FiladelfiaNews – Di tengah dunia yang semakin materialistis, keberadaan orang miskin sering kali dipandang hanya sebagai persoalan sosial atau statistik ekonomi. Banyak orang melihat kemiskinan sebagai masalah yang harus diselesaikan oleh pemerintah atau lembaga sosial. Namun bagi orang percaya, kemiskinan memiliki dimensi rohani yang jauh lebih dalam.
Alkitab dengan tegas mengingatkan umat Tuhan agar tidak melupakan mereka yang berkekurangan. Rasul Paulus menyampaikan pesan yang sederhana namun sangat penting: “Ingatlah orang-orang miskin.” (Galatia 2:10). Seruan ini bukan sekadar anjuran moral, tetapi merupakan panggilan iman bagi setiap pengikut Kristus.
Pertanyaannya adalah: jika Tuhan adalah Allah yang mahakuasa, mengapa Dia mengizinkan sebagian anak-anak-Nya hidup dalam kemiskinan?
Bukankah Dia mampu membuat semua orang hidup berkecukupan? Bukankah Tuhan sanggup mencurahkan kekayaan kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya?
Alkitab menyatakan bahwa seluruh bumi dan segala isinya adalah milik Tuhan. Pemazmur berkata, “Punya-Kulah dunia dan segala isinya.” (Mazmur 50:12). Bahkan disebutkan juga bahwa “Punya Dialah beribu-ribu hewan di gunung.” (Mazmur 50:10). Artinya, Tuhan memiliki kuasa penuh atas segala sumber daya di dunia ini.
Jika Dia berkehendak, Tuhan dapat membuka pintu kelimpahan bagi siapa saja. Dia mampu mengubah keadaan seseorang dari kekurangan menjadi berkelimpahan dalam sekejap.
Namun dalam hikmat-Nya yang sempurna, Tuhan kadang mengizinkan sebagian orang hidup dalam keterbatasan. Bukan karena Dia tidak peduli, dan bukan pula karena Dia tidak mampu menolong. Sebaliknya, di balik keadaan tersebut terdapat maksud ilahi yang sering kali tidak kita pahami.
Salah satu tujuan yang indah adalah agar kasih umat Tuhan dapat dinyatakan secara nyata.
Jika tidak ada orang yang membutuhkan pertolongan, maka kita tidak memiliki kesempatan untuk menunjukkan kasih secara praktis. Kita bisa berbicara tentang kasih, menyanyikan lagu tentang kasih, bahkan berkhotbah tentang kasih. Namun tanpa tindakan nyata, kasih itu hanya menjadi kata-kata.
Itulah sebabnya Alkitab menegaskan bahwa kasih sejati harus diwujudkan melalui perbuatan. Rasul Yohanes menulis, “Marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” (1 Yohanes 3:18).
Iman yang hidup selalu menghasilkan kepedulian terhadap sesama.
Kasih kepada Tuhan tidak hanya dinyatakan melalui ibadah di gereja, tetapi juga melalui sikap hati terhadap orang-orang yang menderita. Amsal bahkan berkata, “Siapa menindas orang lemah menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin memuliakan Dia.” (Amsal 14:31).
Sering kali kita berpikir bahwa pelayanan kepada Tuhan hanya terjadi di mimbar gereja atau dalam kegiatan rohani. Padahal Tuhan juga hadir di tengah mereka yang lapar, miskin, dan terlupakan.
Ketika kita menolong orang yang membutuhkan, kita sedang melayani Kristus sendiri.
Yesus memberikan pernyataan yang sangat kuat ketika berbicara tentang penghakiman terakhir. Ia berkata, “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 25:40).
Artinya, tindakan sederhana seperti memberi makanan kepada orang lapar, membantu orang miskin, atau menguatkan mereka yang menderita memiliki nilai rohani yang sangat besar di mata Tuhan.
Dalam perspektif kerajaan Allah, tidak ada perbuatan kasih yang sia-sia.
Bahkan Alkitab mengatakan bahwa memberi kepada orang miskin adalah seperti meminjamkan kepada Tuhan sendiri. “Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.” (Amsal 19:17).
