Spread the love

FiladelfiaNews.com

Yohanes 19:38-42

Ada satu jenis kesetiaan yang jarang terlihat—
bukan karena tidak ada,
tetapi karena tidak bersuara.

Kesetiaan itu tidak berdiri di panggung.
Tidak mencari perhatian.
Tidak menunggu tepuk tangan.

Kesetiaan itu… hadir dalam diam.

Sore itu di Golgota, dunia seolah berhenti sejenak.
Langit tidak lagi gaduh.
Kerumunan telah bubar.
Dan salib menjadi saksi dari sebuah akhir yang menyayat.

Yesus telah mati.

Tidak ada lagi mujizat.
Tidak ada lagi pengajaran.
Tidak ada lagi harapan yang tampak di mata manusia.

Namun justru di saat seperti itulah…
kesetiaan sejati mulai berbicara.

Yusuf dari Arimatea melangkah dengan berani.
Ia menghadap Pilatus—sebuah tindakan yang berisiko bagi reputasi dan posisinya.

Nikodemus datang, membawa persembahan yang tidak biasa—
sekitar 30 kilogram minyak mur dan gaharu.

Bukan jumlah yang kecil.
Bukan tindakan yang sederhana.

Mereka datang bukan saat Yesus dielu-elukan.
Mereka hadir bukan saat nama Yesus diagungkan.

Mereka datang… saat semuanya telah sunyi.


Ketika Iman Tidak Lagi Didukung Suasana

Ada iman yang kuat karena suasana mendukung.
Ada iman yang bertahan karena banyak orang melakukan hal yang sama.

Namun ada juga iman yang tetap berdiri
meskipun suasana tidak lagi berpihak.

Yusuf dan Nikodemus menunjukkan kepada kita:
iman sejati tidak bergantung pada keramaian.

Mereka tidak menunggu momen yang “tepat” menurut manusia.
Mereka tidak menunda kebaikan karena keadaan terlihat gelap.

Mereka bertindak—karena kasih mereka nyata.


Penghormatan dalam Kesunyian

Dalam tradisi saat itu, orang yang disalib tidak mendapatkan penghormatan.
Mereka dianggap hina.
Dibuang. Dilupakan.

Namun Yesus tidak diperlakukan demikian oleh mereka.

Kubur baru.
Minyak mahal.
Penguburan yang layak.

Semua itu bukan sekadar ritual—
tetapi pernyataan kasih yang tidak tergoyahkan oleh keadaan.

Nubuat pun digenapi:
“Orang-orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik,
tetapi dalam matinya ia ada di antara orang kaya.”
(Yesaya 53:9)


Iman yang Tidak Perlu Dilihat

Di zaman sekarang, banyak orang ingin dikenal karena pelayanannya.
Ingin dilihat karena kontribusinya.
Ingin dihargai karena pengorbanannya.

Namun kisah ini mengajarkan sesuatu yang berbeda:

Tuhan tidak membutuhkan sorotan untuk melihat kita.

Pepatah Jawa berkata:
“Sepi ing pamrih, rame ing gawe.”
Bekerja tanpa pamrih, tetapi penuh tindakan.

Kesetiaan seperti inilah yang berharga di hadapan Tuhan.
Kesetiaan yang tidak bergantung pada pengakuan manusia.


Di Tempat yang Sepi, Tuhan Bekerja

Kubur adalah tempat yang identik dengan akhir.
Gelap. Sunyi. Tanpa harapan.

Namun di balik keheningan itu…
Tuhan sedang bekerja.

Apa yang tampak seperti akhir,
ternyata hanyalah awal dari kebangkitan.

Dan tanpa disadari,
Yusuf dan Nikodemus menjadi bagian dari rencana besar itu.


Refleksi untuk Kita

Bagaimana dengan kita hari ini?

Apakah kita tetap setia saat tidak ada yang melihat?
Apakah kita tetap memberi yang terbaik saat tidak dihargai?
Apakah kita tetap percaya saat Tuhan terasa diam?

Ingatlah:
kesetiaan yang tidak bersuara di bumi,
seringkali justru paling nyaring di hadapan surga.

Karena Tuhan melihat.
Tuhan mencatat.
Dan Tuhan tidak pernah melupakan.

“Gusti ora sare.”


Penutup

Jangan tunggu panggung untuk setia.
Jangan tunggu ramai untuk berbuat.

Belajarlah setia dalam diam.
Belajarlah mengasihi tanpa sorotan.
Belajarlah memberi tanpa diketahui.

Karena pada akhirnya…
bukan yang paling terlihat yang dikenang Tuhan,
tetapi yang paling setia.


Pokok Doa:
Puji syukur atas kasih dan pengorbanan Yesus yang memberi kita hidup yang kekal.


Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *