EMERITUS (Gelar Pensiun pada Pendeta Pria)
Bukan Akhir Pelayanan, Melainkan Awal Musim Baru dalam Panggilan Allah
“Lihatlah, yang kuanggap baik dan tepat ialah, kalau orang makan minum dan bersenang-senang dalam segala usaha yang dilakukan dengan jerih payah… Sebab itulah bahagiannya.”
(Pengkhotbah 5:17–19)
Ada sebuah momen dalam kehidupan seorang hamba Tuhan yang sering disalahpahami: emeritus. Bagi sebagian orang, emeritus dianggap sebagai tanda bahwa pelayanan telah berakhir. Padahal, dalam perspektif Alkitab, emeritus bukanlah akhir dari panggilan, melainkan perubahan musim dalam cara melayani Tuhan.
Beberapa waktu lalu, seorang sahabat lama yang telah puluhan tahun menggembalakan jemaat menghubungi saya. Dengan suara yang tenang ia berkata, “Saya akan memasuki masa emeritus.” Ia mengundang saya menghadiri ibadah syukur sekaligus meminta saya menuliskan kesan untuk buku kenangan pelayanannya.
Percakapan singkat itu membawa ingatan saya melayang puluhan tahun ke belakang. Kami pernah melayani bersama dalam organisasi kepemudaan gereja. Saat itu kami masih muda, penuh semangat, bahkan belum berkeluarga. Rasanya seperti baru kemarin. Namun waktu telah berjalan lebih dari tiga puluh lima tahun.
Di situlah saya kembali menyadari betapa cepatnya waktu berlalu ketika seseorang menjalani hidup sesuai panggilan Tuhan.
Menikmati Jerih Payah Adalah Karunia Allah
Raja Salomo menulis sesuatu yang sangat dalam di dalam kitab Pengkhotbah. Ia mengatakan bahwa menikmati hasil jerih payah bukan sekadar kemampuan manusia, melainkan karunia Allah.
Banyak orang bekerja sepanjang hidupnya, tetapi tidak pernah menikmati pekerjaannya. Sebaliknya, ada orang yang melewati berbagai kesulitan, namun tetap dipenuhi sukacita karena ia tahu bahwa apa yang dikerjakannya adalah panggilan dari Tuhan.
Demikian pula pelayanan.
Menjadi gembala jemaat bukanlah perjalanan yang selalu mudah. Ada air mata yang tidak pernah diketahui orang lain. Ada malam-malam yang diisi doa bagi jemaat. Ada pengorbanan waktu bersama keluarga, ada kesalahpahaman, kritik, bahkan luka yang hanya Tuhan yang mengetahuinya.
Namun bagi mereka yang melayani karena kasih kepada Kristus, semua jerih payah itu tidak pernah sia-sia. Justru di sanalah Tuhan membentuk karakter, kesetiaan, dan kedewasaan rohani.
Emeritus Bukan Berarti Berhenti Dipakai Tuhan
Di banyak tempat, kata “pensiun” identik dengan berhenti bekerja. Tetapi di dalam Kerajaan Allah tidak ada istilah pensiun dari panggilan sebagai murid Kristus.
Yang berubah hanyalah bentuk pelayanannya.
Seorang pendeta mungkin tidak lagi berdiri setiap minggu di mimbar sebagai gembala jemaat. Namun ia tetap dapat menjadi pembimbing, penasihat, pendoa, dan teladan bagi generasi berikutnya.
Alkitab memberikan banyak contoh.
Musa mempersiapkan Yosua untuk memimpin bangsa Israel memasuki Tanah Perjanjian.
Rasul Yohanes, pada usia senjanya, tetap menguatkan gereja melalui surat-suratnya dan menerima penyataan Tuhan di Pulau Patmos.
Mereka mungkin tidak lagi berada di garis depan, tetapi pengaruh rohani mereka justru semakin dalam.
Pelayanan tidak selalu berbicara tentang posisi. Pelayanan berbicara tentang kesetiaan.
Hikmat yang Tidak Pernah Pensiun
Saya teringat sebuah ungkapan bijak yang pernah dipopulerkan oleh Presiden Soeharto:
“Lengser keprabon, madeg pandhita.”
Artinya, seseorang boleh melepaskan jabatan, tetapi tidak kehilangan hikmatnya.
Ia tidak lagi memimpin dengan kewenangan struktural, melainkan dengan kebijaksanaan hidup yang lahir dari pengalaman panjang.
Prinsip ini sangat relevan dalam kehidupan gereja.
Generasi muda membutuhkan energi untuk bergerak.
Namun mereka juga membutuhkan hikmat dari mereka yang telah lebih dahulu berjalan bersama Tuhan.
Gereja yang sehat adalah gereja yang mampu menghormati pengalaman generasi senior sekaligus memberi ruang bagi generasi penerus untuk bertumbuh.
Berhati Muda, Bukan Sekadar Berusia Muda
Di gereja kami, persekutuan kaum senior diberi nama BERMUDA (Berhati Muda).
Nama itu mengandung pesan yang sederhana namun sangat mendalam.
Yang membuat seseorang tetap muda bukanlah angka usianya.
Yang membuat seseorang tetap muda adalah semangatnya.
Semangat untuk mengasihi Tuhan.
Semangat untuk belajar.
Semangat untuk melayani.
Semangat untuk menjadi berkat.
Tubuh mungkin mulai melemah.
Langkah mungkin tidak lagi secepat dahulu.
Tetapi kasih kepada Tuhan tidak boleh ikut menjadi tua.
Justru pada masa inilah doa menjadi lebih matang, nasihat menjadi lebih berbobot, dan keteladanan menjadi warisan yang tidak ternilai.
Panggilan Tidak Pernah Berakhir
Bagi setiap hamba Tuhan yang memasuki masa emeritus, ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah mengakhiri panggilan-Nya hanya karena usia bertambah.
Selama Tuhan masih memberikan napas kehidupan, selalu ada kesempatan untuk melayani.
Mungkin bukan lagi dengan memimpin organisasi.
Mungkin bukan lagi dengan menggembalakan jemaat setiap minggu.
Tetapi melalui doa, pembinaan, mentoring, keteladanan hidup, dan hikmat yang dibagikan kepada generasi berikutnya.
Kerajaan Allah selalu membutuhkan orang-orang yang setia hingga akhir.
Refleksi
Apakah selama ini kita memandang emeritus sebagai akhir pelayanan?
Ataukah kita melihatnya sebagai musim baru, ketika pengalaman hidup menjadi berkat bagi orang lain?
Tuhan tidak mengukur kehidupan dari seberapa lama seseorang memegang jabatan, tetapi dari seberapa setia ia mengerjakan panggilan yang dipercayakan kepadanya.
Kesimpulan
Emeritus bukanlah garis akhir pelayanan. Emeritus adalah babak baru dalam perjalanan iman.
Jabatan boleh berakhir.
Tugas administratif boleh selesai.
Tetapi panggilan untuk mengasihi Kristus, membimbing sesama, mendoakan gereja, dan menjadi teladan tidak pernah berakhir.
Karena di dalam Kerajaan Allah, seseorang boleh emeritus dari jabatannya, tetapi tidak pernah emeritus dari panggilannya sebagai murid Kristus.
Tetaplah berhati muda.
Tetaplah setia.
Tetaplah menjadi terang bagi generasi yang sedang berjalan di belakang kita.
Sebab mahkota kehidupan diberikan bukan kepada mereka yang memulai dengan baik, melainkan kepada mereka yang tetap setia sampai akhir.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Penulis: Ps. Welly Massie


