Bogor — FiladelfiaNews.com Ada satu kalimat pendek dalam Alkitab yang terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya merupakan teguran keras bagi manusia yang hidup dalam keraguan dan penundaan iman.
“Mengapakah kita duduk-duduk di sini sampai mati?”
(2 Raja-raja 7:3)
Kalimat ini tidak diucapkan oleh seorang raja atau nabi besar, melainkan oleh empat orang kusta yang hidup terbuang di gerbang kota Samaria. Mereka adalah orang-orang yang tersisih dari masyarakat, tidak memiliki tempat di dalam kota, dan tidak memiliki masa depan yang jelas.
Namun justru dari orang-orang yang dianggap paling lemah itu muncul sebuah kesadaran yang tajam: diam berarti kematian.
Ketika Manusia Memilih Diam
Kisah ini mencerminkan kondisi manusia yang sering terjadi sampai hari ini. Banyak orang menyadari bahwa hidup mereka sedang berjalan menuju kehancuran—baik secara moral, rohani, maupun batin. Namun mereka tetap memilih untuk diam.
Mereka mengetahui bahwa dosa merusak hidup, tetapi menunda untuk bertobat. Mereka mengetahui bahwa Tuhan memanggil mereka, tetapi menunda untuk datang kepada-Nya. Mereka merasakan kekosongan hidup tanpa Tuhan, tetapi tetap berjalan tanpa arah.
Padahal Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa upah dosa ialah maut (Roma 6:23). Masalah terbesar manusia bukan sekadar penderitaan hidup, melainkan keterpisahan dari Allah akibat dosa.
Dan keterpisahan itu sering kali dipertahankan oleh satu sikap yang berbahaya: menunda mengambil langkah iman.
Langkah Iman yang Mengubah Segalanya
Empat orang kusta itu akhirnya mengambil keputusan yang sederhana namun berani.
Jika mereka tetap duduk di tempat itu, mereka akan mati. Jika masuk ke kota, mereka juga akan mati. Maka mereka memutuskan untuk berjalan menuju perkemahan orang Aram dengan harapan mendapatkan belas kasihan.
Keputusan itu bukan keputusan yang nyaman. Itu adalah keputusan yang lahir dari keberanian menghadapi kemungkinan terburuk.
Namun justru pada saat itulah Tuhan bekerja.
Alkitab mencatat bahwa Tuhan membuat tentara Aram mendengar suara gemuruh seperti pasukan besar sehingga mereka panik dan melarikan diri, meninggalkan seluruh perkemahan mereka (2 Raja-raja 7:6–7).
Ketika empat orang kusta itu tiba di sana, mereka menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya: makanan berlimpah, pakaian, perak, dan emas.
Dari hampir mati kelaparan, mereka tiba-tiba berdiri di tengah kelimpahan yang luar biasa.
Kisah ini menunjukkan satu prinsip iman yang kuat: sering kali Tuhan sudah bekerja bahkan sebelum manusia berani melangkah.
Injil: Kabar Baik bagi Mereka yang Putus Asa
Kisah ini juga mencerminkan inti dari Injil. Orang-orang yang pertama kali menemukan kabar baik bukanlah tokoh besar, melainkan mereka yang dianggap najis dan tidak layak.
Ini menggambarkan bahwa keselamatan yang diberikan Allah melalui Yesus Kristus bukan untuk mereka yang merasa benar, tetapi bagi mereka yang sadar bahwa mereka membutuhkan kasih karunia.
Yesus berkata:
“Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.” (Yohanes 6:37).
Janji ini menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun yang datang kepada Kristus dengan iman lalu ditolak oleh-Nya. Keselamatan adalah anugerah Allah yang diberikan kepada setiap orang yang percaya.
Kabar Baik Tidak Boleh Disimpan
Namun kisah ini tidak berhenti pada penemuan mukjizat. Setelah makan dan mengumpulkan harta, orang-orang kusta itu tiba-tiba tersadar.
“Tidak patut yang kita lakukan ini. Hari ini adalah hari kabar baik, tetapi kita berdiam diri saja.” (2 Raja-raja 7:9)
Kesadaran itu mendorong mereka kembali ke kota untuk memberitakan kabar baik kepada seluruh penduduk Samaria.
Orang-orang yang dahulu dianggap tidak berarti justru menjadi pembawa kabar keselamatan bagi seluruh kota.
Pertanyaan yang Masih Bergema
Kisah ini meninggalkan satu pertanyaan yang sangat tajam bagi setiap manusia:
“Mengapakah kita duduk-duduk di sini sampai mati?”
Pertanyaan ini tetap relevan sampai hari ini. Banyak orang mengetahui bahwa mereka membutuhkan Tuhan, tetapi menunda untuk datang kepada-Nya.
Padahal keselamatan tidak ditemukan oleh mereka yang hanya berpikir tentang Tuhan, melainkan oleh mereka yang datang kepada-Nya dengan iman.
Dan seperti yang dialami oleh empat orang kusta itu, sering kali mukjizat Tuhan ditemukan setelah seseorang berani melangkah.
Ev. Kefas Hervin Devananda, SH, S.Th., M.Pd.K


