KETIKA KAMU PERCAYA KEBOHONGAN TENTANG DIRIMU SENDIRI
Musuh Terbesar Sering Kali Bukan Keadaan, Tetapi Cara Pandang Kita
“TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani.”
(Hakim-Hakim 6:12)
Penulis: Ps. Welly Massie
Ada satu kenyataan yang jarang disadari banyak orang:
Tidak semua orang gagal karena kurang kemampuan. Banyak orang gagal karena salah memandang dirinya sendiri.
Mereka hidup bukan berdasarkan kenyataan yang Tuhan berikan, melainkan berdasarkan persepsi yang mereka bangun sendiri.
Mereka tidak terikat oleh rantai besi, tetapi oleh pikiran yang salah.
Mereka tidak dipenjara oleh keadaan, tetapi oleh keyakinan yang keliru tentang diri mereka sendiri.
Ketika Kebohongan Terasa Lebih Nyata Daripada Kebenaran
Ada orang yang sebenarnya cerdas, tetapi terus merasa bodoh.
Ada orang yang sebenarnya berbakat, tetapi merasa tidak berharga.
Ada orang yang dipanggil Tuhan, tetapi merasa tidak layak dipakai.
Ada orang yang memiliki masa depan besar, tetapi terus hidup dalam bayang-bayang masa lalunya.
Mengapa?
Karena apa yang kita percayai tentang diri kita akan menentukan bagaimana kita menjalani hidup.
Jika seseorang terus percaya bahwa dirinya gagal, ia akan bertindak seperti orang gagal.
Jika seseorang terus percaya bahwa dirinya tidak berharga, ia akan hidup jauh di bawah potensi yang Tuhan berikan.
Persepsi yang salah perlahan akan menjadi penjara yang membatasi masa depan.
Gideon: Pahlawan yang Merasa Dirinya Pecundang
Kisah Gideon adalah contoh yang sangat jelas.
Ketika Tuhan datang kepadanya, bangsa Israel sedang tertindas oleh orang Midian. Selama bertahun-tahun mereka hidup dalam ketakutan.
Gideon bahkan sedang bersembunyi ketika Tuhan memanggilnya.
Namun yang menarik, Tuhan tidak memanggil Gideon berdasarkan keadaannya saat itu.
Tuhan berkata:
“TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani.”
Secara manusia, ucapan itu terdengar aneh.
Bagaimana mungkin seseorang yang sedang bersembunyi disebut pahlawan?
Bagaimana mungkin orang yang penuh ketakutan disebut gagah berani?
Jawabannya sederhana:
Tuhan melihat apa yang akan Gideon menjadi, bukan hanya apa yang sedang Gideon alami.
Tetapi Gideon tidak melihat dirinya seperti Tuhan melihat dirinya.
Ia langsung menjawab:
“Keluargaku adalah yang paling lemah, dan aku yang paling muda dalam keluargaku.”
Gideon lebih percaya pada keterbatasannya daripada janji Tuhan.
Dan sering kali kita melakukan hal yang sama.
Banyak Orang Hidup Sebagai “Belalang”
Ketika dua belas pengintai dikirim ke Tanah Perjanjian, sepuluh di antaranya pulang dengan laporan negatif.
Mereka berkata:
“Kami seperti belalang di mata kami sendiri.”
Perhatikan kalimat itu.
Masalah pertama bukan raksasa Kanaan.
Masalah pertama adalah bagaimana mereka melihat diri mereka sendiri.
Mereka sudah kalah sebelum bertempur.
Mereka sudah menyerah sebelum mencoba.
Karena persepsi yang salah selalu melahirkan ketakutan yang berlebihan.
Dunia Modern Ahli Merusak Identitas
Hari ini banyak orang kehilangan identitasnya.
Media sosial membuat orang terus membandingkan hidupnya dengan orang lain.
Orang lain terlihat lebih sukses.
Lebih kaya.
Lebih cantik.
Lebih terkenal.
Lebih bahagia.
Akhirnya banyak orang mulai meragukan nilai dirinya sendiri.
Mereka lupa bahwa nilai hidup tidak ditentukan oleh jumlah pengikut, saldo rekening, jabatan, atau popularitas.
Nilai hidup ditentukan oleh fakta bahwa kita diciptakan menurut gambar Allah dan dikasihi-Nya.
Injil Memulihkan Cara Pandang Kita
Salah satu karya terbesar Kristus bukan hanya mengampuni dosa kita.
Kristus juga memulihkan identitas kita.
Di dalam Kristus, kita bukan lagi budak dosa.
Kita bukan lagi tawanan masa lalu.
Kita bukan lagi produk kegagalan.
Kita adalah ciptaan baru.
Kita adalah anak-anak Allah.
Kita adalah orang-orang yang dipanggil untuk hidup dalam tujuan dan rencana-Nya.
Itulah sebabnya Rasul Paulus berkata:
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu.”
(Roma 12:2)
Perubahan hidup selalu dimulai dari perubahan cara berpikir.
Renungan Hari Ini
Mungkin selama ini ada suara-suara yang terus berkata:
“Aku tidak mampu.”
“Aku terlalu rusak.”
“Aku tidak cukup baik.”
“Tuhan tidak mungkin memakai aku.”
Hari ini belajarlah mengganti suara ketakutan dengan suara Firman Tuhan.
Jangan melihat dirimu dari luka masa lalu.
Jangan melihat dirimu dari kegagalan yang pernah terjadi.
Jangan melihat dirimu dari penilaian manusia.
Lihatlah dirimu dari sudut pandang Tuhan.
Karena ketika Tuhan memanggil Gideon “pahlawan”, Gideon belum melihatnya.
Tetapi Tuhan sudah melihat masa depan yang sedang dipersiapkan-Nya.
Dan mungkin hari ini Tuhan sedang melihat sesuatu yang lebih besar dalam hidupmu daripada yang mampu kamu lihat sendiri.
Pertanyaan Refleksi
Apakah saya sedang hidup berdasarkan kebenaran Firman Tuhan, atau berdasarkan kebohongan yang selama ini saya percayai tentang diri saya sendiri?
Kesimpulan
Banyak orang tidak gagal karena kurang kemampuan, tetapi karena terlalu lama mempercayai kebohongan tentang dirinya sendiri.
Ketika cara pandang dipulihkan oleh Firman Tuhan, keberanian akan lahir, iman akan bertumbuh, dan masa depan yang Tuhan rancangkan mulai terlihat.
Jangan mati sebagai versi kecil dari dirimu, ketika Tuhan telah memanggilmu untuk hidup dalam tujuan besar yang telah Dia sediakan.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.


