JANGAN TERLALU SIBUK MERENCANAKAN, SAMPAI LUPA MENJALANI
“Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.”
(Yakobus 4:14)
Banyak orang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mempersiapkan masa depan, tetapi lupa menghidupi hari ini. Kita sibuk menyusun target lima tahun ke depan, mengejar impian yang belum tentu terjadi, dan mengkhawatirkan berbagai kemungkinan yang bahkan belum tentu datang. Tanpa sadar, kita menjadi ahli merancang kehidupan, tetapi gagal menikmati penyertaan Tuhan pada hari ini.
Dunia modern mengajarkan bahwa masa depan adalah segalanya. Semakin banyak tabungan, semakin tinggi jabatan, semakin matang perencanaan, semakin aman hidup seseorang. Namun Alkitab menawarkan perspektif yang berbeda. Keamanan hidup bukan berasal dari kemampuan manusia memprediksi masa depan, melainkan dari keyakinan bahwa Allah tetap berdaulat atas masa depan.
Yakobus tidak sedang menentang perencanaan. Ia sedang mengoreksi hati manusia yang merasa mampu mengendalikan hidupnya sendiri. Masalah terbesar bukanlah memiliki rencana, tetapi ketika rencana menggantikan ketergantungan kepada Tuhan.
Ironisnya, banyak orang menunda melakukan hal-hal yang paling penting. Mereka menunda meminta maaf. Menunda mengasihi keluarga. Menunda melayani Tuhan. Menunda bertobat. Menunda menjadi berkat. Mereka menunggu waktu yang dianggap lebih tepat, padahal sering kali kesempatan itu tidak pernah datang kembali.
Kita hidup dalam generasi yang selalu berkata, “Nanti.” Nanti kalau pekerjaan sudah stabil. Nanti kalau ekonomi membaik. Nanti kalau masalah selesai. Nanti kalau sudah pensiun. Padahal iman yang sejati selalu hidup dalam kata “hari ini”.
Tuhan tidak pernah menjanjikan kita hari esok. Yang Tuhan berikan adalah kesempatan hari ini. Karena itu, setiap pagi adalah undangan baru untuk hidup dalam kehendak-Nya. Setiap napas adalah bukti bahwa kasih karunia-Nya masih bekerja. Setiap kesempatan adalah ladang pelayanan yang dipercayakan kepada kita.
Orang yang bijaksana bukanlah orang yang mengetahui masa depannya, melainkan orang yang mengetahui kepada siapa ia mempercayakan masa depannya. Ketika hidup berada dalam tangan Tuhan, ketidakpastian tidak lagi menjadi ancaman, melainkan ruang untuk melihat karya-Nya dinyatakan.
Mungkin hari ini Anda tidak tahu apa yang akan terjadi minggu depan. Mungkin ada banyak pertanyaan yang belum terjawab. Mungkin jalan di depan terlihat samar. Namun satu hal yang pasti: Tuhan yang memimpin Anda kemarin tidak akan meninggalkan Anda hari ini, dan Tuhan yang menyertai Anda hari ini sudah berada di masa depan yang belum Anda lihat.
Karena itu, jangan habiskan energi hanya untuk mencemaskan apa yang belum terjadi. Gunakan hari ini untuk melakukan apa yang benar. Kasihi lebih sungguh. Layani lebih tulus. Bersyukur lebih banyak. Berdoa lebih dalam. Dan berjalanlah lebih dekat dengan Tuhan.
Sebab pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa jauh kita mampu melihat ke depan, tetapi seberapa setia kita berjalan bersama Tuhan pada hari ini.
Renungan Pribadi
Hari ini, apakah saya sedang hidup dalam iman kepada Tuhan atau dalam kekhawatiran terhadap masa depan?
Doa
Tuhan, ajarku untuk menghargai setiap hari yang Engkau berikan. Jauhkan aku dari kesombongan yang merasa mampu mengendalikan hidup, dan lepaskan aku dari ketakutan yang membuatku kehilangan damai sejahtera. Tolong aku menjalani hari ini dengan setia, sebab Engkaulah Tuhan atas hari ini dan hari esok. Amin.
GBU
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K.


