Tangerang – FiladelfiaNews.com
Tidak banyak yang mengetahui bahwa di wilayah perbatasan Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Lebak, Banten, pernah berdiri salah satu komunitas Kristen Sunda tertua di kawasan Tatar Pasundan. Komunitas tersebut dikenal sebagai Komunitas Kristen Cikuya, yang dahulu berkembang di Kampung Jengkol, Desa Cikuya, Kecamatan Solear.
Sejarawan Mufti Ali dalam bukunya Misionarisme di Banten menjelaskan bahwa komunitas ini kini hampir tidak meninggalkan jejak, karena sebagian besar anggotanya pada masa lalu berpindah ke wilayah Cianjur, Jawa Barat. Lokasi kampung yang dahulu menjadi pusat komunitas tersebut kini berada tidak jauh dari kawasan Perumahan Adhiyaksa.
Awal Mula dari Sekolah Zending
Kelahiran komunitas Kristen Cikuya berawal dari pendirian sebuah sekolah agama Kristen di wilayah perkebunan pada pertengahan abad ke-19. Sekolah tersebut didirikan oleh pemilik perusahaan perkebunan swasta bernama Reesink bersama mandornya Adolf Muhlnickel.
Melalui sekolah inilah ajaran Kristen mulai diperkenalkan kepada masyarakat setempat, termasuk kepada seorang tokoh lokal bernama Sarma, warga asli Cikuya yang bekerja di perkebunan tersebut.
Dalam catatan sejarah zending Belanda, Sarma bersama seorang warga Cikuya lainnya menerima baptisan sekitar tahun 1855, yang kemudian menjadi titik awal terbentuknya komunitas Kristen lokal di wilayah itu.
Sondjat Bin Sarma: Tokoh Penggerak Komunitas
Salah satu tokoh paling berpengaruh dalam perkembangan komunitas ini adalah Sondjat bin Sarma, putra dari Sarma. Ia merupakan murid dari penginjil pribumi terkenal pada abad ke-19, yaitu Friedrich Ludwig Anthing (F.L. Anthing) yang aktif melayani di Batavia.
Sondjat dikenal sebagai tokoh yang mengembangkan pelayanan Kristen dengan pendekatan budaya lokal. Ia menggunakan bahasa Sunda dalam kegiatan ibadah serta menggubah sejumlah lagu gereja ke dalam bahasa tersebut, sehingga ajaran Kristen lebih mudah diterima oleh masyarakat setempat.
Di masa pelayanannya, Sondjat juga mendirikan sebuah bangunan gereja sederhana di wilayah Cikuya. Namun bangunan tersebut kini telah hilang dan tidak lagi meninggalkan bekas fisik.
“Tanah Ki Sondjat”, Jejak yang Masih Dikenang
Walau gereja dan komunitasnya telah lama hilang, nama Sondjat masih tersimpan dalam ingatan masyarakat setempat.
Dalam penelitiannya, Mufti Ali mencatat bahwa masyarakat tua di Kampung Jengkol masih mengenal sebuah kawasan yang dahulu disebut “Tanah Ki Sondjat.”
Nama tersebut merujuk pada area ladang, kebun, dan sawah yang dahulu diyakini sebagai bagian dari wilayah yang berkaitan dengan keluarga Sondjat.
“Namanya masih dapat dilacak dalam memori orang-orang tua di Cikuya, karena diabadikan dalam sebuah nama tempat yang merujuk kepada komplek, ladang, dan sawah yang dahulu disebut Tanah Ki Sondjat,” tulis Mufti Ali dalam bukunya.
Esther Binti Sondjat dan Kepemimpinan Perempuan
Setelah wafatnya Sondjat pada 1923, kepemimpinan jemaat Kristen di Cikuya diteruskan oleh putrinya, Esther Binti Sondjat.
Esther dikenal sebagai perempuan yang memiliki kemampuan literasi yang baik serta aktif dalam kegiatan pendidikan. Pada 1921, ia mendirikan sebuah sekolah di Cikuya untuk masyarakat setempat.
Pada masa kepemimpinannya, komunitas Kristen Cikuya tercatat memiliki sekitar 41 jemaat, yang terdiri dari:
- 20 orang warga asli Cikuya
- 21 orang warga dari Desa Munjul yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari kampung tersebut.
Namun seiring berjalannya waktu, jumlah jemaat semakin berkurang.
Menurut kesaksian masyarakat setempat yang dicatat Mufti Ali, hingga sekitar 1945 Esther masih tinggal di Cikuya dan memimpin sisa jemaat kecil yang jumlahnya hanya sekitar empat hingga lima orang.
Memudar Saat Pendudukan Jepang
Keberadaan komunitas Kristen Cikuya mulai memudar ketika pendudukan militer Jepang di Indonesia pada tahun 1942. Pada masa itu, banyak kegiatan misionaris dihentikan dan sejumlah komunitas Kristen kecil mengalami kemunduran.
Akibatnya, komunitas Kristen Cikuya perlahan menghilang dan tidak lagi tercatat sebagai komunitas yang aktif.
Pengaruh Besar bagi Kekristenan Pasundan
Meski kini nyaris tidak tersisa, komunitas kecil ini ternyata memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap perkembangan Kekristenan di wilayah Pasundan.
Mufti Ali mencatat bahwa keluarga Sarma selama bertahun-tahun menjadi tulang punggung kegiatan misionaris di wilayah Banten dan sekitarnya. Anggota keluarga ini banyak yang menjadi asisten misionaris, pengajar, serta penggerak jemaat di berbagai daerah seperti:
- Sukabumi
- Tasikmalaya
- Sumedang
- Rangkasbitung
- Tanah Tinggi
- Bandung
Bahkan disebutkan bahwa dua pertiga anggota komunitas Kristen Rawa Selang di Cianjur, salah satu komunitas Kristen Sunda terbesar di Jawa Barat, berasal dari sembilan keluarga yang memiliki hubungan dengan keluarga Sarma dari Cikuya.
Dengan demikian, meskipun komunitas Kristen Cikuya kini hanya tinggal kenangan, perannya dalam sejarah penyebaran Kekristenan di wilayah Pasundan tetap menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah gereja di tanah Sunda.
Sumber Sejarah
- Mufti Ali, Misionarisme di Banten
- Claude Guillot, penelitian sejarah Banten dan zending Belanda
- Arsip Nederlandsche Zending Vereeniging (NZV)
- Catatan sejarah misi Kristen di Batavia abad ke-19
Disadur dan ditulis ulang oleh:
Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas)
dari berbagai sumber sejarah.









