Filadelfianews.com Sejarah Kekristenan di Indonesia tidak hanya ditulis oleh para misionaris Barat. Di tengah dinamika sosial dan budaya Jawa pada abad ke-19, muncul tokoh-tokoh pribumi yang memainkan peranan penting dalam menyebarkan Injil di tengah masyarakatnya sendiri. Salah satu di antaranya adalah Paulus Tosari, seorang penginjil Jawa yang dikenal karena kemampuannya menjembatani Injil dengan budaya lokal.
Berbeda dengan banyak tokoh misi pada masa kolonial, Paulus Tosari tidak menyampaikan ajaran Kristen dengan pendekatan Barat. Ia justru mengemas pesan Injil dalam bentuk yang sangat dekat dengan masyarakat Jawa: tembang, sastra rohani, dan tradisi spiritual lokal. Melalui cara itulah Injil dapat diterima oleh masyarakat tanpa harus memutus akar budaya mereka.
Tokoh ini kemudian dikenal sebagai salah satu pelopor berkembangnya komunitas Kristen Jawa di wilayah Jawa Timur pada abad ke-19.
Dari Kasan Menjadi Paulus
Paulus Tosari lahir sekitar tahun 1813 di Surabaya dengan nama asli Kasan atau Kasan Jariyo. Ia berasal dari keluarga sederhana keturunan Madura. Ayahnya dikenal sebagai seorang yang mendalami tradisi kebatinan Jawa, sementara ibunya merupakan seorang Muslim yang taat.
Lingkungan keluarga yang sarat dengan spiritualitas tersebut membuat Kasan sejak kecil akrab dengan pencarian makna hidup dan pengalaman religius. Namun perjalanan hidupnya tidak selalu berjalan baik.
Pada masa mudanya ia sempat bekerja sebagai pedagang kapas dan memperoleh penghasilan yang cukup baik. Akan tetapi kehidupannya kemudian mengalami kemunduran setelah ia terjerumus dalam kebiasaan berjudi. Usahanya bangkrut dan kehidupannya menjadi tidak menentu.
Krisis kehidupan tersebut justru menjadi titik balik bagi perjalanan spiritualnya. Dalam kegelisahan batin, Kasan mulai mencari jalan hidup yang baru.
Pencarian itu akhirnya membawanya bertemu dengan komunitas Kristen Jawa yang dipimpin oleh Coenraad Laurens Coolen di daerah Ngoro, Jombang, sekitar tahun 1840. Di komunitas inilah Kasan mulai mengenal ajaran Injil dan mengalami perubahan hidup yang mendalam.¹
Baptisan yang Mengubah Hidup
Komunitas yang dipimpin Coolen memiliki pendekatan yang cukup unik dalam memperkenalkan Kekristenan kepada masyarakat Jawa. Coolen mengajarkan nilai-nilai Injil tetapi tidak langsung membawa para pengikutnya ke dalam struktur gereja kolonial.
Karena itu ketika Kasan ingin menerima baptisan secara resmi, ia pergi ke Surabaya untuk bertemu dengan seorang penginjil Protestan asal Jerman bernama Johannes Emde.
Pada 12 September 1844, Kasan akhirnya menerima baptisan Kristen. Dalam baptisan tersebut ia mengambil nama Paulus. Sejak saat itu ia dikenal sebagai Paulus Tosari.
Peristiwa ini menjadi titik penting dalam perjalanan hidupnya. Dari seorang pencari spiritual, ia kemudian menjadi seorang penginjil yang mengabdikan hidupnya untuk menyampaikan Injil kepada masyarakat Jawa.²
Injil dalam Bahasa Budaya Jawa
Sebagai seorang Jawa yang memahami kehidupan masyarakatnya, Paulus Tosari menyadari bahwa Injil akan lebih mudah dipahami apabila disampaikan melalui bentuk budaya yang sudah akrab bagi masyarakat.
Ia kemudian menggunakan berbagai media budaya dalam penginjilannya.
