FiladelfiaNews.com – “Kekasihku.” (Kidung Agung 2:8)
Ada satu krisis yang jarang disadari, tetapi diam-diam menggerogoti kehidupan iman banyak orang percaya: Kristus tidak lagi menjadi Kekasih, melainkan hanya menjadi konsep.
Ia masih disebut dalam doa, masih diakui dalam pengakuan iman, bahkan masih diberitakan di mimbar. Namun dalam kedalaman hati, posisi-Nya telah bergeser. Ia tidak lagi menjadi pusat kasih, melainkan hanya bagian dari rutinitas rohani.
Di sinilah tragedi itu dimulai.
Alkitab, khususnya dalam Kitab Kidung Agung, menggunakan bahasa yang sangat berani dan intim: “Kekasihku.” Ini bukan bahasa hukum, bukan bahasa institusi, melainkan bahasa kasih—bahasa relasi yang hidup.
Namun realitas hari ini menunjukkan hal yang berbeda.
Banyak orang percaya mengenal Kristus sebagai:
- Juruselamat, tetapi tidak sebagai Kekasih
- Tuhan, tetapi tidak sebagai yang dikasihi
- Penolong, tetapi bukan pusat kerinduan jiwa
Iman direduksi menjadi aktivitas.
Doa menjadi daftar permintaan.
Ibadah menjadi kewajiban.
Sementara kasih—yang seharusnya menjadi inti—perlahan menghilang.
Dalam pemahaman teologi yang benar, kasih kepada Kristus tidak lahir dari emosi manusia, tetapi dari inisiatif Allah sendiri.
1 Yohanes 4:19 menegaskan:
“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.”
Artinya:
- Kasih manusia bukan sumber, tetapi respons
- Dasar kasih bukan perasaan, tetapi salib Kristus
Kristus tidak menjadi Kekasih karena kita merasa dekat dengan-Nya, tetapi karena Ia terlebih dahulu memberikan diri-Nya bagi kita.
Kasih Kristen bersifat redemptif (penebusan), bukan sekadar afektif (perasaan).
Relasi dengan Kristus sebagai “Kekasih” bukan metafora kosong. Ia berakar pada doktrin penting: kesatuan dengan Kristus (union with Christ).
Melalui iman:
- Kita dipersatukan dengan Kristus
- Kita menjadi milik-Nya
- Dan Ia menjadi milik kita
Inilah dasar dari pernyataan dalam Kidung Agung 2:16:
“Kekasihku kepunyaanku, dan aku kepunyaan dia.”
Ini bukan sekadar puisi. Ini adalah realitas perjanjian (covenantal reality).
Relasi ini:
- bersifat eksklusif (tidak terbagi)
- bersifat kekal (tidak terputus)
- bersifat personal (bukan formalitas)
Namun di sinilah konflik terbesar manusia: hati yang terbagi.
Dunia menawarkan banyak “kekasih” lain:
- ambisi
- kenyamanan
- pengakuan
- bahkan diri sendiri
Tanpa disadari, hati manusia beralih. Kristus tidak ditolak secara terang-terangan, tetapi digeser secara perlahan.
Dan ini jauh lebih berbahaya.
Karena:
- kita masih beribadah, tetapi tidak mengasihi
- kita masih percaya, tetapi tidak melekat
- kita masih mengenal, tetapi tidak merindukan
Yesus tidak kehilangan tempat di bibir, tetapi kehilangan tempat di hati.
Namun di tengah kegagalan manusia, kasih Kristus tetap teguh.
Rasul Paulus menulis dalam Roma 8:35:
“Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?”
Jawabannya tidak berubah:
- bukan penderitaan
- bukan kesesakan
- bukan bahaya
- bahkan bukan kematian
Kasih Kristus tidak bergantung pada kestabilan manusia, tetapi pada kesetiaan-Nya sendiri.
Ini adalah inti Injil: relasi kita dengan Kristus dipelihara oleh Dia, bukan oleh kita.
Ketika Kristus dipahami sebagai Kekasih jiwa:
- Ibadah berubah dari kewajiban menjadi perjumpaan
- Doa berubah dari permintaan menjadi persekutuan
- Ketaatan berubah dari tekanan menjadi respons kasih
Kehidupan rohani tidak lagi didorong oleh rasa takut, tetapi oleh kasih.
Pertanyaan yang tidak bisa dihindari adalah:
Apakah Kristus masih menjadi Kekasih jiwa kita?
Atau:
- hanya menjadi bagian dari rutinitas?
- hanya hadir saat dibutuhkan?
- hanya dikenal tanpa dikasihi?
Iman yang sejati tidak berhenti pada pengakuan, tetapi berakar pada kasih.
Bukan sekadar berkata “aku percaya,”
tetapi sampai pada titik:
“Engkau adalah satu-satunya yang paling berharga bagiku.”
Pada akhirnya, seluruh kehidupan iman bermuara pada satu hal: relasi dengan Kristus.
Bukan sekadar mengenal Dia, tetapi mengasihi Dia.
Bukan sekadar menerima dari Dia, tetapi melekat kepada Dia.
Karena di dalam Dia, jiwa menemukan kepenuhannya.
Dan di luar Dia, tidak ada yang benar-benar dapat memuaskan.
Jika Kristus bukan Kekasih utama, maka apa pun yang menggantikan-Nya akan mengecewakan.
Kiranya hati kita kembali kepada satu pengakuan yang murni dan dalam:
Kasih-Mulah milikku satu-satunya.
Tidak ada yang lebih berharga selain Engkau.
Ev. Kefas Hervin Devananda, SH., S.Th., M.Pd.K


