Rencana kami Gagal, tapi Rencana Tuhan Itu Sempurna

Spread the love

Sebuah Kesaksian Iman di Balik Pilihan Kuliah Seorang Anak

Filadelfianews.com

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman YHWH.”
Yesaya 55:8

Dalam kehidupan, manusia sering kali menyusun rencana dengan penuh keyakinan. Kita merancang masa depan dengan perhitungan yang matang, mempersiapkan segala sesuatu dengan harapan terbaik. Namun sering kali, Tuhan memiliki jalan yang berbeda — jalan yang pada awalnya tidak kita pahami, tetapi pada akhirnya memperlihatkan hikmat dan kasih-Nya yang sempurna.

Kesaksian ini dialami oleh seorang orang tua di BSD, Tangerang, yang membagikan perjalanan imannya kepada tim Filadelfianews.com.

Mimpi Besar untuk Anak yang Dinantikan

Tahun 2019 menjadi tahun penting bagi keluarga ini. Anak tunggal mereka akhirnya lulus dari bangku SMA.

Sejak lama, orang tua ini memiliki impian besar: agar anak mereka dapat melanjutkan studi ke luar negeri. Persiapan dilakukan dengan serius dan terencana — mulai dari proses pendaftaran universitas, ujian bahasa, hingga wawancara daring dengan beberapa kampus internasional.

Tuhan membuka jalan.

Anak mereka diterima di dua universitas luar negeri, bahkan salah satunya dengan status beasiswa. Sukacita keluarga itu tak terlukiskan.

Terlebih lagi, anak tersebut adalah anak yang mereka nantikan selama delapan tahun dalam doa dan pengharapan. Melihatnya mendapatkan kesempatan studi internasional terasa seperti mimpi yang menjadi nyata.

Sebagai bentuk komitmen, orang tua itu segera melakukan pembayaran awal kepada universitas tersebut.

Namun pada saat yang sama, sang anak juga mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi negeri di Indonesia. Hasilnya mengejutkan: ia juga diterima di Universitas Indonesia (UI), Depok, salah satu kampus terbaik di negeri ini.

Pergumulan antara Keinginan dan Kehendak Tuhan

Di titik inilah pergumulan dimulai.

Di satu sisi, sang ayah ingin anaknya belajar mandiri di luar negeri dan merasakan pengalaman global. Namun di sisi lain, sang ibu merasa berat melepas anak tunggal mereka pergi jauh dari rumah.

Hati mereka dipenuhi perasaan yang bercampur aduk: bangga, bahagia, tetapi juga diliputi kegamangan.

Sang anak pun berada dalam kebingungan yang sama.
Haruskah ia memilih universitas internasional yang jauh dari rumah, atau tetap di Indonesia dengan suasana yang lebih tenang bagi keluarga?

Di tengah proses ini, muncul satu kemungkinan baru. Universitas Indonesia ternyata juga memiliki Program Internasional dengan jurusan yang sama. Sang anak mencoba mengikuti seleksi tersebut — dan kembali diterima.

Namun realitas administrasi berkata lain.

Biaya yang telah dibayarkan untuk kelas reguler di UI tidak bisa dialihkan ke program internasional. Sementara uang komitmen kepada universitas luar negeri juga tidak dapat dikembalikan.

Akhirnya, dengan berat hati mereka memutuskan untuk mengambil program reguler di Universitas Indonesia.

Keputusan itu terasa seperti sebuah kegagalan rencana besar.
Ada kekecewaan yang sulit disembunyikan.

Namun mereka memilih untuk tetap menyerahkan semuanya kepada Tuhan.

“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi YHWH yang menentukan arah langkahnya.”
Amsal 16:9

Ketika Pandemi Membuka Mata

Tidak lama setelah semester kedua dimulai, dunia diguncang oleh pandemi COVID-19 pada awal tahun 2020.

Semua aktivitas kampus dihentikan. Perkuliahan tatap muka ditiadakan. Mahasiswa diminta kembali ke rumah masing-masing, bahkan banyak asrama dan rumah kost dikosongkan.

Selama empat semester penuh, perkuliahan dilakukan secara online.

Baru pada semester ke-6 hingga semester ke-8 kegiatan kampus kembali berjalan normal.

Di titik itulah keluarga ini menyadari sesuatu yang mendalam.

