Filadelfianews.com Di tengah dunia yang sering dipenuhi hiruk pikuk kepentingan pribadi, kisah sederhana tentang seorang ayah, anak, dan seorang nenek penjual pisang mengingatkan kita pada satu kebenaran yang sangat dalam: kasih sejati tidak selalu berbicara melalui kata-kata, tetapi melalui tindakan.
Suatu hari seorang anak kecil berjalan bersama ayahnya di sebuah pasar yang ramai. Di antara kerumunan orang yang berlalu lalang, mereka melihat seorang nenek tua duduk di pinggir jalan dengan sebuah nampan kecil berisi beberapa sisir pisang.
Tidak banyak orang yang berhenti.
Sebagian hanya melirik sekilas, lalu berjalan pergi.
Anak kecil itu memperhatikan pemandangan itu dengan hati yang polos, lalu bertanya kepada ayahnya,
“Ayah, kenapa nenek itu duduk sendirian?”
Ayahnya tidak menjawab panjang lebar. Ia hanya mendekati sang nenek, membeli beberapa buah pisang, lalu setelah membayar ia mengembalikan pisang-pisang itu ke atas nampan.
Dengan suara lembut ia berkata,
“Biarkan pisangnya tetap di sini, Bu. Semoga hari ini jualannya laku.”
Nenek itu terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca.
Mungkin jumlah uang yang diberikan tidak besar. Namun yang ia rasakan jauh lebih bernilai daripada sekadar uang — ia merasakan bahwa dirinya masih diperhatikan, masih dihargai, dan tidak dilupakan.
Dalam perjalanan pulang, sang anak kembali bertanya,
“Ayah, kenapa ayah tidak membawa pulang pisangnya?”
Ayahnya tersenyum lalu berkata,
“Kadang-kadang orang tidak hanya membutuhkan uang. Mereka membutuhkan perasaan bahwa mereka tidak dilupakan.”
Sejak saat itu sang anak memahami sebuah pelajaran hidup yang sangat berharga: kebaikan tidak selalu harus besar untuk menjadi berarti.
Sering kali manusia mengira bahwa kerohanian terlihat dari kata-kata yang indah, doa yang panjang, atau kemampuan mengutip banyak ayat. Namun Alkitab mengingatkan bahwa semua itu tidak ada artinya jika tidak disertai kasih.
“Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.”
(1 Korintus 13:1)
Kasih yang nyata adalah kasih yang mau peduli, mau menolong, dan mau melakukan kebaikan bahkan ketika tidak ada orang yang melihatnya.
Di dunia yang sering dipenuhi sikap acuh tak acuh, satu tindakan kecil yang dilakukan dengan kasih dapat menjadi terang yang besar bagi seseorang yang mungkin sedang merasa sendirian.
Kita mungkin tidak dapat menolong semua orang.
Tetapi kita selalu dapat menolong seseorang.
Karena itu jangan pernah meremehkan kebaikan yang kecil. Di mata Tuhan, setiap tindakan kasih memiliki nilai yang besar.
“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena pada waktunya kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lelah.”
(Galatia 6:9)
Penulis : rt / rgy
Editor Tim Redaksi


