FiladelfiaNews – Ketika membicarakan sejarah perkembangan Kekristenan di Nusa Tenggara Timur (NTT), banyak orang langsung mengingat para misionaris atau penginjil yang datang membawa Injil. Namun ada satu tokoh penting yang sering terlupakan, yaitu Isaac Esser.
Ia bukan seorang pendeta ataupun penginjil, melainkan seorang pejabat pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Meski demikian, perannya sangat besar dalam membuka jalan bagi masuknya pendidikan Kristen, pelayanan gereja, serta perubahan sosial di wilayah NTT.
Latar Belakang Isaac Esser
Isaac Esser lahir di Belanda pada tahun 1818. Ia memulai kariernya sebagai pegawai pemerintahan kolonial dan pertama kali datang ke Hindia Belanda pada tahun 1837, bertugas di Batavia.
Dalam pekerjaannya, Esser dikenal sebagai sosok yang disiplin, teliti, dan bertanggung jawab.
Pada tahun 1854, ia kembali ke Belanda karena istrinya sakit dan kemudian meninggal dunia. Peristiwa ini menjadi masa yang sangat berat dalam hidupnya sehingga ia sempat meninggalkan dunia pemerintahan untuk beberapa waktu.
Namun beberapa tahun kemudian, Esser kembali bertugas dan menerima penugasan baru di wilayah timur Hindia Belanda.
Menjadi Residen Timur
Pada tahun 1861, Isaac Esser diangkat sebagai Residen Timur. Wilayah yang dipimpinnya sangat luas, meliputi:
- Timor
- Rote
- Sabu
- Sumba
- Alor
- Flores
Sebagai residen, tanggung jawabnya bukan hanya urusan administrasi pemerintahan, tetapi juga stabilitas sosial masyarakat.
Berbeda dengan banyak pejabat kolonial pada masa itu, Esser memiliki perhatian besar terhadap kehidupan moral dan rohani masyarakat. Ia percaya bahwa pendidikan dan nilai-nilai Kekristenan dapat membawa perubahan bagi masyarakat.
Mendukung Pendidikan dan Penginjilan
Salah satu langkah penting yang dilakukan Isaac Esser adalah mengirim guru dan penginjil ke Pulau Sabu pada tahun 1862.
Ia juga mendorong didirikannya sekolah-sekolah sebagai sarana pendidikan masyarakat. Menurutnya, pendidikan merupakan pintu masuk untuk membentuk karakter dan memperkenalkan iman Kristen secara lebih mudah dipahami.
Selain itu, Esser mendukung pencetakan buku rohani berjudul “Jalan Keselamatan” dalam bahasa Sabu.
Untuk meningkatkan kualitas pendidikan, ia juga menghadirkan tenaga pengajar dari Ambon serta seorang guru asal Denmark.
Sikap Tegas Menentang Perbudakan
Pada masa itu, praktik perbudakan masih terjadi di beberapa wilayah NTT, terutama di Pulau Sumba. Bahkan praktik tersebut sering dianggap wajar menurut adat setempat.
Isaac Esser mengambil sikap tegas terhadap hal ini. Ia:
- Menolak menerima hadiah dari raja atau pemimpin adat yang masih mempraktikkan perbudakan.
- Menolak bertemu dengan pemimpin yang mempertahankan sistem tersebut.
Sikap ini menunjukkan keberanian moral yang jarang dimiliki pejabat kolonial pada zamannya.
Esser meyakini bahwa iman Kristen mengajarkan penghormatan terhadap martabat setiap manusia.
Tetap Melayani Setelah Tidak Menjabat
Setelah masa jabatannya berakhir pada tahun 1864, Esser kembali ke Belanda. Namun kepeduliannya terhadap NTT tidak berhenti.
Ia terus:
- Menulis surat kepada gereja-gereja di Belanda
- Mendorong pengiriman misionaris ke Pulau Sumba
- Menggalang dukungan dan dana untuk pelayanan Kristen di wilayah timur Indonesia
Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil ketika pelayanan zending mulai berkembang di wilayah tersebut pada tahun-tahun berikutnya.
Warisan Isaac Esser
Isaac Esser meninggal dunia pada 11 Oktober 1885 di Belanda. Walaupun tidak pernah kembali ke Indonesia, pengaruhnya tetap terasa dalam sejarah perkembangan Kekristenan di NTT.
Warisan yang ia tinggalkan meliputi:
- Dukungan terhadap pendidikan masyarakat
- Pembukaan jalan bagi pelayanan misionaris
- Perlawanan terhadap praktik perbudakan
- Kepedulian terhadap kehidupan rohani masyarakat
Kisah hidup Isaac Esser menunjukkan bahwa Tuhan dapat memakai siapa saja, bahkan seorang pejabat pemerintahan, untuk membawa terang dan perubahan bagi banyak orang.
Gambar : Teknologi AI


