Spread the love

Filadelfianews.com – Salah satu bahaya terbesar dalam kehidupan rohani bukanlah ketika seseorang terang-terangan menolak Tuhan, tetapi ketika ia melakukan kesalahan sambil merasa dirinya sedang melayani Tuhan.

Itulah gambaran yang mengerikan dalam Hakim-hakim 17.

Mikha dan ibunya berbicara tentang Tuhan, memakai istilah “dikuduskan bagi TUHAN”, bahkan memiliki imam dan rumah ibadah sendiri. Namun ironinya, semua itu justru dipenuhi pelanggaran terhadap firman Allah. Mereka membuat patung pahatan yang jelas dilarang Tuhan, lalu tetap yakin bahwa Tuhan akan memberkati mereka.

Inilah ironi rohani yang sangat berbahaya:
melakukan yang salah tetapi merasa benar.

Kitab Hakim-hakim berulang kali menuliskan kalimat ini:

“Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang melakukan apa yang benar menurut pandangannya sendiri.”

Kalimat ini bukan sekadar catatan sejarah, tetapi cermin kehidupan manusia sepanjang zaman.

Hari ini pun banyak orang hidup dengan pola yang sama. Mereka ingin Tuhan memberkati hidupnya, tetapi tidak mau tunduk pada kebenaran firman. Mereka membangun “Tuhan versi sendiri”—Tuhan yang tidak menegur dosa, tidak menuntut pertobatan, dan selalu menyetujui apa pun yang mereka lakukan.

Ada yang tetap hidup dalam kebencian tetapi merasa rohani. Ada yang melakukan ketidakjujuran sambil berkata “Tuhan mengerti keadaan saya.” Ada yang mengejar keuntungan dengan cara salah lalu menyebutnya “berkat Tuhan.”

Padahal tidak semua yang terlihat rohani berasal dari Tuhan.

Ada pribahasa Jawa yang sangat tepat:

“Menang tanpa ngasorake.”
Artinya: Menang tanpa merendahkan atau melukai kebenaran.

Makna ini mengajarkan bahwa hidup benar di hadapan Tuhan tidak bisa dicapai dengan cara yang salah. Sebab Tuhan tidak pernah memberkati dosa hanya karena dibungkus alasan rohani.

Mikha merasa aman karena memiliki seorang Lewi sebagai imam. Namun keberadaan simbol rohani tidak otomatis berarti Tuhan berkenan. Yang Tuhan cari bukan sekadar ritual, tetapi ketaatan.

Inilah yang sering dilupakan manusia modern:
agama bisa dipakai untuk menenangkan hati nurani, tetapi hanya kebenaran firman yang dapat menyelamatkan hidup.

Bahaya terbesar terjadi ketika hati manusia lebih percaya pada perasaannya sendiri daripada firman Tuhan. Akibatnya, dosa dianggap biasa, kompromi dianggap hikmat, dan ketidaktaatan dianggap sesuatu yang wajar.

Ada pribahasa Jawa lain yang sangat dalam:

“Ojo mung pinter ngomong, nanging uga kudu pinter nglakoni.”
Artinya: Jangan hanya pandai berbicara, tetapi juga harus benar dalam menjalani.

Banyak orang tahu tentang Tuhan, tetapi tidak hidup dalam kehendak-Nya. Mereka menginginkan berkat, tetapi menolak proses pertobatan.

Padahal mengenal Tuhan bukan sekadar memiliki simbol rohani, melainkan hidup dalam ketaatan kepada firman-Nya.

Kisah Simson dalam Hakim-hakim 15 juga menunjukkan bahwa kemenangan sejati bukan berasal dari kekuatan manusia, melainkan dari Tuhan. Ketika Roh Tuhan menguasai Simson, ia menang. Ketika ia mengandalkan dirinya sendiri, ia jatuh.

Artinya, manusia tidak pernah menjadi pusat kekuatan. Tuhanlah yang menentukan segalanya.

Karena itu, jangan hanya mencari “berkat Tuhan”, tetapi carilah hati yang sungguh-sungguh taat kepada Tuhan. Jangan membangun kebenaran menurut pikiran sendiri. Belajarlah mengenal firman dengan benar agar hidup tidak tersesat oleh perasaan dan logika manusia.

Sebab tidak semua yang terasa benar di mata manusia benar di hadapan Tuhan.

Kenali Tuhan dengan benar,
taatilah firman-Nya dengan sungguh,
dan jangan pernah membungkus dosa dengan alasan rohani.

Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K.

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *