KASIH YANG TIDAK MEMILIH: SAAT YESUS MENYENTUH YANG AKAN MENGKHIANATI
FiladelfiaNews.com – Tidak semua orang yang dekat dengan kita benar-benar setia.
Ada yang tersenyum di depan, tetapi menyimpan niat lain di belakang.
Itulah realita kehidupan.
Kita bisa menerima kritik dari orang lain,
tetapi pengkhianatan dari orang dekat… selalu terasa lebih dalam.
Lebih sunyi. Lebih menusuk.
Dan sering kali, luka itu mengubah kita.
Kita jadi lebih dingin.
Lebih berhati-hati.
Bahkan, tanpa sadar… lebih sulit mengasihi.
Namun kisah dalam Yohanes 13 membawa kita pada sebuah pemandangan yang tidak biasa.
Yesus, yang tahu persis siapa yang akan mengkhianati-Nya, tidak menjauh dari Yudas. Ia tidak mempermalukannya di depan yang lain. Ia tidak mengeluarkannya dari perjamuan.
Ia justru melakukan sesuatu yang sangat kontras dengan logika manusia:
Ia membasuh kakinya.
Tindakan itu bukan sekadar simbol pelayanan. Itu adalah pernyataan kasih yang paling dalam—kasih yang tidak memilih siapa yang layak dan siapa yang tidak.
Yesus tidak berkata, “Aku akan mengasihi yang setia saja.”
Ia mengasihi semua—termasuk yang akan melukai-Nya.
Di sinilah letak pergumulan kita hari ini.
Kita sering berkata, “Aku mau mengasihi,”
tetapi diam-diam menambahkan syarat:
selama tidak disakiti, selama tidak dikhianati, selama tidak dirugikan.
Padahal kasih sejati tidak bekerja dengan syarat.
Kasih sejati justru diuji ketika syarat itu dilanggar.
Mari kita jujur:
Bukankah kita pun pernah seperti Yudas?
Kita pernah mengecewakan Tuhan.
Kita pernah memilih jalan kita sendiri.
Kita pernah mengkhianati kepercayaan-Nya.
Namun, apakah Tuhan berhenti mengasihi kita?
Tidak.
Ia tetap setia.
Ia tetap membuka tangan-Nya.
Ia tetap menerima kita kembali.
Inilah kasih yang seharusnya kita pelajari.
Bukan kasih yang mudah.
Bukan kasih yang nyaman.
Tetapi kasih yang berani.
Berani mengampuni.
Berani tetap berbuat baik.
Berani tidak membalas, meski hati terluka.
Karena pada akhirnya, mengasihi bukan hanya tentang orang lain—
tetapi tentang siapa diri kita di hadapan Tuhan.
Kasih yang sejati tidak bertanya, “Apakah dia layak?”
Tetapi berkata, “Aku memilih untuk tetap mengasihi.”
DOA
Tuhan, ajar aku untuk mengasihi tanpa syarat.
Ketika aku terluka, kuatkan hatiku untuk tidak membalas.
Ketika aku kecewa, tuntun aku untuk tetap berbuat baik.
Bentuk aku menjadi pribadi yang mencerminkan kasih-Mu.
Amin.
KASIH SEJATI BUKAN TENTANG SIAPA YANG PANTAS,
TETAPI TENTANG HATI YANG MEMILIH UNTUK TETAP MENGASIHI.
(Ev. Kefas Hervin Devananda, SH., S.Th., M.Pd.K)


