Filadelfianews.com – Belajar dari Hakim-hakim 4 tentang Kedaulatan yang Mengganggu
Kita suka membuat skenario.
Dalam hidup, kita menilai siapa yang layak dipakai Tuhan,
siapa yang seharusnya berhasil,
dan bagaimana akhir dari sebuah pergumulan.
Semua terasa masuk akal.
Semua tampak logis.
Namun Hakim-hakim 4 menghancurkan cara pikir itu.
Israel jatuh dalam dosa—lagi.
Tuhan menyerahkan mereka ke dalam penindasan.
Sisera menjadi simbol kekuatan yang tidak terkalahkan.
Lalu Tuhan mulai bekerja.
Debora dipanggil.
Barak diutus.
Janji kemenangan diberikan.
Jika ini sebuah cerita biasa,
kita sudah tahu bagaimana akhirnya:
Barak akan maju,
Debora akan mendukung,
dan kemenangan akan terjadi melalui mereka.
Namun Tuhan tidak mengikuti skenario manusia.
Barak ragu.
Ia tidak berani melangkah tanpa Debora.
Dan pada titik itu, arah cerita mulai berubah.
Tuhan menyatakan sesuatu yang tidak nyaman:
kehormatan itu tidak akan diberikan kepada Barak.
Ini bukan sekadar soal strategi perang.
Ini soal hati.
Keraguan Barak bukan hanya kelemahan,
tetapi membuka ruang bagi Tuhan untuk menunjukkan bahwa
kemuliaan tidak diberikan berdasarkan posisi,
melainkan berdasarkan kedaulatan-Nya.
Lalu muncullah nama yang hampir tidak diperhitungkan: Yael.
Bukan pemimpin.
Bukan bagian dari pusat cerita.
Bahkan berasal dari latar yang ambigu.
Namun justru di tangannya,
akhir dari Sisera ditentukan.
Ketika Tuhan “Mengganggu” Logika Kita
Kita sering ingin Tuhan bekerja sesuai harapan kita:
- melalui orang yang kita anggap layak
- melalui cara yang kita pahami
- melalui jalan yang terasa aman
Namun Tuhan tidak tunduk pada logika manusia.
Ia sengaja memilih cara yang tidak terduga,
agar tidak ada manusia yang mengambil kemuliaan bagi dirinya sendiri.
Hakim-hakim 4 bukan hanya cerita kemenangan.
Ini adalah koreksi terhadap kesombongan halus manusia.
Masalah Kita: Terlalu Yakin dengan Versi Kita
Sering kali kita tidak kecewa karena Tuhan tidak bekerja,
tetapi karena Tuhan tidak bekerja sesuai versi kita.
Kita sudah punya gambaran:
bagaimana Tuhan seharusnya menolong,
siapa yang seharusnya dipakai,
kapan semuanya seharusnya selesai.
Ketika realitas berbeda,
kita mulai goyah.
Padahal mungkin, bukan Tuhan yang salah—
tetapi ekspektasi kita yang terlalu sempit.
Iman yang Benar: Percaya Tanpa Mengatur
Iman bukanlah kemampuan untuk menebak rencana Tuhan.
Iman adalah kepercayaan bahwa rencana-Nya tetap benar,
meskipun kita tidak memahaminya.
Tuhan tidak meminta kita mengerti seluruh cerita.
Ia hanya meminta kita percaya kepada-Nya.
Mungkin hari ini hidupmu tidak berjalan sesuai rencana.
Yang kamu harapkan tidak terjadi.
Yang kamu andalkan tidak bekerja.
Yang kamu kira pasti, justru runtuh.
Jangan buru-buru menyimpulkan.
Bisa jadi, kamu sedang berada di bagian cerita
di mana Tuhan mulai menulis sesuatu yang tidak kamu duga.
Tuhan tidak pernah salah menulis cerita.
Yang sering keliru adalah kita—yang terlalu cepat menyimpulkan akhirnya.
Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K.


