaran Kristen dalam bahasa lokal agar mudah dipahami masyarakat.
Penggunaan bahasa daerah dalam pelayanan ini merupakan strategi yang banyak digunakan oleh para penginjil pribumi pada abad ke-19 untuk menjangkau masyarakat lokal.
Peran Esther dalam Mempertahankan Komunitas
Perjalanan misi keluarga Sarma kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya. Salah satu tokoh penting adalah Esther, anak perempuan Sondjat.
Dalam arsip Nederlandsche Zending Vereeniging (NZV) disebutkan bahwa Esther termasuk dalam kelompok perempuan yang diangkat sebagai tenaga pembantu kegiatan misionaris. Ia juga tercatat sebagai anggota Majelis Jemaat Concillium atau Padepokan Gereja Pasundan.
Mufti Ali dalam bukunya mencatat bahwa Esther dikenal sebagai perempuan yang cakap dalam berbicara dan berpengaruh di kalangan masyarakat. Berkat perannya, komunitas Kristen di Cikuya mampu bertahan meskipun sempat menghadapi tekanan dari beberapa pihak.
Penyebaran Hingga Tanah Pasundan
Melalui jaringan keluarga dan relasi pelayanan, pengaruh komunitas Kristen Cikuya kemudian meluas ke berbagai wilayah di tanah Pasundan.
Menantu Sarma bernama Arjan, bersama saudaranya Sarioen, membawa ajaran Kristen kepada komunitas Kristen di Panghareupan, Bogor. Sekitar tahun 1903, mereka juga memperluas pelayanan ke wilayah Ciranjang (Cianjur), Sukabumi, hingga beberapa daerah lain di Jawa Barat.
Jejak keturunan keluarga Sarma kemudian tercatat menyebar ke berbagai wilayah seperti Tasikmalaya, Sumedang, Rangkasbitung, Tanah Tinggi, dan Bandung.
Memudar Setelah Masa Pendudukan Jepang
Meski pernah memiliki pengaruh yang cukup kuat, komunitas Kristen Cikuya secara perlahan mengalami kemunduran. Sejumlah perubahan sosial dan politik pada masa pendudukan Jepang tahun 1942 menyebabkan banyak kegiatan misionaris terhenti.
Akibatnya, komunitas tersebut perlahan memudar dan tidak lagi terlihat sebagai kelompok yang terorganisir seperti pada masa sebelumnya.
Meski demikian, kisah keluarga Sarma tetap menjadi bagian penting dalam sejarah penyebaran Kekristenan di wilayah Banten dan tanah Pasundan.
Sumber Sejarah
- Mufti Ali, Misionarisme di Banten, Serang: IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.
- Claude Guillot, penelitian tentang sejarah Banten dan aktivitas zending di wilayah Banten (2008).
- Arsip Nederlandsche Zending Vereeniging (NZV) tentang kegiatan misionaris di Hindia Belanda.
- Arsip sejarah gereja dan misi di Batavia abad ke-19.
- Literatur sejarah zending Belanda di Hindia Belanda abad ke-19.
Dari berbagai sumber di sadur ulang oleh Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas)









