Spread the loveFiladelfianews.com – Di tengah dunia yang sibuk mengejar popularitas dan pengakuan, ada satu panggilan yang sering dilupakan: menjadi “jembatan” bagi orang lain untuk mengenal kasih Tuhan. Dalam Lukas 5:27–32, Lewi—seorang pemungut cukai yang dipandang rendah—mengalami perjumpaan dengan Yesus yang mengubah hidupnya. Menariknya, setelah dipanggil Tuhan, Lewi tidak langsung menjadi pengkhotbah besar. Ia justru memakai rumah, relasi, dan kehidupannya untuk mempertemukan banyak orang dengan Yesus. Ia mengundang teman-temannya, para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, agar mereka juga dapat mengenal Sang Juruselamat. Kisah ini mengajarkan bahwa pelayanan tidak selalu dimulai dari mimbar. Terkadang, pelayanan dimulai dari hati yang mau dipakai Tuhan di tengah kehidupan sehari-hari. Hal yang sama dapat terlihat dalam dunia jurnalistik. Seorang jurnalis bukan hanya menyampaikan berita, tetapi juga dapat menjadi penyambung suara kebenaran dan pengharapan. Tulisan, kamera, dan media dapat menjadi sarana kesaksian apabila digunakan dengan hati nurani dan takut akan Tuhan. Di tengah tekanan zaman yang lebih menyukai sensasi daripada kebenaran, iman seorang jurnalis diuji. Apakah profesi hanya dipakai untuk mencari keuntungan, atau menjadi alat untuk membawa terang bagi banyak orang? Ada pribahasa Jawa yang sangat relevan dengan panggilan ini: “Urip iku urup.” Artinya: Hidup itu harus memberi nyala dan manfaat bagi sesama. Makna ini selaras dengan kehidupan Lewi. Setelah menerima kasih Kristus, ia tidak hidup untuk dirinya sendiri. Ia menjadi “jembatan” agar banyak orang dapat datang kepada Tuhan. Pribahasa Jawa lain berkata: “Ajining diri saka lathi.” Artinya: Harga diri seseorang terlihat dari perkataannya. Bagi seorang jurnalis maupun pelayan Tuhan, perkataan dan tulisan memiliki kekuatan besar. Apa yang disampaikan dapat menjadi berkat, penghiburan, bahkan membuka jalan keselamatan bagi orang lain. Hari ini, masih banyak orang yang takut datang kepada Tuhan karena merasa tidak layak, kecewa, atau malu dengan masa lalunya. Karena itu, dunia membutuhkan lebih banyak “jembatan”—orang-orang yang mau hadir, mendengar, dan menunjukkan kasih Kristus secara nyata. Menjadi jembatan memang tidak mudah. Jembatan sering diinjak dan jarang diperhatikan. Namun tanpa jembatan, banyak orang tidak akan sampai ke tujuan. Karena itu, jangan pernah meremehkan profesi dan kehidupan yang Tuhan percayakan. Di tangan Tuhan, pekerjaan biasa dapat menjadi alat luar biasa untuk menjangkau jiwa. Jadilah jembatan, bukan penghalang. Jadilah terang, bukan sekadar penonton. Penulis: Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K. About The Author redaksi filadelfia See author's posts Post Views: 37 Navigasi pos Iman yang Bekerja: Pelayanan Nyata di Tengah Kehidupan Sehari-hari Ketika Pelayanan Bukan Lagi Tentang Panggung, Melainkan Keselamatan