Lintas Iman dan Solidaritas Sosial: GBI DIY Berbagi dengan Mahasiswa Aceh di Yogyakarta
YOGYAKARTA, 6 Maret 2026 – Di tengah seringnya perbedaan diperdebatkan di ruang publik, sebuah peristiwa sederhana namun bermakna justru hadir dari Yogyakarta. Badan Pengurus Daerah (BPD) Gereja Bethel Indonesia (GBI) DIY menggelar buka puasa bersama sekaligus menyalurkan bantuan paket sembako bagi pelajar dan mahasiswa asal Aceh yang sedang menempuh pendidikan di Kota Pelajar.
Kegiatan yang berlangsung di Bale Gadeng, Jalan Kartini, kawasan Sagan, Kamis (5/3/2026), menjadi ruang perjumpaan lintas komunitas yang memperlihatkan bahwa solidaritas kemanusiaan dapat melampaui batas agama, suku, maupun latar belakang budaya.
Sekitar seratus mahasiswa Aceh hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka menerima paket bantuan kebutuhan pokok yang disiapkan oleh Tim Pelayanan Masyarakat (Pelmas) BPD GBI DIY. Penyaluran bantuan ini juga melibatkan relawan Tagana Rajawali DIY sebagai mitra dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.
Ketua Taman Pelajar Aceh, Fariq Muchlis, menilai kegiatan ini bukan sekadar agenda berbagi bantuan, melainkan juga simbol hubungan baik antar komunitas yang telah terbangun melalui komunikasi yang intens antara organisasi mahasiswa Aceh dengan pengurus gereja.
“Bagi kami, perhatian seperti ini memiliki arti yang sangat besar. Ini bukan hanya soal bantuan sembako, tetapi tentang persaudaraan dan penghormatan terhadap keberagaman yang hidup di Yogyakarta,” ujarnya.
Menurut Fariq, mahasiswa Aceh yang merantau di Yogyakarta merasakan bahwa kota ini memang dikenal sebagai ruang pertemuan berbagai latar belakang. Kegiatan semacam ini, katanya, menjadi bukti nyata bahwa toleransi tidak berhenti pada wacana, tetapi hadir dalam tindakan.
Sementara itu, Ketua BPD GBI DIY, Pdt. Simon Supriyana, M.Th., menjelaskan bahwa kegiatan sosial tersebut merupakan bagian dari komitmen gereja untuk hadir di tengah masyarakat tanpa melihat perbedaan identitas.
Ia mengingatkan bahwa hubungan antara komunitas gereja dengan masyarakat Aceh telah terjalin sejak masa pemulihan pascatsunami Aceh dua dekade lalu, ketika berbagai relawan gereja turut terlibat dalam pelayanan kemanusiaan di wilayah terdampak.
“Sejak saat itu kami merasa memiliki ikatan batin dengan masyarakat Aceh. Kegiatan seperti ini adalah cara kami menjaga hubungan tersebut sekaligus menegaskan bahwa pelayanan kemanusiaan tidak mengenal sekat,” ungkapnya.
Pdt. Simon menambahkan bahwa melalui Pelmas, gereja selama ini juga menjalankan berbagai program sosial, mulai dari layanan kesehatan gratis, operasi katarak, konsultasi hukum bagi masyarakat kurang mampu, hingga pendampingan di bidang pertanian dan peternakan.
Acara kemudian ditutup dengan penyerahan bantuan secara simbolis oleh Ketua Pelmas, Joko, kepada perwakilan mahasiswa Aceh. Setelah salat magrib berjamaah, seluruh peserta menikmati hidangan buka puasa bersama dalam suasana akrab dan penuh kebersamaan.
Selain berbagi makanan, kegiatan ini juga diisi dengan dialog ringan bersama relawan Tagana Rajawali DIY mengenai kesiapsiagaan bencana. Para mahasiswa diajak memahami peran kerelawanan dalam menghadapi situasi darurat yang kerap terjadi di wilayah rawan bencana seperti Yogyakarta.
Di tengah suasana Ramadan yang sarat nilai spiritual, pertemuan lintas komunitas ini menjadi pengingat bahwa kepedulian sosial dan semangat kemanusiaan dapat menjadi jembatan yang mempertemukan perbedaan.
Jurnalis: SHN/Herman
Editor: Tim Filadelfia


