FiladelfiaNews.com
Yohanes 20:11–18
Ada momen dalam hidup ketika kesedihan begitu dalam,
hingga kita tidak lagi mampu melihat dengan jernih.
Bukan karena tidak ada yang bisa dilihat,
tetapi karena hati kita sudah dipenuhi oleh kehilangan.
Maria Magdalena ada di titik itu.
Ia berdiri di luar kubur.
Tidak bergerak.
Tidak mencari ke mana-mana.
Ia hanya menangis.
Tangis yang bukan sekadar emosi,
melainkan luapan dari hati yang hancur.
Baginya, semuanya sudah berakhir.
Yesus yang ia kasihi telah mati.
Dan kini… bahkan tubuh-Nya pun tidak ada.
Dalam pikirannya hanya satu:
semua telah hilang.
Ketika Kehilangan Menjadi Pusat Segalanya
Maria melihat kubur kosong,
tetapi ia tidak melihat makna.
Ia berbicara dengan malaikat,
tetapi ia tidak menangkap pesan.
Ia bahkan berbicara dengan Yesus—
namun tetap tidak mengenali-Nya.
Ini bukan karena Yesus tidak jelas,
tetapi karena Maria terlalu fokus pada kesedihannya.
Kehilangan telah menjadi pusat pikirannya.
Dan ketika kehilangan menjadi pusat,
segala sesuatu yang lain menjadi kabur.
Tuhan Lebih Dekat dari yang Kita Sangka
Yang paling menggetarkan dari kisah ini adalah satu fakta sederhana:
Yesus berdiri sangat dekat.
Bukan jauh.
Bukan tersembunyi.
Dekat.
Namun Maria tidak melihat-Nya.
Bukankah ini juga potret hidup kita?
Kita sering berkata,
“Tuhan, di mana Engkau?”
Padahal mungkin…
Ia sedang berdiri tepat di samping kita.
Satu Panggilan yang Membuka Mata
Segalanya berubah bukan karena keadaan berubah,
tetapi karena Maria dipanggil.
“Yesus berkata kepadanya: Maria!”
Satu kata.
Satu nama.
Namun cukup untuk membuka semuanya.
Dalam sekejap,
yang tadinya kabur menjadi jelas.
Yang tadinya tertutup menjadi nyata.
Ia tidak lagi melihat dengan mata yang dikuasai air mata,
tetapi dengan hati yang mengenal.
“Rabuni.”
Sebuah pengakuan yang lahir dari perjumpaan,
bukan sekadar penglihatan.
Masalahnya Bukan Tuhan Tidak Hadir
Seringkali kita berpikir:
Tuhan tidak ada.
Padahal yang terjadi adalah:
kita tidak mengenali kehadiran-Nya.
Tuhan tidak pernah meninggalkan.
Ia tidak pernah jauh.
Namun hati yang terluka,
pikiran yang penuh ketakutan,
dan fokus yang salah—
membuat kita tidak mampu melihat Dia yang sudah ada.
Dari Tangisan Menuju Pengutusan
Maria datang dengan air mata,
tetapi pulang dengan misi.
Ia datang dalam duka,
tetapi pergi membawa kabar sukacita.
Yesus berkata:
“Pergilah kepada saudara-saudara-Ku.”
Iman tidak berhenti pada pengalaman pribadi.
Iman harus bergerak menjadi kesaksian.
Maria tidak membawa teori.
Ia tidak membawa doktrin.
Ia membawa pengalaman.
“Aku telah melihat Tuhan.”
Dan itu cukup untuk mengubah segalanya.
Refleksi: Apa yang Sedang Kita Lihat?
Hari ini mungkin kita tidak berdiri di depan kubur.
Namun kita berdiri di depan persoalan hidup.
Tanpa sadar, kita mulai melihat hidup hanya dari satu sisi:
kehilangan, tekanan, dan ketakutan.
Padahal bisa jadi,
Tuhan sedang bekerja—
tepat di depan kita.
Namun kita tidak melihat,
karena kita terlalu sibuk menangisi apa yang hilang.
Jangan Biarkan Air Mata Menutup Iman
Air mata itu nyata.
Kehilangan itu nyata.
Kesedihan itu juga nyata.
Namun satu hal yang lebih nyata:
Tuhan tetap hadir.
Masalahnya bukan pada kehadiran-Nya,
tetapi pada fokus kita.
Karena itu…
jangan biarkan air mata menutup iman.
Jangan biarkan kehilangan menghalangi kita melihat Tuhan.
Sebab bisa jadi,
di tengah tangisan kita…
Ia sedang berdiri sangat dekat,
dan memanggil nama kita.
Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K


