Spread the loveFiladelfianews.com Di era sekarang, keberhasilan sering diukur dari pencapaian yang terlihat. Banyak orang merasa berharga ketika dipuji, dikenal, atau dianggap berhasil. Bahkan dalam pelayanan, manusia bisa terjebak pada kebanggaan atas apa yang dikerjakannya untuk Tuhan. Ada yang bersukacita karena pelayanannya viral. Ada yang bangga karena banyak orang memuji khotbahnya. Ada yang merasa berhasil karena dipakai melakukan hal-hal besar. Namun renungan dalam Lukas 10:1–20 membawa kita pada sebuah pertanyaan penting: apa sebenarnya sumber sukacita terbesar seorang percaya? Ketika tujuh puluh murid kembali dari pelayanan, mereka datang dengan penuh kegembiraan. Mereka menyaksikan mujizat terjadi. Roh-roh jahat takluk. Kuasa Tuhan nyata bekerja melalui hidup mereka. Secara manusiawi, itu memang luar biasa. Tetapi respons Yesus justru mengejutkan. Ia berkata, “Janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu terdaftar di surga.” Kalimat ini seakan menarik kembali hati murid-murid agar tidak terjebak pada kebanggaan pelayanan. Sebab sehebat apa pun pelayanan seseorang, semuanya tetap hanyalah anugerah Tuhan. Yesus sedang mengajarkan bahwa sukacita sejati bukan berasal dari apa yang kita lakukan bagi Tuhan, melainkan dari apa yang Tuhan telah lakukan bagi kita. Ada banyak orang aktif melayani tetapi kehilangan damai. Ada yang terlihat rohani di depan publik, tetapi kosong di dalam hati. Mengapa? Karena sukacitanya dibangun di atas prestasi rohani, bukan hubungan dengan Tuhan. Pelayanan tanpa kesadaran akan kasih karunia mudah berubah menjadi ajang kebanggaan diri. Ada pribahasa Jawa yang sangat dalam maknanya: “Aja adigang, adigung, adiguna.” Artinya: Jangan sombong karena kekuatan, kedudukan, atau kepintaran. Nasihat ini sangat relevan dalam kehidupan rohani. Sebab ketika seseorang mulai merasa dirinya hebat karena pelayanan, pujian, atau keberhasilan, ia perlahan sedang menjauh dari kerendahan hati yang Tuhan kehendaki. Keselamatan adalah alasan utama sukacita orang percaya. Nama kita ditulis dalam Kitab Kehidupan bukan karena kita layak, tetapi karena kasih karunia Kristus. Tidak ada manusia yang dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Itulah sebabnya pelayanan seharusnya lahir dari rasa syukur, bukan dari keinginan mencari pengakuan. Hari ini banyak orang mengejar “besar di mata manusia,” tetapi lupa menjaga hati di hadapan Tuhan. Padahal di surga, Tuhan tidak terutama melihat seberapa terkenal pelayanan kita, tetapi seberapa tulus hati kita. Pelayanan yang sejati bukan tentang siapa paling hebat, paling dipakai, atau paling terkenal. Pelayanan sejati adalah ketika seseorang tetap rendah hati, sadar bahwa tanpa Tuhan ia tidak dapat melakukan apa-apa. Karena itu, jangan jadikan keberhasilan pelayanan sebagai sumber identitas hidupmu. Semua itu bisa berubah sewaktu-waktu. Tetapi keselamatan di dalam Kristus adalah anugerah kekal yang tidak akan pernah hilang. Pribahasa Jawa lain berkata: “Urip iku mampir ngombe.” Artinya: Hidup di dunia hanya sementara. Jabatan pelayanan, popularitas, dan pujian manusia suatu hari akan berakhir. Namun keselamatan yang Tuhan berikan akan tetap kekal selamanya. Sebab pada akhirnya, sukacita terbesar orang percaya bukanlah ketika dikenal manusia, melainkan ketika dikenal dan diterima oleh Tuhan. Penulis: Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K. About The Author redaksi filadelfia See author's posts Post Views: 71 Navigasi pos Menjadi Jembatan di Tengah Dunia: Ketika Profesi Menjadi Jalan Kesaksian Ketika Dosa Dibungkus Rohani: Bahaya Merasa Benar di Hadapan Tuhan