IDENTITAS SUDAH DIUBAH—TAPI KENAPA HIDUP MASIH SAMA?

Spread the love

Filadelfianews.comBacaan: Yohanes 1:1–18

Ada satu kenyataan yang jarang kita berani akui:
banyak orang percaya mengalami perubahan status, tetapi tidak mengalami perubahan hidup.

Kita sudah “jadi anak Allah”.
Tetapi cara berpikir, cara bersikap, bahkan cara hidup… masih seperti dulu.

Firman Tuhan berkata:
“Semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah.” (Yohanes 1:12)

Perhatikan kata ini: diberi kuasa.

Artinya, menjadi anak Allah bukan sekadar gelar.
Itu adalah pemberian ilahi—identitas baru.

Tetapi banyak orang berhenti di pengakuan,
tanpa masuk ke perubahan.

Kita suka disebut:

  • orang percaya
  • anak Tuhan
  • pelayan

Tetapi tidak semua mau berubah.

Masih:

  • mudah marah
  • sulit mengampuni
  • hidup kompromi
  • mengejar hal yang sama seperti dunia

Dan anehnya… kita merasa itu normal.

Padahal itu tanda bahaya.

Yohanes menulis:

“Di dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.” (Yohanes 1:4)

Yesus datang bukan untuk memperbaiki sedikit,
tetapi untuk mengubah total.

Jika kita benar menerima Dia,
harus ada perubahan arah hidup.

Bukan sempurna,
tetapi nyata.

“Ajining diri saka tumindak.”
(Harga diri terlihat dari tindakan.)

Dalam iman:
identitas sebagai anak Allah terlihat dari cara hidup, bukan dari pengakuan.

Yang berbahaya bukan orang yang jatuh,
tetapi orang yang merasa sudah benar… padahal tidak berubah.

Terlihat rohani.
Aktif di pelayanan.
Banyak bicara tentang Tuhan.

Tetapi hidupnya tidak mencerminkan Kristus.

Itu bukan pertumbuhan.
Itu ilusi.

Kalau hidup kita tidak berbeda, apakah kita benar-benar hidup dalam terang… atau hanya berdiri di dekatnya?

Tuhan sudah memberi identitas yang baru.

Bukan sebagai orang luar,
tetapi sebagai anak.

Namun menjadi anak Allah bukan hanya tentang siapa kita,
tetapi bagaimana kita hidup.

Karena pada akhirnya,
Tuhan tidak hanya melihat pengakuan iman kita—
tetapi bukti hidup kita.

Identitas tanpa perubahan hanyalah pengakuan—bukan kehidupan.


Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, SH, S.Th, M.Pd.K
Jurnalis Senior, Penggiat Budaya dan Rohaniawan pada Sinode GPIAI

About The Author

  • Related Posts

    STAY IN GOD – ALLAH ITU BAIK

    Spread the love

    Spread the loveFiladelfiaNews.com – Ada satu pujian yang begitu sederhana, namun sangat dalam maknanya: “Allah itu baik” (God is so good). Lagu ini sering kita nyanyikan di gereja, di rumah,…

    Kalau Tuhan Menyertai, Kenapa Hidup Begini?

    Spread the love

    Spread the loveFiladelfiaNews.com Belajar Jujur dari Gideon – Hakim-hakim 6:1–24 Ada satu pertanyaan yang sering kita simpan dalam hati… tapi jarang kita ucapkan dengan jujur: “Kalau Tuhan benar menyertai aku,…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Filadelfia News

    Konsolidasi Menguat, Ricardo Palijama Dipercaya Pimpin PMMBR Jabar

    Konsolidasi Menguat, Ricardo Palijama Dipercaya Pimpin PMMBR Jabar

    Ibadah Gabungan Kaum Wanita GPIAI Filadelfia Berlangsung Penuh Hadirat Tuhan di Tonjong

    Ibadah Gabungan Kaum Wanita GPIAI Filadelfia Berlangsung Penuh Hadirat Tuhan di Tonjong

    STAY IN GOD – ALLAH ITU BAIK

    STAY IN GOD – ALLAH ITU BAIK

    6 Hari dari Harapan ke Dugaan Suap: SP3 Sebut Kasus Ketua Ombudsman Guncang Kepercayaan Publik!

    6 Hari dari Harapan ke Dugaan Suap: SP3 Sebut Kasus Ketua Ombudsman Guncang Kepercayaan Publik!

    Kalau Tuhan Menyertai, Kenapa Hidup Begini?

    Kalau Tuhan Menyertai, Kenapa Hidup Begini?

    Dr. Leo Fransisco: Pendidikan Iman Harus Berani Keluar dari Kelas dan Menyentuh Realitas

    Dr. Leo Fransisco: Pendidikan Iman Harus Berani Keluar dari Kelas dan Menyentuh Realitas