FiladelfiaNews.com
Bacaan: Matius 26:47–56
Setahun: Rut 1–4
“Atau kausangka bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku?”
(Matius 26:53)
Di Taman Getsemani, kita melihat sebuah paradoks iman yang dalam: Yesus yang Mahakuasa tampak tidak berdaya. Ia dikhianati, ditangkap, dan tidak melawan. Secara manusia, ini tampak seperti kekalahan. Namun secara teologis, ini adalah puncak ketaatan yang membawa keselamatan.
Banyak orang keliru memahami momen ini. Mereka melihat diamnya Yesus sebagai tanda kelemahan. Padahal Alkitab justru menyingkapkan sebaliknya: Yesus memiliki kuasa penuh untuk membebaskan diri-Nya. Ia dapat memanggil bala tentara malaikat. Ia tidak kekurangan kuasa—Ia memilih untuk tunduk.
Di sinilah letak inti teologi salib:
Yesus tidak kehilangan kendali, tetapi secara sadar menyerahkan diri dalam ketaatan kepada kehendak Bapa.
KEDAULATAN ALLAH TIDAK PERNAH TERGANGGU
Dalam perspektif iman Kristen, Allah tetap berdaulat atas segala sesuatu, bahkan di tengah kejahatan manusia. Penangkapan Yesus bukanlah kecelakaan sejarah, melainkan bagian dari rencana penebusan yang sudah ditetapkan.
Apa yang dilakukan oleh Yudas dan para pemimpin agama adalah tindakan dosa. Namun Allah, dalam kedaulatan-Nya, memakai peristiwa itu untuk menggenapi karya keselamatan.
Ini menunjukkan bahwa:
kejahatan manusia tidak pernah mampu menggagalkan rencana Allah.
KETAATAN KRISTUS MENJADI DASAR KESELAMATAN
Yesus tidak memilih jalan mudah. Ia memilih jalan salib.
“…supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci.” (Matius 26:54)
Ketaatan Kristus bukan sekadar contoh moral, tetapi dasar keselamatan bagi umat manusia. Melalui ketaatan-Nya sampai mati, Ia membuka jalan pendamaian antara manusia dengan Allah.
Karena itu, keselamatan bukan hasil usaha manusia, melainkan anugerah yang dikerjakan melalui ketaatan Kristus.
IMPLIKASI BAGI KEHIDUPAN ORANG PERCAYA
Pemahaman ini penting bagi kehidupan kita hari ini.
Sering kali kita menilai keadaan hanya dari apa yang terlihat. Ketika Tuhan tidak segera bertindak, kita mengira Ia diam. Ketika doa belum dijawab, kita merasa ditinggalkan.
Namun iman Kristen mengajarkan bahwa:
ketiadaan intervensi yang terlihat bukan berarti ketiadaan karya Allah.
Allah tetap bekerja, bahkan ketika kita tidak memahami cara-Nya.
IMAN YANG DEWASA ADALAH IMAN YANG PERCAYA DALAM KETIDAKPASTIAN
Kita dipanggil bukan hanya untuk percaya ketika segala sesuatu berjalan baik, tetapi juga ketika situasi tampak berlawanan.
Yesus sendiri menunjukkan bahwa ketaatan kepada Allah tidak selalu berarti menghindari penderitaan, tetapi sering kali melewati penderitaan dengan tujuan yang lebih besar.
Kedaulatan Allah tidak berarti kita selalu mengerti jalan-Nya, tetapi menjamin bahwa segala sesuatu berada dalam kendali-Nya dan mengarah pada penggenapan kehendak-Nya.
Peristiwa Getsemani mengajarkan kita bahwa diamnya Tuhan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian dari karya keselamatan yang lebih besar.
Ketika hidup terasa tidak terkendali, kita diingatkan bahwa Allah tidak pernah kehilangan kendali. Ia tetap bekerja melalui cara yang sering melampaui pemahaman kita.
Karena itu, iman bukan sekadar melihat kuasa Tuhan dalam mujizat, tetapi juga mempercayai-Nya dalam keheningan.
DALAM KEHENINGAN YANG TERLIHAT LEMAH, ALLAH SEDANG MENGERJAKAN KESELAMATAN YANG BESAR.
Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, SH, S.Th, M.Pd.K
Jurnalis Senior, Penggiat Budaya dan Rohaniawan pada Sinode GPIAI