Seandainya mereka memaksakan rencana awal agar anak mereka tetap kuliah di luar negeri, mungkin mereka harus menghadapi berbagai kesulitan yang tidak terbayangkan.

Mereka mendengar banyak cerita dari teman-teman yang anaknya sudah lebih dahulu belajar di luar negeri. Ada yang terpaksa pulang karena deportasi, ada yang terjebak lama di asrama tanpa kepastian, bahkan ada yang menjalani kuliah selama empat tahun penuh secara daring tanpa pernah mengalami perkuliahan langsung di kampus.

Saat itulah mereka mengerti satu hal:

Tuhan telah mengetahui apa yang terbaik jauh sebelum mereka menyadarinya.

Rencana Tuhan Selalu Indah pada Waktunya

Perjalanan itu akhirnya mencapai titik yang indah.

Sang anak berhasil menyelesaikan kuliahnya di Universitas Indonesia tepat waktu dalam empat tahun, dengan IPK 3,6 dari 4,00.

Apa yang dulu terasa seperti rencana yang gagal, ternyata menjadi bagian dari rancangan Tuhan yang jauh lebih baik.

Pengalaman ini mengajarkan satu kebenaran yang sederhana namun dalam:

Sering kali rencana Tuhan tidak terasa menyenangkan di awal, tetapi pada akhirnya membawa kebaikan yang tidak pernah kita bayangkan.

“Kita tahu sekarang, bahwa Elohim turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.”
Roma 8:28

Pelajaran Iman dari Sebuah Perjalanan

Dari pengalaman ini, keluarga tersebut belajar beberapa hal penting:

Manusia boleh merancang masa depan, tetapi Tuhanlah yang menentukan langkah akhirnya.
Manusia boleh memiliki mimpi besar, tetapi Tuhanlah yang menulis kisah hidup kita.
Terkadang Tuhan menutup satu pintu bukan untuk menghukum, tetapi untuk melindungi.

Kini mereka dapat berkata dengan penuh keyakinan:

Tuhan sungguh baik, dan rancangan-Nya selalu yang terbaik bagi mereka yang percaya kepada-Nya.

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.”
Pengkhotbah 3:11

Amen.


Kesaksian: Sdr. Is, BSD – Tangerang
Dilaporkan kepada: Tim Filadelfianews.com
Penyunting: rt / rgy


About The Author

  • Related Posts

    IBADAH YANG TIDAK PERCUMA

    Spread the love

    Spread the love(rt / rgy) “Mengapa banyak orang rajin beribadah… tapi hidupnya tidak berubah?” Ini pertanyaan yang sering muncul, bahkan mungkin kita sendiri pernah mengalaminya. Firman dalam Matius 15:9 dan…

    Jangan Menuduh Tuhan dari Satu Hari yang Buruk

    Spread the love

    Spread the loveFiladelfiaNews.com Saya pernah ada di titik ini— satu hari kacau, lalu diam-diam mulai menyalahkan Tuhan. Tidak diucapkan keras, tapi terasa dalam hati: “Tuhan, kenapa hidup saya begini?” Padahal…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Filadelfia News

    Konsolidasi Menguat, Ricardo Palijama Dipercaya Pimpin PMMBR Jabar

    Konsolidasi Menguat, Ricardo Palijama Dipercaya Pimpin PMMBR Jabar

    Ibadah Gabungan Kaum Wanita GPIAI Filadelfia Berlangsung Penuh Hadirat Tuhan di Tonjong

    Ibadah Gabungan Kaum Wanita GPIAI Filadelfia Berlangsung Penuh Hadirat Tuhan di Tonjong

    STAY IN GOD – ALLAH ITU BAIK

    STAY IN GOD – ALLAH ITU BAIK

    6 Hari dari Harapan ke Dugaan Suap: SP3 Sebut Kasus Ketua Ombudsman Guncang Kepercayaan Publik!

    6 Hari dari Harapan ke Dugaan Suap: SP3 Sebut Kasus Ketua Ombudsman Guncang Kepercayaan Publik!

    Kalau Tuhan Menyertai, Kenapa Hidup Begini?

    Kalau Tuhan Menyertai, Kenapa Hidup Begini?

    Dr. Leo Fransisco: Pendidikan Iman Harus Berani Keluar dari Kelas dan Menyentuh Realitas

    Dr. Leo Fransisco: Pendidikan Iman Harus Berani Keluar dari Kelas dan Menyentuh Realitas