FiladelfiaNews.com
Yohanes 20:19–23
Ada satu kenyataan yang jarang disadari:
banyak orang percaya ingin damai…
tetapi tidak siap diutus.
Kita rindu Tuhan hadir,
menguatkan, menenangkan, memulihkan.
Namun ketika Tuhan berkata, “Pergilah,”
kita justru mundur.
Iman yang Bersembunyi di Balik Ketakutan
Murid-murid Yesus berkumpul di ruangan tertutup.
Pintu terkunci.
Hati penuh ketakutan.
Mereka percaya Yesus telah bangkit.
Tetapi mereka belum berani keluar.
Bukankah ini gambaran banyak orang percaya hari ini?
Percaya… tetapi diam.
Mengerti… tetapi tidak bertindak.
Selamat… tetapi tidak bergerak.
Yesus Datang, Bukan Hanya untuk Menenangkan
Ketika Yesus hadir, Ia berkata:
“Damai sejahtera bagi kamu.”
Namun damai itu bukan tujuan akhir.
Itu adalah titik awal.
Karena setelah itu, Yesus berkata:
“Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.”
Ini mengubah segalanya.
Iman bukan hanya soal menerima damai,
tetapi juga menerima mandat.
Pengutusan adalah Identitas, Bukan Pilihan
Dalam terang Injil,
pengutusan bukan tugas tambahan.
Ini adalah identitas.
Jika Bapa mengutus Anak,
dan Anak mengutus murid,
maka setiap orang percaya hidup dalam satu garis yang sama:
diutus.
Artinya, tidak ada orang percaya yang tidak diutus.
Yang ada hanya:
mau atau tidak mau.
Roh Kudus: Dari Takut Menjadi Berani
Yesus menghembusi mereka dan berkata:
“Terimalah Roh Kudus.”
Ini penting.
Karena tanpa Roh Kudus,
kita hanya akan tetap di ruangan terkunci.
Tetapi dengan Roh Kudus,
ketakutan berubah menjadi keberanian.
diam berubah menjadi kesaksian.
Ini bukan soal kemampuan manusia,
tetapi karya Allah di dalam manusia.
Injil Tidak Akan Tersebar Jika Kita Diam
Roma 10:13–15 menegaskan:
Orang tidak percaya jika tidak mendengar.
Orang tidak mendengar jika tidak ada yang memberitakan.
Artinya,
diamnya orang percaya adalah penghalang bagi keselamatan orang lain.
Ini bukan hal kecil.
Ini serius.
Karena setiap orang yang belum mendengar Injil
adalah tanggung jawab kita.
Masalahnya Bukan Kita Tidak Bisa, Tapi Tidak Mau
Sering kita berkata:
“Saya tidak mampu.”
“Saya bukan hamba Tuhan.”
“Saya tidak tahu harus bagaimana.”
Namun masalahnya bukan pada kemampuan.
Masalahnya pada kemauan.
Karena Tuhan tidak pernah memanggil orang yang mampu,
tetapi memampukan orang yang mau.
Refleksi: Kita Masih di Dalam atau Sudah Keluar?
Hari ini, kita perlu jujur:
Apakah kita masih hidup di “ruangan terkunci”?
Nyaman, aman, tetapi tidak berdampak?
Ataukah kita sudah keluar—
membawa terang di tengah dunia yang gelap?
Jangan Nikmati Keselamatan Sendiri
Keselamatan bukan untuk dinikmati sendirian.
Injil bukan untuk disimpan.
Karena jika kita berhenti pada menerima,
maka kita gagal memahami tujuan keselamatan itu sendiri.
Jika imanmu tidak pernah membuatmu melangkah keluar,
mungkin itu bukan iman yang hidup—
melainkan iman yang nyaman.
Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K