Salah satu cara yang paling terkenal adalah melalui tembang macapat, yaitu bentuk puisi tradisional Jawa yang biasa dinyanyikan. Dalam tembang-tembang tersebut ia menyisipkan ajaran rohani tentang pertobatan, iman, dan hubungan manusia dengan Tuhan.
Selain itu Paulus Tosari juga menulis karya sastra rohani berbahasa Jawa yang dikenal dengan judul “Rasa Sedjati.” Karya ini berisi refleksi spiritual yang menggabungkan kedalaman ajaran Kristen dengan bahasa simbolik khas spiritualitas Jawa.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa Injil tidak harus disampaikan dengan meninggalkan budaya lokal. Justru melalui budaya tersebut pesan Injil dapat dipahami dengan lebih mendalam oleh masyarakat.
Dalam kajian teologi misi modern, pendekatan semacam ini dikenal sebagai inkulturasi, yaitu proses menyampaikan iman Kristen dalam kerangka budaya setempat.³
Mojowarno: Pusat Komunitas Kristen Jawa
Peran Paulus Tosari semakin besar ketika ia kemudian menjadi pemimpin jemaat Kristen Jawa di Mojowarno, sebuah wilayah di Jombang yang berkembang menjadi salah satu komunitas Kristen Jawa tertua.
Pada tahun 1851, ia diangkat sebagai pemimpin jemaat oleh majelis gereja di Surabaya. Selama lebih dari tiga dekade ia memimpin komunitas tersebut dan membangun kehidupan rohani masyarakat Kristen Jawa di wilayah itu.
Mojowarno kemudian berkembang menjadi pusat penting bagi pertumbuhan Kekristenan pribumi di Jawa Timur. Dari komunitas inilah kelak muncul perkembangan gereja yang kemudian dikenal sebagai Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) yang secara resmi berdiri pada tahun 1931.⁴
Sejajar dengan Para Penginjil Jawa
Dalam sejarah Kekristenan Jawa abad ke-19, Paulus Tosari sering disebut bersama tokoh-tokoh penginjil pribumi lainnya seperti Kiai Sadrach dan Ibrahim Tunggul Wulung.
Ketiga tokoh ini memiliki pendekatan yang serupa: menyampaikan Injil melalui bahasa budaya Jawa dan kehidupan masyarakat lokal.
Kehadiran mereka membuktikan bahwa perkembangan Kekristenan di Jawa tidak hanya merupakan hasil kerja para misionaris Barat, tetapi juga merupakan hasil karya tokoh-tokoh pribumi yang menghidupi iman mereka di tengah budaya sendiri.⁵
Warisan Seorang Penginjil Jawa
Paulus Tosari meninggal dunia pada 21 Mei 1882. Meskipun telah berlalu lebih dari satu abad, warisan pemikirannya tetap hidup dalam tradisi Kekristenan Jawa hingga saat ini.
Ia dikenang sebagai salah satu tokoh penting yang menunjukkan bahwa Injil dapat berakar dalam budaya lokal tanpa kehilangan makna teologisnya.
Melalui tembang, sastra, dan spiritualitas Jawa, Paulus Tosari meninggalkan sebuah warisan penting: bahwa iman dapat tumbuh subur ketika ia berbicara dalam bahasa budaya masyarakatnya sendiri.
Referensi
- Jan Sihar Aritonang & Karel Steenbrink, A History of Christianity in Indonesia, Leiden: Brill, 2008.
- Karel Steenbrink, Dutch Colonialism and Indonesian Islam: Contacts and Conflicts 1596–1950, Amsterdam: Rodopi, 2006.
- F.L. Cooley, Indonesia: Church and Society, New York: Friendship Press, 1968.
- Jan Sihar Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia, Jakarta: BPK Gunung Mulia.
- Sumartana, Mission at the Crossroads: Indigenous Churches, European Missionaries, Islamic Associations and Socio-Religious Change in Java 1812–1936, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991.
Disusun dari berbagai sumber dan ditulis kembali oleh:
Kefas Hervin Devananda
Gambar : Menggunakan Teknologi AI









