Filadelfianews.com Hidup manusia sebenarnya adalah rangkaian dari pilihan-pilihan. Setiap hari kita membuat keputusan: memilih pekerjaan, menentukan pasangan hidup, merencanakan masa depan, hingga memilih jalan hidup yang kita anggap terbaik.
Sebagian keputusan mungkin hanya memengaruhi kehidupan kita untuk sementara waktu. Namun ada satu keputusan yang jauh lebih penting dari semua pilihan itu—sebuah keputusan yang menentukan bukan hanya masa depan kita di dunia ini, tetapi juga masa depan kekal kita.
Keputusan itu adalah siapa yang kita pilih untuk menjadi Tuhan dalam hidup kita.
Pertanyaan ini bukanlah pertanyaan baru. Ribuan tahun yang lalu, Yosua juga mengajukan pertanyaan yang sama kepada bangsa Israel.
Menjelang akhir hidupnya, Yosua mengumpulkan seluruh bangsa Israel di Sikhem. Ia mengingatkan mereka tentang perjalanan panjang yang telah mereka lalui bersama Tuhan. Bagaimana Tuhan memanggil Abraham, membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir, menuntun mereka di padang gurun, dan akhirnya memberikan tanah Kanaan kepada mereka.
Semua itu adalah bukti kesetiaan Tuhan yang tidak pernah gagal.
Namun setelah mengingatkan semua karya besar Tuhan itu, Yosua menyampaikan sebuah tantangan yang sangat tegas:
“Pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah.”
(Yosua 24:15)
Kalimat ini sederhana, tetapi sangat menentukan.
Bangsa Israel tidak bisa lagi hidup dalam sikap setengah-setengah. Mereka harus menentukan pilihan: apakah mereka akan tetap setia kepada Tuhan atau mengikuti allah-allah lain seperti bangsa-bangsa di sekitar mereka.
Yang menarik adalah Yosua tidak menunggu keputusan orang lain terlebih dahulu. Ia langsung menyatakan sikapnya dengan jelas:
“Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.”
Pernyataan ini menunjukkan bahwa iman kepada Tuhan bukan sekadar mengikuti tradisi atau tekanan lingkungan.
Mengikut Tuhan adalah keputusan pribadi yang harus diambil dengan sadar dan penuh komitmen.
Banyak orang hari ini mengaku percaya kepada Tuhan, tetapi hidupnya masih dipenuhi oleh berbagai “ilah lain”.
Bagi sebagian orang, ilah itu adalah uang.
Bagi yang lain, ilah itu adalah ambisi, kekuasaan, atau kenyamanan hidup.
Ada juga yang menjadikan popularitas, kesuksesan, atau keinginan pribadi sebagai pusat hidup mereka.
Tanpa disadari, banyak hal dapat menggantikan posisi Tuhan di dalam hati manusia.
Karena itu Yosua mengingatkan bangsa Israel bahwa memilih Tuhan bukan sekadar ucapan, tetapi harus diwujudkan dengan tindakan nyata.
Salah satunya adalah dengan menyingkirkan semua hal yang berpotensi menjadi berhala dalam hidup mereka.
Hal yang sama juga berlaku bagi kita hari ini.
Mengikut Tuhan tidak bisa dilakukan setengah hati.
Kita tidak bisa mengatakan percaya kepada Tuhan tetapi pada saat yang sama membiarkan berbagai “ilah lain” menguasai hidup kita.
Karena pada akhirnya setiap manusia harus membuat keputusan:
Apakah Tuhan benar-benar menjadi pusat hidup kita?
Ataukah kita masih memberi tempat bagi dunia untuk menguasai hati kita?
Pilihan ini tidak bisa ditunda.
Setiap hari melalui cara kita hidup, melalui nilai yang kita pegang, dan melalui keputusan yang kita buat, kita sebenarnya sedang menjawab pertanyaan yang sama yang pernah diajukan Yosua ribuan tahun yang lalu.
Pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah.
Sebab pilihan yang kita buat hari ini akan menentukan arah hidup kita—bukan hanya di dunia ini, tetapi juga dalam kekekalan.
Ev. Kefas Hervin Devananda
S.H., S.Th., M.Pd.K







