Ketika Hati Tidak Lagi Gemetar terhadap Dosa

Spread the love

FiladelfiaNews.com

“Supaya dosa itu lebih nyata lagi keadaannya sebagai dosa.”
— Roma 7:13

Ada satu bahaya rohani yang sering datang tanpa disadari: hati yang perlahan kehilangan kepekaannya terhadap dosa.

Pada awal seseorang mengalami kelahiran baru di dalam Kristus, biasanya hatinya sangat lembut. Ia memiliki ketakutan yang kudus kepada Tuhan. Hal-hal yang kecil pun dapat mengusik nuraninya. Sebuah kata yang tidak benar, sikap yang tidak murni, atau pikiran yang tidak kudus membuatnya segera datang kepada Tuhan dengan pertobatan yang tulus.

Ini bukan kelemahan rohani. Justru inilah tanda kehidupan rohani yang sehat.

Roh Kudus bekerja di dalam hati orang percaya untuk menegur, mengingatkan, dan memimpin kepada kebenaran. Sebagaimana dikatakan oleh Yesus:

“Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman.”
— Yohanes 16:8

Artinya, kesadaran akan dosa bukanlah sesuatu yang lahir dari rasa takut manusia semata, melainkan karya Roh Kudus di dalam hati yang telah diperbarui.

Namun di sinilah pergumulan kehidupan iman dimulai.

Seiring waktu, dunia yang penuh kompromi sering kali membuat manusia mulai menyesuaikan dirinya. Apa yang dahulu terasa salah, perlahan mulai dianggap biasa. Apa yang dahulu ditolak oleh hati nurani, kini dapat diterima dengan berbagai alasan.

Dosa tidak selalu datang dalam bentuk yang mencolok. Sering kali ia masuk melalui pintu-pintu kecil yang tampaknya tidak berbahaya.

Satu sikap yang sedikit tidak jujur.
Satu kata yang tidak sepenuhnya benar.
Satu kompromi kecil yang dianggap tidak penting.

Tetapi Alkitab mengajarkan bahwa dosa memiliki sifat yang menipu.

“Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.”
— Yakobus 1:14

Dosa selalu dimulai dari sesuatu yang tampaknya kecil, tetapi jika dibiarkan, ia akan bertumbuh dan menguasai hati manusia. Inilah sebabnya Alkitab memperingatkan tentang “rubah-rubah kecil yang merusak kebun anggur” (Kidung Agung 2:15). Hal-hal yang tampak kecil justru sering menjadi awal dari kerusakan yang besar.

Rasul Paulus dalam Roma 7 menjelaskan sebuah realitas teologis yang penting: hukum Taurat membuat manusia semakin menyadari betapa seriusnya dosa. Hukum tidak menciptakan dosa, tetapi hukum menyingkapkan kedalaman dosa yang ada di dalam hati manusia.

Dengan kata lain, Firman Tuhan membuka mata manusia untuk melihat dosa sebagaimana Allah melihatnya.

Mengapa ini penting?

Karena natur manusia yang telah jatuh cenderung merasionalisasi dosa. Manusia sering mencoba mengecilkan kesalahan, membungkusnya dengan alasan, atau membandingkannya dengan dosa orang lain.

Namun di hadapan Allah, dosa bukanlah perkara kecil.

Dosa adalah pemberontakan terhadap kekudusan Allah. Dosa merusak relasi manusia dengan Penciptanya. Dan yang paling tragis, dosa adalah alasan mengapa Kristus harus menderita di kayu salib.

Salib Kristus adalah bukti paling nyata betapa seriusnya dosa.

Jika dosa itu ringan, maka tidak perlu ada pengorbanan Anak Allah. Tetapi karena dosa begitu besar dan mematikan, maka keselamatan manusia hanya dapat digenapi melalui pengorbanan Kristus.

“Tetapi Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, Dia diremukkan oleh karena kejahatan kita.”
— Yesaya 53:5

Karena itu orang percaya dipanggil untuk memiliki cara pandang yang benar terhadap dosa. Bukan dengan hidup dalam ketakutan yang tidak sehat, tetapi dengan memiliki hati yang takut akan Tuhan dan yang terus dibentuk oleh kasih karunia-Nya.

Kehidupan Kristen bukanlah kehidupan yang bebas dari pergumulan dengan dosa, tetapi kehidupan yang terus menerus diperbarui oleh anugerah Tuhan. Ketika orang percaya jatuh, Roh Kudus menegur dan memanggilnya kembali kepada pertobatan.

Inilah sebabnya kepekaan hati adalah sesuatu yang harus dijaga.

Hati yang lembut terhadap teguran Firman adalah tanda bahwa Roh Kudus masih bekerja di dalam diri seseorang. Sebaliknya, ketika dosa mulai dianggap biasa dan tidak lagi menimbulkan pergumulan batin, di situlah bahaya rohani sedang terjadi.

Karena itu, mari kita belajar melihat dosa dari terang salib Kristus.

Ketika kita memandang salib, kita menyadari dua hal sekaligus: betapa seriusnya dosa, dan betapa besar kasih karunia Allah. Kesadaran ini membuat kita tidak meremehkan dosa, tetapi juga tidak putus asa ketika kita jatuh.

Sebaliknya, kita datang kembali kepada Kristus, Sang Juruselamat, yang oleh kasih karunia-Nya terus memperbarui hidup kita setiap hari.

Kiranya Tuhan memelihara hati kita tetap lembut, peka terhadap dosa, dan setia berjalan di dalam terang kebenaran-Nya.

Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K

About The Author

  • Related Posts

    STAY IN GOD – ALLAH ITU BAIK

    Spread the love

    Spread the loveFiladelfiaNews.com – Ada satu pujian yang begitu sederhana, namun sangat dalam maknanya: “Allah itu baik” (God is so good). Lagu ini sering kita nyanyikan di gereja, di rumah,…

    Kalau Tuhan Menyertai, Kenapa Hidup Begini?

    Spread the love

    Spread the loveFiladelfiaNews.com Belajar Jujur dari Gideon – Hakim-hakim 6:1–24 Ada satu pertanyaan yang sering kita simpan dalam hati… tapi jarang kita ucapkan dengan jujur: “Kalau Tuhan benar menyertai aku,…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Filadelfia News

    Konsolidasi Menguat, Ricardo Palijama Dipercaya Pimpin PMMBR Jabar

    Konsolidasi Menguat, Ricardo Palijama Dipercaya Pimpin PMMBR Jabar

    Ibadah Gabungan Kaum Wanita GPIAI Filadelfia Berlangsung Penuh Hadirat Tuhan di Tonjong

    Ibadah Gabungan Kaum Wanita GPIAI Filadelfia Berlangsung Penuh Hadirat Tuhan di Tonjong

    STAY IN GOD – ALLAH ITU BAIK

    STAY IN GOD – ALLAH ITU BAIK

    6 Hari dari Harapan ke Dugaan Suap: SP3 Sebut Kasus Ketua Ombudsman Guncang Kepercayaan Publik!

    6 Hari dari Harapan ke Dugaan Suap: SP3 Sebut Kasus Ketua Ombudsman Guncang Kepercayaan Publik!

    Kalau Tuhan Menyertai, Kenapa Hidup Begini?

    Kalau Tuhan Menyertai, Kenapa Hidup Begini?

    Dr. Leo Fransisco: Pendidikan Iman Harus Berani Keluar dari Kelas dan Menyentuh Realitas

    Dr. Leo Fransisco: Pendidikan Iman Harus Berani Keluar dari Kelas dan Menyentuh Realitas