FiladelfiaNews.com
Bacaan: Lukas 15:11–24
Setahun: 1 Samuel 1–3
“Aku tidak layak lagi disebut anak Bapa…”
(Lukas 15:19)
Ada satu ilusi rohani yang diam-diam hidup dalam banyak orang percaya:
kita ingin diampuni Tuhan, tapi tetap merasa kita pantas untuk diampuni.
Kita berkata, “Tuhan baik,”
tapi dalam hati kita berpikir,
“Ya memang… saya juga tidak terlalu buruk.”
Di sinilah masalahnya.
Ketika anak bungsu itu jatuh, ia jatuh total.
Tidak ada uang.
Tidak ada harga diri.
Tidak ada pembelaan.
Ia bahkan tidak punya alasan untuk membela dirinya.
Dan justru di titik itu, ia mulai benar.
Ia berkata:
“Aku tidak layak.”
Bukan karena ia merendahkan diri secara dramatis,
tetapi karena ia akhirnya jujur.
Kita tidak seperti anak bungsu itu.
Kita masih punya pembenaran:
- “Saya memang salah, tapi tidak separah itu…”
- “Saya masih lebih baik dari yang lain…”
- “Saya masih aktif pelayanan…”
Dan tanpa sadar, kita datang kepada Tuhan
bukan sebagai orang berdosa—
tetapi sebagai orang yang merasa masih punya nilai.
Padahal Injil berkata:
keselamatan dimulai saat kita sadar kita tidak punya apa-apa.
Mari jujur.
Mengapa banyak orang sulit menerima anugerah?
Karena anugerah menghancurkan ego.
Anugerah berkata:
“Kamu tidak pantas, tapi tetap diterima.”
Dan itu menyakitkan bagi orang yang masih ingin dihargai karena usahanya.
Secara logika, anak itu seharusnya ditolak.
Ia telah:
- meminta warisan sebelum waktunya
- meninggalkan rumah
- menghabiskan semuanya
- hidup dalam dosa
Kalau pakai standar manusia,
ia tidak layak kembali sebagai anak.
Minimal… jadi pelayan.
Tapi bapanya tidak berpikir seperti itu.
Ia berlari.
Ia memeluk.
Ia memulihkan.
Tanpa syarat.
Ini tidak adil.
Dan memang tidak dimaksudkan untuk adil.
Ini anugerah.
Salib adalah bukti paling jelas.
Yesus tidak mati untuk orang yang layak.
Ia mati untuk orang berdosa.
Artinya:
semakin kita sadar ketidaklayakan kita, semakin kita mengerti besarnya anugerah.
Bukan kita yang memenuhi standar Tuhan.
Kristus yang memenuhi itu bagi kita.
“Urip iku mung sakdermo nglakoni.”
(Hidup ini hanya menjalani, bukan untuk disombongkan.)
Artinya, tidak ada yang benar-benar bisa kita banggakan di hadapan Tuhan.
Semua adalah anugerah.
Selama kita masih merasa pantas diterima Tuhan, kita belum benar-benar mengerti kasih Tuhan.
Berhenti berusaha terlihat layak.
Datang saja.
Dengan dosa.
Dengan kegagalan.
Dengan kejujuran.
Karena Tuhan tidak sedang mencari orang yang pantas.
Tuhan sedang menunggu orang yang mau pulang.
Bukan karena kita layak, tetapi karena Dia mengasihi—itulah alasan kita diterima.
Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, SH, S.Th, M.Pd.K
Jurnalis Senior, Penggiat Budaya dan Rohaniawan pada Sinode GPIAI