Namun sayangnya, dunia modern sering kali membuat hati manusia menjadi semakin keras.
Kemajuan teknologi, kesibukan pekerjaan, dan gaya hidup individualistis membuat banyak orang menjadi kurang peka terhadap penderitaan sesama. Kita bisa dengan mudah melewati orang miskin di jalan tanpa mempedulikannya.
Tanpa sadar, hati kita menjadi tumpul terhadap belas kasihan.
Padahal hati Kristus selalu dipenuhi dengan belas kasihan kepada mereka yang menderita. Injil mencatat bahwa Yesus tergerak oleh belas kasihan ketika melihat orang banyak yang lelah dan terlantar (Matius 9:36).
Yesus tidak hanya memberitakan kasih Allah; Dia juga menunjukkannya melalui tindakan nyata.
Inilah teladan yang seharusnya diikuti oleh setiap orang percaya.
Mengasihi Tuhan berarti mengasihi apa yang Tuhan kasihi. Jika hati Kristus tergerak oleh penderitaan orang miskin, maka hati kita pun seharusnya demikian.
Kepedulian terhadap orang miskin bukan sekadar program sosial gereja. Itu adalah bagian dari kehidupan iman.
Yakobus menegaskan bahwa iman yang sejati terlihat dari kepedulian terhadap mereka yang membutuhkan. “Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah adalah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka.” (Yakobus 1:27).
Menariknya, Alkitab tidak pernah memandang memberi kepada orang miskin sebagai beban. Sebaliknya, Alkitab memandangnya sebagai berkat dan kehormatan.
Memberi adalah kesempatan untuk berpartisipasi dalam pekerjaan kasih Tuhan di dunia.
Ketika kita memberi kepada mereka yang membutuhkan, kita sedang menjadi saluran berkat. Rasul Paulus menasihatkan, “Hendaklah kamu kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi.” (1 Timotius 6:18).
Tuhan sering kali memilih untuk bekerja melalui tangan manusia. Dia memakai kita untuk menjangkau mereka yang menderita.
Dalam hal ini, orang miskin sebenarnya memberikan kesempatan kepada kita untuk melakukan sesuatu yang bernilai kekal.
Tanpa kehadiran mereka, kita mungkin tidak memiliki kesempatan untuk menunjukkan kasih secara nyata.
Karena itu, orang miskin bukanlah sekadar objek belas kasihan, tetapi juga sarana yang dipakai Tuhan untuk membentuk karakter rohani umat-Nya.
Melalui kepedulian kepada sesama, iman kita menjadi nyata.
Kasih kita kepada Tuhan diuji melalui sikap kita terhadap orang-orang yang membutuhkan.
Pertanyaan penting bagi kita adalah: apakah hati kita masih peka terhadap penderitaan sesama?
Apakah kita masih memiliki belas kasihan terhadap mereka yang hidup dalam kesulitan?
Atau apakah kita sudah terlalu sibuk dengan kehidupan kita sendiri?
Rasul Yohanes memberikan peringatan yang tajam:
“Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimana kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?” (1 Yohanes 3:17).
Renungan ini mengajak kita untuk kembali melihat dunia dengan perspektif Kristus.
Ketika kita melihat orang miskin, jangan hanya melihat kekurangan mereka. Lihatlah kesempatan untuk menyatakan kasih Tuhan.
Lihatlah kesempatan untuk menjadi alat Tuhan.
Mungkin kita tidak mampu mengubah seluruh dunia, tetapi kita selalu bisa menolong seseorang.
Satu tindakan kasih dapat membawa perubahan besar dalam hidup seseorang.
Pada akhirnya, kehidupan iman bukan hanya tentang apa yang kita percaya, tetapi juga tentang bagaimana kita hidup.
Kasih kepada Tuhan harus terlihat dalam cara kita memperlakukan sesama.
Dan ketika kita membuka hati untuk menolong mereka yang miskin dan menderita, kita sebenarnya sedang melakukan sesuatu yang sangat indah di mata Tuhan.
Kita sedang menyentuh hati Kristus sendiri.
Oleh
Ev. Kefas Hervin Devananda, SH., S.Th., M.Pd.K


