MUSUH BOLEH DATANG, TETAPI JANGAN KEHILANGAN TUHAN
Kemenangan Orang Percaya Bukan Karena Tidak Memiliki Masalah, Tetapi Karena Memiliki Tuhan yang Setia
Oleh: Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K.
Salah satu kesalahan terbesar yang sering terjadi dalam kehidupan orang percaya adalah menganggap bahwa mengikuti Tuhan berarti hidup tanpa masalah. Ketika badai datang, doa belum terjawab, atau persoalan semakin berat, sebagian orang mulai mempertanyakan kasih dan penyertaan Tuhan.
Padahal Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa orang percaya akan terbebas dari pergumulan. Justru Yesus berkata:
“Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yohanes 16:33)
Perhatikan baik-baik. Yesus tidak berkata bahwa murid-murid-Nya tidak akan mengalami kesulitan. Sebaliknya, Ia menegaskan bahwa penderitaan adalah bagian dari perjalanan iman. Namun yang membedakan orang percaya dengan dunia adalah kehadiran Tuhan di tengah pergumulan tersebut.
Banyak orang berfokus pada besarnya musuh, tetapi melupakan kebesaran Tuhan. Mereka menghitung kekuatan lawan, tetapi lupa menghitung kuasa Allah yang menyertai mereka.
Ketika bangsa Israel melihat Goliat, mereka melihat seorang raksasa yang mustahil dikalahkan. Namun ketika Daud melihat Goliat, ia tidak berfokus pada ukuran musuhnya, melainkan pada kebesaran Allah yang ia sembah.
Iman yang sejati bukanlah menyangkal kenyataan bahwa musuh itu ada. Iman adalah mempercayai bahwa Tuhan jauh lebih besar daripada musuh yang sedang kita hadapi.
Di sisi lain, kita juga perlu memahami bahwa tidak semua kesulitan berasal dari serangan iblis. Dalam pemahaman teologi yang sehat, ada kalanya Tuhan mengizinkan proses, ujian, bahkan penderitaan untuk membentuk karakter dan kedewasaan rohani kita.
Rasul Yakobus menulis:
“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” (Yakobus 1:2-3)
Karena itu, tidak setiap masalah harus dianggap sebagai kutuk atau serangan roh jahat. Ada kalanya Tuhan sedang mendidik, memurnikan, dan membentuk kita menjadi pribadi yang lebih serupa dengan Kristus.
Yang menjadi persoalan adalah ketika banyak orang justru menjauh dari Tuhan saat menghadapi tekanan hidup. Mereka berhenti berdoa, kehilangan semangat beribadah, bahkan mulai menyalahkan Tuhan atas keadaan yang mereka alami.
Padahal, dalam setiap pergumulan, yang paling dibutuhkan bukanlah jalan keluar yang instan, melainkan kehadiran Tuhan yang memberi kekuatan untuk bertahan.
Kunci kemenangan orang percaya bukan terletak pada seberapa cepat masalah itu berakhir, tetapi pada seberapa erat hubungan kita dengan Tuhan selama menjalani proses tersebut.
Daud menang bukan karena pedangnya.
Daniel selamat bukan karena kecerdasannya.
Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dipelihara bukan karena kekuatan mereka.
Semua terjadi karena Tuhan menyertai mereka.
Alkitab tidak pernah menjanjikan hidup tanpa badai.
Tetapi Alkitab menjanjikan bahwa Tuhan akan hadir di dalam badai itu.
“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.” (Mazmur 23:4)
Perhatikan, Daud tidak berkata Tuhan menghindarkannya dari lembah kekelaman. Daud berkata Tuhan menyertainya ketika ia berjalan melewati lembah itu.
Inilah inti kehidupan Kristen yang sesungguhnya.
Kemenangan bukan berarti tidak ada musuh.
Kemenangan bukan berarti tidak ada air mata.
Kemenangan bukan berarti tidak ada pergumulan.
Kemenangan adalah tetap percaya kepada Tuhan ketika keadaan tidak sesuai harapan.
Kemenangan adalah tetap setia ketika doa belum terjawab.
Kemenangan adalah tetap memegang Firman Tuhan ketika dunia menawarkan jalan pintas.
Hari ini mungkin ada “musuh” yang sedang mengepung hidup kita. Bisa berupa masalah ekonomi, sakit penyakit, konflik keluarga, tekanan pekerjaan, atau pergumulan pelayanan.
Jangan fokus kepada besarnya masalah.
Jangan fokus kepada kuatnya musuh.
Fokuslah kepada Tuhan yang memegang hidup kita.
Sebab pada akhirnya, kemenangan orang percaya tidak ditentukan oleh kemampuan bertarungnya, melainkan oleh siapa yang berjalan bersamanya.
Dan selama Kristus berjalan bersama kita, tidak ada satu pun pergumulan yang mampu memisahkan kita dari kasih-Nya.
“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah.” (Roma 8:38-39)
Tetaplah setia.
Tetaplah berdoa.
Tetaplah berjalan bersama Tuhan.
Karena Tuhan tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya yang berharap kepada-Nya.


