Papi Sang Motivator

Spread the love

Kesaksian Ibu Mei, Warga BSD Tangerang
Penyunting: rt / rgy

Filadelfianews.com – Jika aku menoleh ke masa kecilku, rasanya seperti membuka album kenangan yang penuh warna dan kehangatan. Aku masih mengingat masa-masa tinggal bersama papi, mami, dan mas Is di sebuah desa kecil yang saat itu bahkan belum memiliki aliran listrik. Malam-malam kami hanya diterangi lampu minyak, tetapi cinta dan tawa di rumah membuat semuanya terasa terang.

Kini, setelah waktu berlalu dan papi serta mami telah berpulang ke hadirat Tuhan, kenangan itu menjadi semakin berharga. Dari semua perjalanan hidup itu, ada satu hal yang tak pernah pudar — sosok papi yang selalu memberi semangat dan menyalakan harapan.

Bagiku dan mas Is, ia akan selalu dikenal sebagai “Papi Sang Motivator.”


Kasih yang Sederhana, Namun Bermakna

Setiap kali papi pulang dari kota dengan Vespa tuanya, aku dan mas Is selalu berlari menyambutnya. Di tangannya biasanya ada sekotak martabak manis — jajanan yang sangat mewah bagi kami saat itu.

Martabak berlapis mentega dan cokelat itu bukan sekadar makanan, tetapi simbol kasihnya yang tulus. Ia membungkusnya dengan kardus sederhana dan serbet bersih, karena saat itu belum ada kantong plastik.

Sementara mami yang berprinsip hemat kadang menegur kebiasaannya, di situlah keindahan keluarga kami terlihat: kasih papi dan kebijaksanaan mami saling melengkapi.

“Kasih itu sabar, kasih itu murah hati… ia tidak mencari keuntungan diri sendiri.”
— 1 Korintus 13:4–5


Menghargai Berkat Sekecil Apa Pun

Aku juga masih mengingat kebiasaan papi saat menikmati buah mangga dari halaman rumah. Ia mengupas, memotong, lalu membagikannya kepada kami.

Setelah itu, ia akan menggerogoti biji mangga sampai bersih. Dulu terasa lucu, tetapi kini aku mengerti — papi sedang mengajarkan kami untuk menghargai setiap berkat dari Elohim, tanpa menyia-nyiakannya.

“Karena segala sesuatu yang dijadikan Elohim itu baik…”
— 1 Timotius 4:4


Disiplin dan Kerja Keras

Papi adalah teladan dalam kerja keras. Setiap pagi sebelum matahari terbit, ia sudah bangun, membuka toko keluarga, menyapu teras, bahkan menyiramnya agar tidak berdebu.

Kini aku menyadari, di balik setiap rutinitas itu, ia sedang menanamkan nilai tanggung jawab dan ketekunan kepada kami.

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan.”
— Kolose 3:23


Musik yang Menghidupkan Rumah

Selain rajin bekerja, papi sangat mencintai musik. Ia pandai bermain gitar dan hafal banyak lagu rohani.

Hampir setiap sore, rumah kami dipenuhi suara pujian. Bagiku, itu adalah momen paling indah — duduk di sampingnya, bernyanyi bersama, dan merasakan damai yang nyata.

“Bernyanyilah dan bersoraklah bagi Tuhan…”
— Yesaya 12:6


Tetap Menguatkan dari Jauh

Saat aku dan mas Is melanjutkan SMA di kota, papi tetap berjuang agar kami mendapatkan pendidikan terbaik. Walau harus berjauhan, ia tidak pernah berhenti memberi semangat.

Setiap kali bertemu, ia selalu berkata:

“Jangan takut akan hari esok. Elohim selalu menyertai anak-anak-Nya.”


Saat Aku Lemah, Papi Menguatkan

Di masa kuliah, aku pernah mengalami gangguan kulit yang parah akibat tekanan pikiran. Papi datang, menjemputku, dan merawatku.

Dalam perjalanan pulang sejauh 20 km, ia menyanyikan dua lagu berulang-ulang:

“Tuhan Kuasa Melakukan Segala Perkara”
“Ajaiblah Tuhan, Kau Sungguh Heran”

Suara itu sederhana, tetapi penuh iman. Lagu itu menenangkan hatiku dan memulihkan harapanku.

“Hati yang gembira adalah obat yang manjur…”
— Amsal 17:22


Papi Juga Manusia

Papi bukan manusia sempurna. Ia pernah terluka dan bergumul. Namun di tengah kelemahannya, ia tetap berpegang pada iman.

Dari situlah aku belajar bahwa kekuatan sejati bukan pada kesempurnaan, tetapi pada ketekunan untuk bangkit.

“Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali.”
— Amsal 24:16


Warisan Terindah

Kini papi dan mami telah menyelesaikan pertandingan iman mereka. Namun nilai-nilai hidup yang mereka tanamkan tetap hidup dalam kami.

Warisan terbesar mereka bukan harta, melainkan iman, kasih, kerja keras, dan ketekunan.

Aku masih bisa mendengar suara papi:

“Tetap semangat, jangan takut. Elohim punya rencana indah.”

“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik…”
— 2 Timotius 4:7


Terima kasih, Papi dan Mami.
Kasih dan teladan hidup kalian akan selalu kami kenang.

Sampai suatu hari nanti, kita bertemu kembali di rumah Bapa —
dalam sukacita kekal bersama Yeshua.

“Orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru…”
— Yesaya 40:31

About The Author

  • Related Posts

    IBADAH YANG TIDAK PERCUMA

    Spread the love

    Spread the love(rt / rgy) “Mengapa banyak orang rajin beribadah… tapi hidupnya tidak berubah?” Ini pertanyaan yang sering muncul, bahkan mungkin kita sendiri pernah mengalaminya. Firman dalam Matius 15:9 dan…

    Jangan Menuduh Tuhan dari Satu Hari yang Buruk

    Spread the love

    Spread the loveFiladelfiaNews.com Saya pernah ada di titik ini— satu hari kacau, lalu diam-diam mulai menyalahkan Tuhan. Tidak diucapkan keras, tapi terasa dalam hati: “Tuhan, kenapa hidup saya begini?” Padahal…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Filadelfia News

    Konsolidasi Menguat, Ricardo Palijama Dipercaya Pimpin PMMBR Jabar

    Konsolidasi Menguat, Ricardo Palijama Dipercaya Pimpin PMMBR Jabar

    Ibadah Gabungan Kaum Wanita GPIAI Filadelfia Berlangsung Penuh Hadirat Tuhan di Tonjong

    Ibadah Gabungan Kaum Wanita GPIAI Filadelfia Berlangsung Penuh Hadirat Tuhan di Tonjong

    STAY IN GOD – ALLAH ITU BAIK

    STAY IN GOD – ALLAH ITU BAIK

    6 Hari dari Harapan ke Dugaan Suap: SP3 Sebut Kasus Ketua Ombudsman Guncang Kepercayaan Publik!

    6 Hari dari Harapan ke Dugaan Suap: SP3 Sebut Kasus Ketua Ombudsman Guncang Kepercayaan Publik!

    Kalau Tuhan Menyertai, Kenapa Hidup Begini?

    Kalau Tuhan Menyertai, Kenapa Hidup Begini?

    Dr. Leo Fransisco: Pendidikan Iman Harus Berani Keluar dari Kelas dan Menyentuh Realitas

    Dr. Leo Fransisco: Pendidikan Iman Harus Berani Keluar dari Kelas dan Menyentuh Realitas