FiladelfiaNews.com
Matius 13:13–17
“Namun, berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar.” (Mat. 13:16)
Kita hidup di zaman yang aneh:
Alkitab ada di mana-mana,
tetapi kebenaran terasa langka.
Tidak sulit menemukan firman Tuhan.
Yang sulit adalah menemukan orang yang benar-benar berubah oleh firman itu.
Kita membaca—tetapi tidak melihat.
Kita mendengar—tetapi tidak menangkap.
Kita tahu—tetapi tidak menghidupi.
Ironisnya, semakin dekat seseorang dengan hal-hal rohani,
semakin besar kemungkinan ia merasa sudah “cukup tahu”.
Inilah bahaya yang tidak terlihat.
Orang-orang pada zaman Yesus tidak kekurangan pengajaran.
Mereka mendengar langsung dari Sang Firman yang hidup.
Namun tetap saja, mereka tidak mengerti.
Bukan karena Yesus tidak jelas.
Tetapi karena hati mereka tidak terbuka.
Hari ini, situasinya tidak jauh berbeda—bahkan mungkin lebih parah.
Kita memiliki:
- Alkitab di tangan
- Renungan setiap hari
- Khotbah di berbagai platform
- Diskusi rohani di mana-mana
Namun semua itu tidak menjamin satu hal: perubahan.
Mengapa?
Karena firman Tuhan bisa didengar tanpa pernah diterima.
Bisa dibaca tanpa pernah direnungkan.
Bisa dipelajari tanpa pernah ditaati.
Dan di titik ini, iman berubah menjadi ilusi.
Kita merasa dekat dengan Tuhan,
padahal yang kita miliki hanyalah kedekatan dengan aktivitas rohani.
Kita merasa mengerti firman,
padahal yang kita kuasai hanyalah informasi, bukan transformasi.
Inilah yang Yesus maksudkan:
melihat tetapi tidak melihat,
mendengar tetapi tidak mendengar.
Ini bukan ketidaktahuan.
Ini penolakan yang halus.
Penolakan yang tidak berbentuk perlawanan,
tetapi berupa ketidakpedulian.
Firman didengar—lalu dilupakan.
Teguran terasa—lalu diabaikan.
Kebenaran diketahui—lalu dinegosiasikan.
Dan semua itu terjadi tanpa rasa bersalah,
karena dibungkus dengan aktivitas rohani.
Inilah ironi terbesar:
orang bisa sangat “rohani” di luar,
tetapi tetap tidak tersentuh di dalam.
Sementara itu, para murid disebut berbahagia.
Bukan karena mereka lebih pintar.
Bukan karena mereka lebih layak.
Tetapi karena mereka merespons.
Mereka melihat—dan percaya.
Mereka mendengar—dan mengikuti.
Apa yang mereka terima tidak berhenti di pikiran,
tetapi turun ke hati dan mengubah hidup.
Itulah perbedaan yang menentukan.
Hari ini, mungkin kita tidak menolak firman secara terang-terangan.
Kita tidak menentang.
Kita tidak melawan.
Namun jika firman tidak mengubah hidup kita,
maka pada praktiknya, kita sedang melakukan hal yang sama.
Masalah terbesar bukanlah tidak memiliki firman.
Masalah terbesar adalah memiliki firman,
tetapi tidak pernah membiarkannya bekerja.
Alkitab tidak pernah dimaksudkan hanya untuk dibaca,
tetapi untuk ditaati.
Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K.


