ANAK YANG HILANG DAN ANAK YANG TERLUPAKAN
Dalam perumpamaan di Injil Lukas 15:11–32, kebanyakan orang hanya berfokus pada anak yang hilang — anak bungsu yang pergi meninggalkan rumah, menghabiskan warisannya, lalu kembali dalam keadaan hancur.
Namun sesungguhnya, Yesus tidak hanya sedang berbicara tentang pemberontakan.
Ia juga sedang menyingkapkan sesuatu yang jauh lebih halus dan berbahaya:
keadaan seseorang yang tampak dekat dengan Bapa, tetapi sebenarnya jauh dari hati-Nya.
Anak sulung tidak pernah meninggalkan rumah ayahnya.
Ia terlihat setia.
Rajin bekerja.
Taat.
Bertanggung jawab.
Tetapi ketika adiknya pulang dan diterima kembali dengan kasih, reaksinya justru memperlihatkan isi hatinya yang sesungguhnya.
“Sudah bertahun-tahun aku melayani engkau dan tidak pernah melanggar perintahmu; tetapi kepadaku belum pernah engkau memberikan seekor anak kambing…”
Lukas 15:29
Ia berada di dalam rumah, tetapi tidak hidup sebagai seorang anak.
Ia dekat secara posisi, tetapi jauh secara pengertian.
Inilah tragedi “kedekatan tanpa pewahyuan”.
Anak bungsu memang kehilangan segalanya, tetapi di titik kehancurannya ia masih ingat akan kebaikan ayahnya:
“Betapa banyak orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya…”
Lukas 15:17
Di tengah pemberontakannya, ia masih mengenal kasih ayahnya.
Sedangkan anak sulung?
Ia memiliki akses, tetapi hidup seperti seorang hamba.
- Ia bekerja untuk sesuatu yang sebenarnya sudah menjadi miliknya
- Ia mengeluh tentang apa yang sebenarnya sudah tersedia baginya
- Ia iri kepada orang lain karena tidak menyadari warisan yang sudah ada padanya
Lalu sang ayah memberikan jawaban yang sangat dalam:
“Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.”
Lukas 15:31
Perhatikan dua hal penting dari perkataan sang ayah:
- “Engkau selalu bersama-sama dengan aku” → berbicara tentang hubungan
- “Segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu” → berbicara tentang warisan
Anak sulung memiliki posisi, tetapi kehilangan pengertian tentang kasih dan warisannya.
Inilah pesan yang sangat relevan bagi kehidupan rohani kita hari ini.
Kita bisa:
- aktif melayani Tuhan
- rajin beribadah
- setia berada di gereja
- terlihat rohani di depan banyak orang
tetapi diam-diam hidup dengan hati yang kosong, lelah, dan merasa tidak pernah cukup.
Mengapa?
Karena kita hidup seperti hamba yang berusaha diterima, bukan sebagai anak yang sudah dikasihi.
Agama sering membuat manusia bekerja keras demi mendapatkan penerimaan.
Padahal kasih karunia berkata:
“Engkau sudah diterima di dalam kasih Bapa.”
Anak bungsu mengenal ayahnya melalui kehancuran.
Anak sulung harus belajar mengenal ayahnya melalui pewahyuan.
Dan inilah inti pesannya:
Sangat mungkin seseorang dekat dengan Tuhan, tetapi belum sungguh mengenal-Nya sebagai Bapa.
DEKLARASI
Saya bukan hamba yang berjuang untuk diterima.
Saya adalah anak yang berjalan dalam warisan kasih Bapa.
Segala yang Bapa miliki tersedia bagi saya.
Dan saya akan hidup dalam kepenuhan kasih karunia-Nya.
Karena itu, jangan hanya tinggal di rumah Bapa.
Belajarlah hidup dari hati Bapa.
Selamat beraktivitas dalam perkenan-Nya.
STAY IN GOD. Jaga kesehatan, tetap semangat dan antusias.
Kiranya Tuhan Yesus melimpahkan rahmat-Nya sehingga terobosan ilahi, jalan keluar ilahi, penyelesaian ilahi dan pelipatgandaan ilahi dinyatakan dalam seluruh area kehidupan kita.
Abah Daniel


