Pdt. Ricardo R.J. Palijama: Pancasila Adalah Jangkar Bangsa di Tengah Gelombang Perubahan Dunia
Ketua Sinode Badan Musyawarah GMI Mengajak Seluruh Anak Bangsa Menjaga Persatuan Sebagai Warisan Terbesar Indonesia
Bandung, Jawa Barat, 30 Mei 2026 – Sejarah telah membuktikan bahwa banyak bangsa besar runtuh bukan karena serangan dari luar, melainkan karena melemahnya persatuan, hilangnya kepercayaan sosial, dan lunturnya nilai-nilai yang selama ini menjadi perekat kehidupan bersama.
Indonesia sebagai bangsa yang dibangun di atas keberagaman suku, agama, budaya, dan bahasa memiliki tantangan yang tidak ringan dalam menjaga keutuhan nasional. Namun di balik keragaman tersebut, Indonesia juga memiliki kekuatan besar yang tidak dimiliki banyak negara lain, yaitu Pancasila.
Menjelang peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 2026, refleksi mengenai masa depan kebangsaan kembali mengemuka. Di tengah perubahan global yang berlangsung cepat, berbagai kalangan menilai pentingnya menguatkan kembali nilai-nilai kebangsaan sebagai fondasi menghadapi tantangan zaman.
Saat dihubungi Tim Media pada Sabtu pagi (30/5/2026), Ketua Sinode Badan Musyawarah Gereja Methodist Injili (GMI), Pdt. Ricardo R.J. Palijama, mengatakan bahwa Pancasila harus terus dijaga sebagai jangkar bangsa yang menjaga Indonesia tetap kokoh di tengah berbagai gelombang perubahan dunia.
Menurutnya, bangsa Indonesia saat ini hidup di era yang penuh dinamika. Kemajuan teknologi, keterbukaan informasi, dan perkembangan global membawa banyak peluang, namun sekaligus menghadirkan tantangan baru yang dapat menguji ketahanan sosial bangsa.
“Di tengah dunia yang terus berubah, Indonesia membutuhkan pijakan yang kuat agar tidak kehilangan arah. Pancasila adalah jangkar yang menjaga bangsa ini tetap berdiri teguh dalam menghadapi berbagai perubahan dan tantangan zaman,” ujar Pdt. Ricardo.
Ia menilai bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemampuan ekonomi atau penguasaan teknologi, tetapi juga oleh kekuatan karakter masyarakatnya.
Menurutnya, bangsa yang memiliki karakter kuat akan mampu menghadapi berbagai krisis tanpa kehilangan identitas dan tujuan bersama.
“Kita sedang memasuki era kompetisi global yang sangat ketat. Namun sebesar apa pun kemajuan yang dicapai, semuanya akan kehilangan makna apabila bangsa ini kehilangan persatuan, kehilangan integritas, dan kehilangan kepedulian terhadap sesama,” katanya.
Merawat Indonesia dengan Semangat Kebersamaan
Pdt. Ricardo menegaskan bahwa salah satu kekuatan terbesar Indonesia adalah budaya kebersamaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Menurutnya, semangat gotong royong telah menjadi bagian dari identitas bangsa jauh sebelum Indonesia merdeka.
Karena itu, ia mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak dalam pola pikir yang hanya mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.
“Indonesia tidak dibangun oleh semangat individualisme. Indonesia dibangun oleh kebersamaan, pengorbanan, dan kerja sama. Nilai-nilai itulah yang harus terus dirawat jika kita ingin bangsa ini tetap kuat,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa perbedaan yang ada di tengah masyarakat seharusnya menjadi sumber kekuatan, bukan alasan untuk menciptakan jarak atau permusuhan.
Menurutnya, bangsa yang dewasa adalah bangsa yang mampu menghormati perbedaan tanpa kehilangan persatuan.
Gereja dan Tanggung Jawab Menjaga Keharmonisan Bangsa
Sebagai pemimpin gereja, Pdt. Ricardo menilai bahwa gereja memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menjaga keharmonisan kehidupan berbangsa.
Ia menjelaskan bahwa ajaran Kristiani mengajarkan kasih kepada sesama, penghormatan terhadap martabat manusia, serta panggilan untuk menjadi pembawa damai di tengah masyarakat.
Menurutnya, gereja tidak boleh hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga harus menjadi sumber inspirasi bagi lahirnya kehidupan sosial yang lebih baik.
“Ketika gereja hadir untuk melayani, menguatkan yang lemah, membangun persaudaraan, dan menghadirkan damai sejahtera, maka gereja sedang menjalankan misi yang berdampak bagi bangsa dan negara,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa iman yang dewasa akan melahirkan kepedulian terhadap sesama dan tanggung jawab terhadap masa depan bangsa.
Indonesia Emas Membutuhkan Generasi Berkarakter
Pdt. Ricardo juga menyoroti pentingnya mempersiapkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki integritas dan kecintaan terhadap bangsa.
Menurutnya, Indonesia Emas 2045 tidak akan terwujud hanya dengan kemajuan teknologi dan pembangunan ekonomi.
Bangsa ini membutuhkan generasi yang memiliki karakter kuat, semangat melayani, serta kesadaran bahwa keberhasilan pribadi harus berjalan seiring dengan kemajuan bangsa.
“Generasi muda harus memahami bahwa mereka bukan hanya pewaris Indonesia, tetapi juga penjaga masa depan Indonesia. Karena itu mereka harus dibekali dengan nilai-nilai kebangsaan, integritas, dan semangat pengabdian kepada masyarakat,” katanya.
Menjelang Hari Lahir Pancasila 2026, Pdt. Ricardo mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk kembali menjadikan Pancasila sebagai sumber inspirasi dalam membangun kehidupan berbangsa yang lebih harmonis, adil, dan bermartabat.
“Pancasila bukan sekadar dokumen sejarah. Pancasila adalah warisan hidup yang harus terus dijaga. Selama nilai-nilai Pancasila tetap menjadi pedoman dalam kehidupan masyarakat, saya percaya Indonesia akan tetap menjadi bangsa yang kuat, bersatu, dan mampu memberikan harapan bagi dunia,” pungkasnya.
Jurnalis: Romo Kefas
Narasumber:
Pdt. Ricardo R.J. Palijama
Ketua Sinode Badan Musyawarah GMI
Bandung, Jawa Barat (30/5/2026).


