Spread the love

Filadelfianews.com Di sebuah kota kecil yang tenang, hiduplah seorang pemuda bernama Daniel bersama ayahnya, Markus, seorang tukang servis radio tua. Sejak kecil Daniel terbiasa mendengar suara dengungan radio memenuhi rumah sederhana mereka.

Ayahnya sering berkata, “Radio itu seperti hati manusia. Kalau frekuensinya tepat, kita bisa mendengar suara dengan jelas. Tapi kalau terlalu banyak gangguan, yang terdengar hanya kebisingan.”

Waktu kecil Daniel menganggap itu hanya nasihat biasa. Namun semakin dewasa, hidup mulai membawanya jauh dari rumah dan jauh dari suara yang dulu sering ia dengar.

Daniel dikenal pintar dan ambisius. Setelah lulus kuliah, ia bekerja di sebuah perusahaan besar di ibu kota. Gajinya tinggi, penampilannya rapi, dan kariernya berkembang cepat. Banyak orang iri melihat hidupnya.

Tetapi diam-diam, hidup Daniel mulai berubah.

Ia mulai jarang pulang. Jarang berdoa. Alkitab yang dulu selalu berada di samping tempat tidurnya kini hanya menjadi pajangan berdebu di rak.

Setiap pagi yang pertama kali ia buka bukan Firman Tuhan, melainkan ponselnya. Ia bangun dengan suara notifikasi, tidur dengan suara target pekerjaan, dan hidup dengan suara penilaian orang lain.

Semakin lama, hati Daniel semakin lelah.

Suatu malam, perusahaan tempat Daniel bekerja mendapatkan proyek besar bernilai miliaran rupiah. Semua pegawai sibuk mengejar target. Atasan Daniel, seorang pria bernama Arman, sangat mempercayainya.

Namun di tengah proyek itu, Daniel menemukan sesuatu yang mengganggu. Ada laporan keuangan yang dimanipulasi agar perusahaan terlihat lebih menguntungkan di mata investor.

Daniel memberanikan diri bertanya, “Pak, data ini salah. Kalau dipakai bisa jadi masalah.”

Arman hanya tersenyum tipis. “Di dunia kerja, yang penting hasil akhirnya. Semua perusahaan juga melakukan hal yang sama.”

“Tapi ini tidak jujur, Pak.”

Arman menatap Daniel serius. “Kamu mau kariermu naik atau tidak?”

Kalimat itu terus terngiang di kepala Daniel.

Malamnya ia pulang ke apartemen dengan hati gelisah. Untuk pertama kali setelah bertahun-tahun, ia merasa sangat kosong. Ia mencoba tidur, tetapi pikirannya kacau.

Akhirnya ia memutuskan pulang ke rumah ayahnya di kota kecil.

Saat tiba, rumah itu masih sama. Cat dindingnya mulai pudar, meja kayunya masih tua, dan suara radio masih terdengar dari ruang kerja kecil di belakang rumah.

Ayahnya tersenyum hangat melihat Daniel datang.

“Mau minum teh?” tanyanya sederhana.

Daniel hanya mengangguk.

Malam itu hujan turun deras. Listrik sempat mati beberapa kali. Di tengah suara hujan, ayah Daniel tetap duduk memperbaiki radio tua.

Daniel memperhatikan ayahnya memutar knop radio perlahan-lahan. Suaranya berdesis, kadang hilang, lalu muncul kembali.

“Ayah masih saja memperbaiki radio rusak seperti ini?” tanya Daniel pelan.

Ayahnya tersenyum. “Kadang yang rusak bukan radionya. Hanya frekuensinya yang bergeser.”

Kalimat itu menusuk hati Daniel.

Beberapa saat mereka terdiam. Lalu ayahnya bertanya, “Kamu sedang menghadapi sesuatu?”

Daniel akhirnya bercerita semuanya — tentang tekanan pekerjaan, ketakutannya kehilangan jabatan, dan pergumulannya untuk memilih antara kejujuran atau masa depan kariernya.

Ayahnya mendengarkan tanpa memotong.

Setelah Daniel selesai berbicara, ayahnya mengambil radio tua itu dan menyerahkannya kepada Daniel.

“Coba dengarkan.”

Daniel mendekatkan telinganya. Yang terdengar hanya suara berisik.

“Putar perlahan,” kata ayahnya.

Daniel mengikuti instruksi itu. Sedikit demi sedikit suara musik mulai terdengar jelas di tengah gangguan.

“Nah,” kata ayahnya, “stasiunnya sebenarnya sudah ada sejak tadi. Tapi kamu tidak akan mendengarnya kalau terlalu banyak gangguan.”

Daniel terdiam.

Ayahnya lalu berkata pelan, “Hidupmu juga begitu. Tuhan tidak berhenti berbicara. Hanya saja dunia terlalu ramai sampai kamu lupa cara mendengar suara-Nya.”

Malam itu Daniel masuk ke kamar lamanya. Ia melihat Alkitab lamanya masih tersimpan rapi di meja kecil dekat jendela.

Dengan tangan gemetar ia membukanya kembali setelah sekian lama.

Matanya tertuju pada satu ayat:

“Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku.”
— 10:27

Daniel menangis malam itu.

Ia sadar selama ini ia terlalu sibuk mengejar suara dunia sampai kehilangan damai sejahtera Tuhan.

Keesokan harinya Daniel kembali ke kota. Dengan hati berdebar ia menemui atasannya.

“Saya tidak bisa melanjutkan laporan palsu itu, Pak.”

Arman marah besar. “Kamu sadar konsekuensinya?”

Daniel mengangguk. “Saya lebih takut kehilangan hati nurani saya.”

Beberapa minggu kemudian Daniel dipindahkan ke posisi yang lebih rendah. Banyak rekan menjauh darinya. Ada yang mengejeknya bodoh karena memilih kejujuran.

Tetapi anehnya, untuk pertama kali setelah bertahun-tahun, Daniel bisa tidur dengan tenang.

Beberapa bulan berlalu.

Suatu pagi berita besar muncul di televisi: perusahaan tempat Daniel bekerja tersandung kasus manipulasi keuangan besar-besaran. Banyak pejabat perusahaan diperiksa hukum, termasuk Arman.

Karena Daniel pernah menolak terlibat dan memiliki bukti yang jujur, ia justru dipanggil sebagai saksi yang membantu mengungkap kebenaran.

Tidak lama kemudian, sebuah perusahaan lain menawarkan Daniel pekerjaan baru. Kali ini bukan hanya karena kepintarannya, tetapi karena integritasnya.

Malam sebelum mulai bekerja di tempat baru, Daniel kembali pulang menemui ayahnya.

Ia melihat radio tua itu masih menyala di meja kerja kecil yang sama.

Daniel tersenyum lalu berkata, “Sekarang aku mengerti, Yah… bukan Tuhan yang menjauh. Aku saja yang terlalu sibuk mendengar suara lain.”

Ayahnya menatapnya hangat sambil berkata, “Dan kabar baiknya… Tuhan selalu sabar menunggu kita kembali ke frekuensi-Nya.”

Di luar rumah, hujan kecil turun perlahan. Tetapi malam itu hati Daniel terasa jauh lebih tenang daripada seluruh kemewahan yang pernah ia kejar.

Karena akhirnya ia menemukan kembali suara yang selama ini hilang.

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *