Filadelfianews.com Ada satu realitas rohani yang sering tidak kita sadari: seseorang bisa duduk sangat dekat dengan Kristus, mendengar setiap perkataan-Nya, namun tetap tidak mengalami perubahan hati.
(Renungkan: Matius 7:21–23)
Menurut Thomas Goodwin (1600–1680), mendengar Injil saja tidak pernah cukup untuk membuktikan keselamatan. Yang menentukan adalah bagaimana hati merespons kebenaran itu. Banyak orang terbiasa mendengar firman, tetapi tanpa respons yang benar, hingga akhirnya kebenaran itu tidak lagi mengguncang batin mereka.
(Renungkan: 2 Timotius 4:3–4)
Firman yang seharusnya:
menusuk hati,
menegur dosa,
dan merendahkan ego,
justru berubah menjadi sekadar informasi yang lewat begitu saja.
(Renungkan: Ibrani 4:12; Yakobus 1:22–24)
Inilah bahaya terbesar dalam kehidupan rohani: ilusi kedekatan dengan Tuhan.
Seseorang bisa:
aktif dalam ibadah,
memahami doktrin,
bahkan menikmati diskusi teologi,
namun tetap asing terhadap pertobatan sejati.
Yudas adalah contoh paling tragis. Ia hidup bersama Kristus, mendengar langsung ajaran-Nya, menyaksikan mujizat, tetapi hatinya tidak pernah benar-benar tunduk.
Ini menjadi peringatan keras bagi kita semua:
kedekatan lahiriah dengan hal-hal rohani tidak pernah menjamin perubahan batiniah.
Injil yang sejati bukan hanya memberikan penghiburan atau kelegaan, tetapi juga:
menghancurkan kesombongan,
menyingkap dosa,
dan memanggil manusia untuk berbalik dari jalannya.
Pertanyaannya sekarang:
Apakah firman Tuhan masih mengganggu zona nyaman kita?
Apakah ada dosa yang benar-benar kita tinggalkan?
Ataukah kita hanya menjadi pendengar yang menikmati tanpa mengalami perubahan?
Menurut Goodwin, pekerjaan Roh Kudus selalu nyata. Bukan sekadar emosi sesaat, tetapi transformasi yang terus berlangsung dalam hidup seseorang.
(Renungkan: 2 Korintus 3:18; Galatia 5:22–24)
Jika tidak ada perubahan, maka ada dua kemungkinan:
kita menolak pekerjaan Roh itu,
atau kita tidak pernah benar-benar menerimanya.
(Renungkan: Kisah Para Rasul 7:51)
Pada akhirnya, perbedaan antara iman yang sejati dan iman yang semu tidak terletak pada seberapa banyak kita mendengar kebenaran, tetapi pada bagaimana kita meresponsnya.
Sebab firman Tuhan bukan hanya untuk didengar, tetapi untuk ditaati.
Dan dari ketaatan itulah terlihat apakah seseorang sungguh hidup di dalam kebenaran, atau hanya berada di sekitarnya.
(Renungkan: Yakobus 1:25; Yohanes 14:23)
Selamat sejahtera, dalam perkenan-Nya.
STAY IN GOD. Jaga kesehatan, tetap semangat dan antusias.
Tuhan Yesus melimpahkan rahmat-Nya sehingga terobosan ilahi, jalan keluar ilahi, penyelesaian ilahi dan pelipatgandaan ilahi dinyatakan dalam seluruh area kehidupan kita.
Abah Daniel
—


